STATEMENT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia 7 September 1950

Bismillahirrahmanirrahim STATEMENT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia Barang disampaikan Allah kiranja kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah-air, di seluruh Indonesia. Sembojan : Bawalah Ummat Islam Bangsa Indonesia ke arah Mardlotillah. Kalau perlu dengan paksa! Pedoman : Tiada wadjib dan tugas jang maha sutji, melainkan hanjalah wadjib dan tugas: “Menggalang Negara Kurnia Allah” Negara Islam Indonesia. Hal : Tindjauan dan Sikap-Pendirian Kedepan Assalammu’alaikum warahmattullahi wabarakatuh 

1. Alhamdulillah! Sekalian pudji kepada Dzat Jang Maha Kuasa, jang telah berkenan memberi perlindungan, kekuatan dlahir bathin, hidajat dan taufiq jang sempurna, sehingga pada setiap hambanja terbukalah kesempatan jang seluas-luasnja untuk melakukan tugas sutji, tugas Ilahy. Allahumma! Ijjakaa na’budu, wa ijjaka nasta’in ihdinas-sirathal-mustaqim! Bismillahi, tawakalna ‘ala-Llah, lahaula wala quata illa bi-Llah!

2. Situasi dunia pada dewasa ini merupakan minjak dalam periuk, jang sekelilingnja penuh dengan api jang lagi menjala-njala, jang setiap sa’at dapat mendjilat kepadanja. Praktis, perang Dunia ke III sudahlah dimulai, sedjak mula petjah Perang Korea, 25 Djuni 1950. Hanjalah baru sampai kepada tingkatan pertama (eorste stadium). Sedikit waktu lagi, djika perang telah di’umumkan oleh salah satu pihak —blok Amerika atau blok Russia—, maka pada sa’at itu pula seluruh dunia terlibat dan terseret da-lam api peperangan jang maha dahsjat, jang orang belum dapat mengira-ngirakan, betapakah gerangan perdjalanan proces-dunia itu dan ‘akibat daripadanja. 

3. Sepandjang hitungan manusia, maka petjahnja Perang Dunia ke III tidak akan djauh lagi, bahkan agaknja amat dekat sekali. Wallahu ‘alam. Hanja Allah pulalah jang mengetahui. 

4. Djika terdjadi Perang Dunia ke III itu dengan idzin Allah djua —, maka automatis menjalalah Revolusi Dunia. Revolusi jang akan timbul dalam tiap2 negara. Djuga di negara kita, “Indonesia”. Insja Allah. 

5. Pada sa’at ini kita belum perlu memperhitungkan pihak mana ang menang atau kalah, atau belum perlu pula mengira-ngirakan atau meramalkan ‘akibat daripada Perang Dunia ke III itu, melainkan sementara ini tindjauan kita akan terbatas kepada nasibnja Negara dan Agama di tanah air kita sendiri, dimasa mendatang jang dekat. 

6. RIS dalam bentuk lama atau baru (RIS baru) dapatlah neutral dalam Perang Dunia ke III jang akan datang? Sepandjang perhitungan politik internasional, maka mau tidak mau RIS akan terseret dalam Perang Dunia itu. Dan kalau RIS ikut serta dalam Perang Dunia j.a.d., maka ia akan memihak pada blok Amerika. Demikian perhi-tungan ahli politik dan militer hingga pada sa’at ini, dengan perhitungan “kans” 90%.

