Orang yang bersungguh-sungguh hendak merealisasikan cita-citanya melalui perjuangan yang gigih disebut dengan Mujahid. Ada dua macam kegigihan, yaitu melalui kegigihan di jalan الله dan kegigihan di jalan thogut (QS. 4 : 76).

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.(QS. 4 : 76).

Karena itu Mujahid juga terbagi menjadi dua kelompok : Mujahid di Jalan الله dan Mujahid di jalan Thogut. Kedua belah pihak sama-sama berjuang dengan sungguh-sungguh baik dengan harta, nyawa maupun dengan dirinya sendiri demi tercapainya tujuan yang telah dicanangkan masing-masing.

Keduanya secara structural tidak akan menjadi satu walaupun secara kekerabatan satu darah (QS. 58:22).

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.(QS. 58:22).

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.(QS. 58:22)

Karena itu masing-masing kelompok ini akan saling bahu membahu, saling memperkuat diri. Semakin kuat dirinya, semakin eksis, semakin lemah dirinya semakin tenggelam ditelan sejarah. Pada kondisi seperti ini, maka kemenangan atau kekalahan tidak diukur dari siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi diukur dari kesolidan struktur masing-masing. Semakin terorganisir, semakin memiliki peluang untuk bisa mengalahkan. Ali ra, pernah berkata: “Kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir”.

Kemampuan mengorganisir tidak ditentukan oleh jumlah personil yang ada tetapi lebih ditentukan oleh kualitas tiap-tiap personil. Apalah artinya bangga dengan jumlah kalau hanya akan menjadi batu sandungan perjuangan. Bukankah perjuangan para Rasul didukung oleh para Mujahid yang jumlahnya sepersepuluh lebih sedikit dibanding musuhnya (QS. 8:65)?

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.(QS. 8:65)

Bukankah di Al Qur’an tertulis bahwa “Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan seizin الله ” (QS. 2:249).

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. 2:249).

Bukankah الله juga berjanji akan membinasakan kebathilan meskipun memiliki  kekuatan yang besar? (QS. 43:8).

فَأَهْلَكْنَا أَشَدَّ مِنْهُمْ بَطْشًا وَمَضَىٰ مَثَلُ الْأَوَّلِينَ

 Maka telah Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya dari mereka itu (musyrikin Mekah) dan telah terdahulu (tersebut dalam Al Quran) perumpamaan umat-umat masa dahulu.(QS. 43:8)

Maka sudah barang tentu bagi para Mujahid bahwa bekal yang pertama dan utama adalah himmah atau semangat memandaikan diri.

Rasa-rasanya tidak pantas menyandang gelar Mujahid kalau hanya bisa “nyandong” menengadahkan tangan menunggu materi dari Murobinya. Kalau Murobi tidak hadir atau tidak memberi materi, maka ilmunya juga tidak bertambah meski sedikitpun. Mujahid seperti ini cepat-cepatlah istighfar minta ampun kepada الله karena ia telah menjadi beban perjuangan. Secara tidak sadar ia telah menghambat perjuangan karena para Murobi terpaksa harus berhenti sejenak untuk menerangkan hal-hal yang semestinya bisa diperoleh dengan cara belajar sendiri atau belajar di luar. Sebab seorang Mujahid harusnya juga seorang Mujtahid. Maksudnya seorang yang sedang bersungguh-sungguh berjuang (Mujahid) dia harus memiliki daya kreasi yang tangguh yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah untuk mensukseskan perjuangan itu. Mujahid yang memiliki kreatifitas atau taktik berjuang dalam bahasa fiqh disebut dengan Mujtahid. Sedang buah pikirannya disebut ijtihad. Untuk bisa menjadi Mujahid yang Mujtahid memerlukan bekal yang memadai. Untuk mendapatkan bekal yang memadai, para Mujahid diharuskan secara mandiri mencari dan mengembangkan ilmunya. Kalau setiap Mujahid bisa berbuat demikian,  الله انشا   ia termasuk mereka yang menguatkan, memuliakan dan mensucikan Din-Nya (QS. 48:9)

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.(QS. 48:9)

dan tidak lagi menjadi beban perjuangan. Sebab ia tidak lagi menjadi “pengangguran” di negaranya sendiri. Ia telah bisa tampil di depan. Ia telah berbuat sesuai dengan kemampuan dan keahlian di bidangnya masing-masing. Ia tidak lagi minta “disuapi” terus-terusan oleh Murobinya atau Aparat yang terkait tetapi berbekal keyakinan akidah yang sholihah dan pertolongan الله semata. Ia menjadi corong kebenaran sebagaimana Mushab bin Umair bisa mandiri dan berhasil menyiapkan lahan bagi berseminya Islam di bumi Madinah, bumi yang pertama-tama tegak hukum islam di dalamnya.

Untuk bisa mencapai hal di atas, para Mujahid perlu memiliki beberapa kesadaran seperti di bawah ini:

  1. Kesadaran Ulul Albab
  2. Kesadaran Ibadah
  3. Kesadaran Kenegaraan
  4. Kesadaran Struktural
  5. Kesadaran Tugas
  6. Kesadaran Maisyah
  7. Kesadaran Keluarga
  8. Kesadaran Masyarakat
  9. Kesadaran Intelijensi
  10. Kesadaran Kesabaran
Advertisements