Kegagalan adalah keniscayaan. Ya, jika sesuatu adalah absurb dan tidak jelas, dengan potensi mewujudkan paradigma yang beragam menjadikan pondasi pemahaman yang akan multi persepsi. Kebenaran menurut paradigma tertentu ketika mindset dirubah sehingga paradigmanya berubah pula maka kebenaran sebelumnya akan menjadi ketidak benaran.

Dan kondisi ini akan muncul di berbagai bidang : Sosial-Budaya, Politik, Ekonomi, Militer dll. Berlangsung terus-menerus dan jika terjadi penguatan pada kelompok tertentu hal ini akan menjadi Tirani, memaksakan paradigma terhadap kelompok lain yang berbeda. Jika penguatan terjadi pada lebih dari satu kelompok, maka yang terjadi adalah Konflik yang tidak mungkin akan dihindari, tanpa ada satupun yang mampu memutusan perkara berdasarkan kebenaran hakiki, maka kekuasaanlah yang kemudian akan memaksakan, siapapun itu yang paling kuat dan berkuasa dialah yang memputuskan untuk pembenaran.

Keadilankah… Tidak mungkin, karena keadilan bukanlah kekuasaan. Karena keadilan berdasarkan penguasa adalah Keadilan Tirani. Keadilan berdasarkan paradigma yang disesuaikan, adalah keadilan yang nisbi. Sedangkan hakikat Keadilan adalah Kepastian. Kepastian dari Yang Maha Adil.

Sehingga Nisbilah, hilanglah, sirnalah harapan bagi yang dikuasai (rakyat) untuk mewujudkan dan mendapatkan keadilanya. Harapan mewujudkan keadilan pasti Gagal Total.

Pancasila adalah filsafat kekuasaan penuh dengan ketidak jelasan, absurb. Siapapun bisa menggunakan Pancasila sebagai sumber aplikasi (manifesto) politik berdasarkan paradigma masing-masing. Liberal, Komunis, Kristen, Yahudi, Amerika, bahkan pencopet dan germo psk pun bisa. Apalagi sekaliber Soekarno yang berpendidikan dan propagandais dengan kharisma yang hebat saat ber orasi. Pancasila bagi Soekarno adalah Marhaenis (het in indonesie marxism = Marxisme yang di Indonesiakan, dlm buku Dibawah Bendera Revolusi) bagi seorang Wahid Hasyim Pancasila adalah Islam, semua yang ada didalamnya adalah Islami (padahal kata Ketuhanan sangat multi persepsi) bagi “Orang dari Indonesia Timur” Pancasila adalah Kristen, seluruh sila-silanya adalah ajaran dari Yesus Kristus, begitu pula orang Hindu berpandangan sama, dan seluruh ideologis yang saat itu ada seperti Komunis, Sosialis, Liberalis, termasuk Natsir yang dianggap mewakili Islam Modernis sama, Bahwa Pancasila adalah Ideologi Negara yang mewakili Ideologi dirinya.

Maka sejak saat itulah Pancasila berhasil menjadi Kubangan Lumpur yang dianggap obat dari sakit yang berkepanjangn akibat penjajahan yang panjang. Bejana yang didalamnya bercampur obat dan racun sekaligus, bakteri dan virus dicampur dengan air bersih dan madu. Dengan sedikit retorika para pemipin haus kekuasan pada sidang akhir PPKI, Pancasila berhasil mempersatukan yang haq dan yang batil. Dikuatkan lagi oleh Soekarno di Dekrit Presiden 5 Juli 1958.

Berganti Rejim berganti pula fungsi Pancasila sebagai alat Tirani. Bukan hanya sebagai Ideologi Politik yang dipaksakan (meski semua menyadari Ideologinya tidak jelas) maka Pancasila dijadikan oleh Soeharto sebagai alat penindas untuk melancarkan kekuasaanya. Semua musuh politik yang dianggap akan menghambat kekuasaannya dibantai dengan dalih anti Pancasila.

Seperti badai dan air bah menyapu bersih para pemimpin serta kelompoknya yang bersebrangan, dibantai dan dipenjarakan. Yang pengecut cepat-cepat melucuti label-label yang berbau anti pancasila (anti kekuasaan menurut soeharto), baik Partai maupun Ormas yang pemimpinnya takut mati demi nikmatnya dunia dengan serta merta setia pada Pancasila (Toh Pancasila kan Islami, Kristen, Liberal, sosialis dll)

Paska Reformasi setelah Soeharto yang mengaku paling Pancasilais dihabisi kekuasaanya, munculah pemimpin-pemimpin pandir sok Demokratis, yang berideologi Pancasila bukan(Jargon Pancasila sudah mulai tidak populer) yang lainpun bukan (karena takut salah jargon). Pemimpin Reformasi adalah pemimpin paling samar-samar dalam sejarah kepemimpinan di Indonsia, Ada yang Islam samar-samar(karena mirip liberal), Marhaenis samar-samar (karena mirip kapitalis) Kapitalis samar-samar (karena tidak pernah berani mengakui bahwa dirinya seorang kapitalis liberal).

Negara dipimpin dengan kesembrawutan, memunculkan keputusan-keputusan yang saling bertentangan satu dengan lainnya. Politik acak-acakan karena semua permasalahan serba dibahas dengan hasil yang tidak jelas (memunculkan masalah baru). Politik yang membingungkan, entah rakyat mau dibawa kemana, dan ironisnya mereka (rakyat) seperti mendapatkan euforia baru dalam pesta yang berkepanjangan.

Saking bingungnya mereka (rakyat) merasa terjaga dan menemukan ekstasi kebebasan. Saking bodohnya ketidak adilan yang jelas nampak, terlihat seperti “kenikmatan”, kenikmatan dalam penindasan.

Keadilan Hakiki untuk rakyat…. jauh panggang dari api. Tetap tidak terjangkau, malah bertambah imajiner, seperti sebuah mimpi panjang yang tidak pernah bisa terjaga. Rakyat tetap didalam sebuah pesta penindasan yang indah. Rakyat menikmatinya. Pemimpin lebih bebas lagi untuk menikmatinya.

Pancasila tetap menjadi segelas arak yang menenangkan dan memabukan. Demokrasi Pancasila telah berhasil menjadi senjata iblis yang paling hebat di Indonesia, dan keadilan bagi rakyat jelas telah gagal, dan jangan pernah berharap keluar dari kegagalan.

 

Advertisements