7. Sementara itu, tiap pihak, terutama jang berideologi —Islamisme, Nasionalisme dan Komunisme—, sudahlah membuat persiapan, dalam tiap-tiap lapangan, meng-hadapi setiap kemungkinan dimasa amat kritis itu.Dengan keadaan jang demikian, maka tiap-tiap manusia jang suka mempergunakan akalnja dapatlah mengira-ngirakan, betapakah gerangan peristiwa2 jang akan terdjadi selama masa kritis itu. Dalam penglihatan kita, sedikitnja akan terdjadi. Perang Segi-Tiga antara Islamisme, Nasionalisme dan Komunisme. Belum terhitung pihak Belanda, jang rupanja tidak akan “diam”. Periksalah kembali :
(1) Peristiwa Westerling,
(2) tangkapan atas Sultan A. Hamid II,
(3) peristiwa-Makasar, sedjak Abd. Azis hingga jang achir-achir ini,
(4) sual Republik Maluku Selatan,
(5) dll lagi. Perampok, Perampas, Pentjuri, Pentjulik dlls., jang tentulah akan mengambil kesempatan untuk memainkan “rol”-nja. Wal-hasil— akan terdjadi huru-hara, dengan berbagai ragam dan arah-tudjuan-nja.
 

8. Nistjajalah daripada pihak ‘arif-budiman, ahli-politik dan filsafat, dan lain-lain pihak “pacifisten” (Tjinta damai, dengan atau tidak dengan alasan) akan tjoba2 meng-hindarkan dunia dari api peperangan dan api bara revolusi itu. Tapi, Insja Allah, rupanja usaha jang tampaknja “humanistis” atau “mono-humanistis” itu tidaklah akan berhasil. Karena dunia sendirilah jang telah berabad lamanja mengandung ‘anasir2 “kotoran-dunia”, jang menjebabkan tumbuhnja perang dunia dan Revolusi Dunia itu. Kiranja belum tjukup kotoran2 dunia itu dibasmi dan dienjahkan selama Perang Dunia ke I dan ke II. Melainkan sepandjang perhitungan sjari’at, maka per-lulah —bahkan hampir “wadjib”— tumbuhnja Perang Dunia ke III dan Revolusi Dunia itu. Pendek-pandjangnja “selama Ke’adilan Allah, dengan di dunia damai, aman dan tenteram”.

9. Apakah jang mendjadi “maf’ul” (objekt) terpenting dalam dan selama “huru-hara” itu? 1) Perebutan Kekuasaan 
A. Pihak Pemerintah RIS atau RI baru, akan mempertahankannja.
 
B. Pihak Komunis akan “menjerobot”, dengan “coup d’etat” (perampasan kekuasaan —batjalah: Kup-de-ta), militer dan politis.
 
C. Pihak jang lainnja pun tidak akan ketinggalan. Apalagi Negara Islam Indonesia/Ummat Islam Bangsa Indonesia jang sudah memproklamirkan kemer-dekaanja, pada tanggal 7 Agustus 1949.
 2) Perebutan Daerah. Masing2 tentulah mentjari daerah, sebagai basis, dan pangkalan. Periksalah: Manifest Politik No. I/7, 26 Agustus 1949; Bab VIII, angka 6, 7 dan 8, Ichtisar III! 3) Perebutan Ra’jat Dalam hal ini Ra’jat harus pandai menentukan nasibnja sendiri. 
A. Pihak RIS atau RI baru, akan “menasionalisirnja”.
 Pandangannja terhadap Agama jang manapun “neutral”. 
B. Pihak Komunis —jang sementara itu mungkin memproklamirkan “Republik Sovjet di Indonesia”— akan “memper-komunis-kan”-nja. Pendirian pihak ini terhadap semua agama “anti”. Djadi kalau ada pihak Komunis “tidak anti agama”, maka mereka itu adalah komunis palsu atau gadungan. Agama dipa-kai “kamuflase” (kedok), bagi memikat hati ra’jat. Awaslah! dan Waspada!
 
C. Pihak Negara Islam Indonesia/Islam akan “meng-Islamisir”-nja hingga “Islam-minded” dan Allah minded” 100%. Lebih landjut, periksa dan banding-kanlah dengan karangan Huru-Hara “Mendjelang Dunia Baru”, Darul Islam, atau Negara Islam Indonesia”, k. 18 – 25, k. 35 – 49 dan karangan Abu Darda “Ad-Daulat-Ul-Islamiyah”, k. 18 – 32 !
 

