Ada yang mengatakan bahwa ‘’Islam itu Ukhorwi tidak Duniawi, kita hidup untuk akhirat bukan menyibukkan diri mengurus duniawi’’ Orang ini menyatakan separuh kebenaran. Kalau yang mereka fahami bahwa Islam itu isinya Cuma sholat, shoum dan dzikir, bolehlah dikatakan Cuma untuk akhirat[1]. Tapi ingat bahwa dalam Islam itu ada aspek aspek hukum yang mengatur orang banyak, bukan hanya yang mukmin tapi manusia seluruhnya. Dan KITA diperintahkan oleh Alloh untuk mengadili mereka semuanya berdasarkan wahyu [S.4:105].

Dimana perintah ini harus dilakukan ? ? Jelas di dunia, sebab kalau di akhirat, bukan kita lagi yang diberi wewenang, Alloh sendiri yang akan mendemonstrasikan keadilanNya[2]. Nah, semakin ikhlas seseorang, maka tentu akan semakin besar perhatiannya terhadap berlakunya segenap perintah Alloh, baik yang menyangkut dirinya ataupun yang selain itu. Bertekad mengurus dunia dengan Islam, mengelola pemerintahan berdasar Islam bukanlah berarti menuntut pamrih, tetapi melaksanakan tugas !

Sejak dahulu para musuh Islam, sengaja melempar gagasan yang melumpuhkan muslimin dari tanggung jawabnya, dengan cara memutar Quran dan hadits nabi menjadi alat menina bobo, seperti :

∞ Dunia adalah musuh iman, orang orang yang beriman diwanti wanti oleh Alloh agar tidak terpedaya dengan dunia yang penuh tipu daya dan melalaikan orang dari ibadah. Karena itu semakin tho’at seseorang pada seruan Alloh, maka akan makin jauh dirinya dari memperhatikan dunia, serta semakin penuh perhatiannya pada urusan urusan akhirat.

∞ Dunia ini hina, sampai diibaratkan nabi seharga dengan bangkai kambing yang putus telinganya. Orang  yang berlomba-lomba mengurus dunia, ibarat anjing yang mengerumuni bangkai.

∞ Ada hadits riwayat Muslim, bahwa Rosululloh SAW bersabda : ‘’Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan syurga bagi orang kafir’’. Kemudian hadits ini mereka artikan, jika demikian maka biarlah orang kafir bersenang senang dengan dunianya, sedang kita harus membatasi keterlibatan diri dengan dunia seminimal mungkin [namanya juga ibarat dipenjara]. Sebab dunia bukan tempat kita sebenarnya, tempat yang disediakan buat kita adalah di syurga, di akhirat !

∞ Kalau anda memang ikhlas, tumpukan seluruh perhatian pada nasib anda di akhirat, jangan pedulikan nasib anda di dunia. Kalau anda malu berpakaian buruk, merasa hina karena tidak punya kedudukan, tidak rela dihina orang, marah jika orang menganggap sepi diri anda, maka berarti hati anda masih kotor ! Sebab orang ikhlash itu mencukupkan diri dengan pandangan Ilahi, walaupun seluruh manusia memandangnya tiada arti.

Anda tahu kemana arah semua pembicaraan ini ? Tentunya agar mereka semakin bebas berkeliaran di muka bumi, melampiaskan seluruh hawa nafsunya, tanpa terganggu oleh rasa tanggung jawab mukminin [yang diwajibkan Alloh mengelola dunia berdasar Islam].

Pemikiran pemikiran beracun seperti di atas disuntikkan penjajah dan merebak di hampir seluruh tanah yang diinjak kaum muslimin. Akhirnya mayoritas muslimin tidak peduli lagi dengan kiprah dirinya di dunia. Akibatnya mereka kehilangan tempat untuk melaksanakan ajaran Islam ! Apalah artinya konsep yang hebat, bila telah kehilangan tempat mempraktekkannya[3].

Ketidak pedulian muslimin pada tempat praktek hukum Islam [dunia] semakin menjadi jadi dengan beredarnya ribuan hadits palsu ke dalam buku buku dan khutbah khutbah para ulama mereka yang takluk dipangkuan Darul Kuffar !

Ada orang yang berkata bahwa ‘’Muslimin tidak perlu berharap pahala segera di dunia, sebab semakin kurang ia mendapat perolehan di dunia, akan semakin sempurnalah pahalanya di akhirat, dan begitulah cermin ikhlash !’’

Pada mereka sekarang kita kembali bertanya, Apa yang anda fahami tentang ikhlash ? Jika yang anda maksud dengan ikhlas adalah penuh menyibukkan diri dengan urusan akhirat, hingga tidak lagi sempat sedih dengan penuhnya bumi dengan tata aturan non wahyu. Habis waktu untuk sholat dan dzikir, tanpa peduli mungkar dan makshiyyat yang terjadi akibat tidak berlakunya hukum Islam. Asyik membaca Quran, walaupun ia telah lama tidak jadi undang undang. Tawadhu menundukkan wajah ke bumi, yang kini telah menjadi Darul Kuffar. Terus berdzikir sambil menyaksikan satu demi satu Daulah Islamiyyah terkubur Cuma tinggal sejarah.