10. Tiap2 sesuatu ada batasnja; ada pangkal dan ada ujungnja. Demikian pula tentang satu wadjib sutji, jang bernamakan “Djihad”, menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia. Adapun batas “Istitha’ah” dalam melakukan Djihad, tegasnja: Udjungnja wadjib djihad bagi tiap2 Muslim dan Mukmin, terutama Mudjahid, dan bagi seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia, ialah sampai kepada terdjadinja Damai Dunia. Lebih tegas lagi, djika dikatakan: Apabila sampai kepada waktu dilangsungkan Per-djandjian damai (Vredos-Verrag) bagi seluruh dunia, kemudian dari pada selesainja Perang Dunia ke III dan Revolusi dunia jang akan datang, Ummat Islam Bangsa Indonesia masih djuga belum mempunjai milik menerima Kurnia Allah jang maha besar berwudjudkan negara islam Indonesia, maka waktu jang amat berharga bagi seluruh Ummat Islam itu, untuk melakukan wadjib sutji, sudahlah lampau. Djangan diharapkan, bahwa dalam waktu 10, 100, atau 1000 tahun lagi, kita akan menemui sa’at “mustari”, sa’at kritik jang serupa itu. Sa’at petjahnja Perang Dunia hingga damai Dunia, sa’at dimana Allah akan menentukan nasibnja tiap2 Ummat. 

11. Walaupun kita jakin dengan se-penuh2 kejakinan, bahwa pada sa’at jang mustari itu — ‘ibarat lailatul-qadar– Allah akan mendjurahkan Anugerah dan Kurnianja jang maha besar itu, jang sedikitnja merupakan “Negara Basis” atau “Madinah Indonesia”, dan lebih djauh “Daulatul-Islamiyah”, tapi mungkin Allah bewrkenan sebaliknja dari pada itu. Maka timbullah pertanjaan dalam hati kita masing2: “Apakah gerakan sikap kita, Ummat Islam bangsa Indonesia, djika sampai pada sa’at jang terachir itu, Ummat Islam bangsa Indonesia tidak mempunjai milik untuk menerima Kurnia Allah jang maha-besar itu?” Djawabnja dengan ringkas: 
1) Djika terdjadi demikian, maka anggapan itu dalam anggapan Ummat Islam Bangsa Indonesia berarti “Qijamah”, Qijamah wustha atau Qijamahnja suatu Ummat dan Bangsa. Qijamah dalam pandangan hukum, karena pada waktu itu bukanlah hukum2 Allah jang sutji jang berlaku di Dunia, melainkan hukum manusia, hukum dahry, hukum kuffar.

2) Sedang djika hukum (stelsel) jang berlaku di dalam suatu negara ‘bukan hukum Allah”, maka haramlah bagi tiap2 Muslim dan Mu’min, terutama Mudjahid hidup di dalamnja. 
3) Haramlah hukumnja bagi tiap2 Muslim dan Mu’min dan Mudjahid, didjadjah oleh siapa dan berwudjud bagaimanapun djuga, terutama djika didjadjah dalam ideologi.
 
4) Oleh sebab itu, djika kedjadian sesuatu jang tidak kita harapkan itu, maka sikap tiap2 Muslim, Mu’min dan Mudjahid, hanja satu dan jang penghabisan:
 Juqtal au Jaghlib Atau dengan kata lain : Membasmi segala kafirin dan kekufuran hingga habis/ musnah dan Negara Kurnia Allah berdiri dengan tegak teguhnja dibumi Indonesia. Atau mati sjahid dalam Perang Sutji! 

12. Semoga Allah berkenan membenarkan dan meluruskan perdjalan Ummat Islam Bangsa Indonesia, dalam menunaikan wadjib dan tugas sutjinja: menggalang NE-GARA KURNIA ALLAH, Negara Islam Indonesia! Insja Allah, Amin.

13. Inna fatahna laka fat-ham mubina …. Insja Allah. Bismillah …….. Allahu Akbar! Mardlotillah, 7 September 1950 24 Dzul-qaidah 1369 KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG PEMERINTAH NEGARA ISLAM INDONESIA,Imam/Plm.T.: S.M. KARTOSOEWIRJO

Statment tersebut diatas dibuat oleh Imam Asy Syahid pada tanggal 7 September 1950, dalam hal ini pernyataan Imam merupakan dasar pemahaman bagaimana Tentara Islam Indonesia (TII) harus berjuang. Dan harus seperti apa TII melaksanakan perjuangannya seandainya kondisi dimana Darul Islam tidak mampu lagi dipertahankan. Haramlah hukumnja bagi tiap2 Muslim dan Mu’min dan Mudjahid, didjadjah oleh siapa dan berwudjud bagaimanapun djuga, terutama djika didjadjah dalam ideologi. Pernyataan ini haruslah tergores didalam hati sanubari TII.

Paska syahidnya Imam Kartosuwiryo maka fitnah melanda NII. Ketidak pastian kepemimpinan dan hukum menjadikan gerakan Jihad sempat tertunda. Padahal seharusnya tentu tidak harus demikian jika semua mujahid kembali kepada arahan Imam jika huru-hara tersebut terjadi. Dan Imam pun berwasiat :

WASIAT IMAM NEGARA ISLAM INDONESIA S.M. KARTOSOEWIRJO

Bismillahirrahmaanirrahiim

Wasiat Imam pada pertemuan dengan para Panglima/Prajurit (Mujahid) pada tahun 1959 diantaranya berbunyi : “Saya (Imam) melihat indikasi bencana angin yang akan menyapu bersih seluruh mujahid kecuali yang tertinggal hanya serah/biji mujahid yang benar-benar memperjuangkan/mempertahankan tetap tegaknya cita-cita Negara Islam Indonesia, sebagaimana diproklamasikan tanggal 7 Agustus 1949. Di saat terjadinja bencana angin tersebut ingatlah akan semua wasiat saya ini :

1. Kawan akan menjadi lawan, dan lawan akan menjadi kawan.

2. Panglima akan menjadi Prajurit, Prajurit akan menjadi Panglima.

3. Mujahid jadi luar Mujahid, luar Mujahid jadi Mujahid.

4. Jika mujahid telah ingkar, ingatlah;”Itu lebih jahat dari iblis”, sebab dia mengetahui strategi dan rahasia perjuangan kita, sedang musuh tidak mengetahui. Demi kelanjutan tetap berdirinya Negara Islam Indonesia, maka tembaklah dia.

5. Jika Imam berhalangan, dan kalian terputus hubungan dengan Panglima, dan yang tertinggal hanja Prajurit petit saja maka Prajurit petit harus sanggup tampil jadi Imam.

6. Jika Imam menyerah tembak saja, sebab itu berarti iblis. Jika Imam memerintahkan terus berjuang, ikuti saja sebagai hamba Allah SWT.

7. Jika kalian kehilangan syarat berjuang, teruskanlah perjuangan selama Pancasila masih ada, walaupun gigi tinggal satu, dan gunakanlah gigi yang satu itu untuk mengigit.

8. Jika kalian masih dalam keadaan jihad, ingat rasa aman itu, sebagai racun.

Wasiat di atas seharusnya dipegang oleh setiap Tentara Islam, sebagai amanat perpisahan, dimana sekalipun setelah ini mereka tidak lagi bertemu dengan Imam. Perjuangan tidak boleh terhenti apalagi menyerah, sebab selama kebathilan masih tegak, maka selama itu perlawanan harus dilanjutkan, sekalipun yang tersisa tinggal satu gigi, maka gunakanlah gigi yang tinggal satu itu untuk menggigit!

Maka tidaklah sepatutnya jika fitnah di kalangan NII ini dapat terjadi, dan tidak sepatutnya pula kita mengalami kekalahan perang dalam arti dijajahnya kembali ideologi kita (islam) oleh pancasila (thogut), karena lebih baik kita berkalang tanah serta bersimbah darah daripada menjadi budak-budak musuh kita dan melaksanakan dengan terpaksa hukum-hukum yang seharusnya kita hancurkan.