Maka jika demikan, sungguh bahagia syetan menyaksikan banyaknya orang orang ‘ikhlash’ seperti anda, dan betapa Daulah Islamiyyah makin terpojok dengan ‘ikhlash’ anda yang jadi pupuk bagi berkembang pesatnya Darul Kuffar yang anda tentram bernaung dan membangun di dalamnya.

Mungkin kita berbeda definisi tentang ikhlash tadi. Sebab bagi kami warga Daulah Islamiyyah berjuang, ikhlash berarti rela berkorban apa saja untuk tegaknya kaliimatulloh ! Terus maksimal bekerja untuk Negara, walaupun tidak digaji. Tidak berhenti berjuang walaupun sepi yang memuji, riuh yang mencemoh [S.5:54]. Tetap aktif mensukseskan program Ilahi : Memenangkan Dienul Islam di bumi, walaupun orang kafir, musyrik atau yang seperti anda terus terusan membenci ! [S.9:33,S48:28,S.61:9].

Orang mukmin yang ikhlas tetap punya harapan dengan amalnya di dunia ini, dan ini disyaratkan oleh Alloh sebagai awwal datangnya kemenangan. Sebab jika harapan saja sudah tidak punya, bagaimana mungkin muslimin bisa diandalkan berkarya besar di dunia untuk Ilahi ? ?

Orang orang kafir berkata pada rasul rasul mereka : ‘’Kami sunggguh sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami, atau kamu kembali kepada millah [way of life, tatanan yang berlaku, kepercayaan, ideology] kami. Maka Alloh mewahyukan kepada mereka : ‘’Kami pasti akan membinasakan orang orang dzalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri negeri itu sesudah mereka.

Yang demikian itu adalah untuk orang orang yang menghormati [menjaga kewibawaan] kedudukan Ku dan takut pada ancaman Ku dan mereka memohon kemenangan atas musuh musuh mereka [S.14:13-15]

‘’Dan ada lagi karunia lain yang kamu sukai, yaitu pertolongan dari Alloh dan kemenangan yang dekat waktunya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang orang mukmin’’ [S.61:13]

Dan Alloh telah berjanji kepada orang orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal amal sholeh bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka Dien yang telah diridhoiNya untuk mereka [Al Islam lihat S.5:3], dan Dia benar benar akan menukar keadaan mereka, dari takut menjadi aman sentausa…’’ [S.24:25]

Nah, dari tiga ayat di atas saja, nyata bahwa harapan target jangka pendek itu nyata adanya, bahkan dengan ada harapan itulah orang terus berjuang. Sekarang, mana dalil anda yang mengharamkan adanya harapan duniawi, barangkali dari musuh yang menghendaki mukminin berhenti berjuang ? Memalukan …….

[1] Walaupun sebenarnya tidak juga, sebab semua ibadah sebenarnya merupakan latihan, pemantapan mental untuk melakukan tugas tugas besar di dunia ini. Orang didisiplinkan sholat agar hebat kemampuannya dalam menegakkan yang ma’ruf dan memberantas yang munkar. Orang diperintahkan shoum agar lebih ulet teguh, tabah [shabar] dalam menghadapi berbagai problema hidup/permasalahan uang yang dihadapinya di dunia. Bila semua amalan tadi dipisahkan dari kemanfa’atan dunianya. maka ia kehilangan ruh amalnya ! Silahkan baca Dasar Dasar Islam karya Abul A’la Maududi [Pustaka Salman].
[2] Yang benar, kita ini harus sibuk mengurus dunia, bukannya sibuk mengurus akhirat. Sebab urusan akhirat bukanlah urusan kita, di akhiat justru kita yang diurus. Jika berhasil mengurus dunia berdasarkan Islam, akan diurus baik, sebaliknya jika gagal mengurus dunia dengan Islam, maka kita tetap akan diurusNya, tapi dalam kepedihan tiada tara, na’udzubillahi min dzalik ! Orang yang ingin menyibukkan dri dengan urusan akhirat, padahal kaki masih berpijak di dunia. nyata sedang mengkhayal. Perhatikanlah urusan dunia, apa sudah tertata sepenuhnya berdasarkan Islam. Jangan lari dari kenyataan, berpaling pada yang sebenarnya bukan tugas kita untuk mengurusnya !!
[3] Di sana sini Islam hanya jadi pelengkap system kehidupan lain. Seperti anak yatim yang tidak bisa hidup kalau tidak dilindungi dan diurus pihak lain. Celakanya, anak yatim islam itu kini banyak diurus bapak dan ibu tiri yang kafir. Jadilah pemeluknya anak anak durhaka yang tidak lagi tahu kewajibannya berbakti pada orang tua Islam yang seharusnya mereka bela. Subhanalloh……
Advertisements