Akan tetapi Allah Dzuljalaliwalikrom telah menggariskan perjalanan berikutnya untuk dijadikan cobaan bagi siapa yang sungguh-sungguh bertaubat di jalan Allah dan yang bersungguh-sungguh berjihad di jalanNya. Perjuanganpun dilanjutkan pada era 70-an. Perekruitan mujahid-mujahid baru serta pelatihan-pelatihan juga stukturisasi barisan berlangsung dengan hati-hati, dan strategi berbahayapun mulai dilaksanakan. Dimana beberapa Jendral TII melakukan kerjasama politis dengan Jendral RI (Ali Murtopo) yang pada jaman penjajahan Jepang sama-sama di dalam barisan Hizbullah. Dia (Ali Murtopo) telah menjanjikan persenjataan 1 batalyon penuh untuk mempersenjatai TII dengan syarat memerangi Komunis yang disinyalir mulai melakukan gerakan bersenjata bawah tanah. Akan tetapi isu ini adalah buatan Intelegen Republik yang mencoba memancing kemampuan dan kekuatan TII yang dideteksi mulai merapatkan barisan kembali. Seiring dengan itu para Jendral TII mulai menkonsolidasi struktur militer untuk persiapan kembali Basis Teritorial (D1/Darul Islam) dan sepakat membentuk dua wilayah baru, yaitu Wilayah 8 (Lampung) untuk dijadikan D1 dan Wilayah 9 (Jakarta dan Banten) untuk dijadikan sumber kekuatan dana.

1978 adalah tahun suram bagi NII. Penghianatan Jendral RI mulai direalisasikan, isu komando jihad (komji) mulai dihembuskan, beberapa jendral TII di tangkap, ratusan prajurit TII di tangkap dan dieksekusi mati ditempat, ratusan lainnya melarikan diri ke luar negeri (dengan sekenario melanjutkan sekolah atau bekerja). Meskipun bendera bulan sabit pernah dikibarkan di Lampung oleh Warman (salah satu TII) dan kelompoknya, akan tetapi jumlah tentara TII yang hanya sedikit saat itu dengan mudah di berantas oleh TNI. Inilah cobaan terbesar setelah kekalahan perang 1962. Akan tetapi Allah Al Malikulmulki, Dialah Yang Maha Berkuasa untuk kembali memberi cobaan kepada para mujahid Nya. Siapakah diantara MujahidNya yang masih istiqomah didalam jalan Jihad Fii Sabilillah. Siapakah diantara MujahidNya yang masih konsisten untuk tetap memerangi Thogut dan tidak menyerah, tidak tunduk pada harta dan kekuasaan, menolak hingga kapanpun eksistensi Thogut yang berselimut Demokrasi Pancasila.

Beberapa Komandan TII mulai membuka akses di luar negeri (Malaysia), Era 80-an adalah era yang paling bersejarah dalam pembangunan kembali kekuatan TII. Perang di Afganistan merupakan media terpenting dalam membangun angkatan perang bagi para mujahidin. Salah satu Komandan TII berhasil membangun kontak sesama mujahidin di Afganistan, dan yang paling berpengaruh saat itu (Syech Abdullah Azzam). Beliau (Abdullah Azzam) memberikan kepercayaan kepada Rosul Sayaf salah satu pimpinan mujahidin untuk membina dan memfasilitasi TII untuk melaksanakan I’dad di Afganistan. Maka berbondong-bondonglah para mujahidin muda melaksanakan titah Allah sebagai hambaNya yang taat.
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)Al Anfal:60.

Selain Afganistan, beberapa komandan TII berhasil membuka camp pelatihan di Moro, Filipina. Mereka berhasil membangun barisan mujahidin bersama mujahid Moro yang sedang memerdekakan diri dalam rangka membangun Darul Islam disana, dan yang tidak kalah penting adalah eksistensi TII dalam membantu mujahid Patani (Thailand) yang juga berusaha untuk membangun Darul Islam di daerah selatan Thailand tersebut. Tahun 80-an hingga 90-an awal adalah tuhun emas bagi TII dalam rangka persiapan perang dan pembangunan jaringan internasional, hal ini sangat penting karena fase berikutnya setelah futuhat mekah (memerdekakan secara utuh NII dan hancurnya RI) adalah fase pembentukan Khilafah, dan tahap awal sebelum menggabungkan diri dengan mujahidin internasional (Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah) maka Asia Tenggara adalah cikal bakal terbentuknya keKhalifahan awal,Kekhalifahan Asia Tenggara.

Tahun 90-al awal adalah tahunnya KW IX(Komandemen Wilayah 9, wilayah Banten-Jakarta) ketika ribuan orang ditangkap di daerah banten dan jakarta yang ternyata disinyalir sebagai anggota NII. NII kembali populer di mata rakyat (yang pro dan kontra). Diawali dengan kesepakatan para petinggi TII untuk membentuk dua wilayah baru (lampung dan Banten-Jakarta) maka wilayah 9 dibentuk. Sebagai wilayah baru (pecahan dari wilayah 7 bandung-garut-tasik-sukabumi-banten) wilayah 9 tergolong cepat penyebarannya. Melalui bendera beberapa organisasi yang berhasil di infiltrasi (Mathlaul Anwar, Persis, Muhammadiyah, GPI, PII, dll) berhasil mengajak banyak Umat Islam Bangsa Indonesia untuk masuk barisan NII. Beberapa diantaranya pegawai negeri sipil dari berbagai departemen, anggota ormas, anggota Partai, dll. Sejak dibentuknya wilayah pada dasarnya BIN (Badan Intelegen Negara, RI) telah mendeteksi wilayah baru ini. Akan tetapi menghadapi NII mereka tidak lagi represif. Seperti keberhasilan mereka (BIN) dalam memecah belah TII era 70-an (Fii Sabilillah versus Fillah) maka tahun 80-an dimana era Wilayah 9 mencapai penyebaran yang pesat, mereka menyusupkan seorang orator lihay (Toto Abdul Salam/Abu Toto/Panji Gumilang) yang sangat licik dan dengan performanya mampu membuat takjub baik petinggi TII ataupun jajaran dibawahnya. Seorang santri Gontor ini mulai disusupkan (oleh BIN) ke organisasi pemuda GPI (Gerakan Pemuda Islam) dan mulai merambah daerah Banten selatan dengan masuk menjadi salah satu guru di Mathlaul Anwar – Menes, Pandeglang. Tidak sulit dengan kemampuan bahasa arab dan basis agama logika-bahasa (eks Gontor) mampu dengan mudah diterima di NII juga di masyarakat banten saat itu. Dalam kurun waktu yang tidak relatif lama jabatan di Wilayah 9 mampu mencapai sebagai seorang Sekretaris Wilayah (orang no 3 di pimpinan wilayah, dibawah komandan wilayah Abi Karim dan Haji Rais). Tahun 1989-1990 Abu Toto melakukan aksi klimaksnya setelah Abi Karim wafat, dimana beliau mulai menyingkirkan orang kedua (Haji Rais) melalui bantuan BIN dengan menangkapnya dan dipenjara tanpa pengadilan (malah sempat dianggap gila karena mengakui sebagai komandan 9 TII) setelah menguasai wilayah (termasuk aset wilayah yang sangat kaya) maka Abu Toto mulai melakukan intruksi-intruksi yang tidak masuk akal, diantaranya Infaq Baiat Hijrah yang mahal (kisaran 200 rb – 1 jt), Qirod (mengumpulkan harta diluar Zakat dan Infaq Fii Sabilillah) memunculkan Qoror (intruksi-intruksi) yang bertentangan dengan syariat serta hukum negara (NII), penipuan serta fitnah-fitnah terhadap lawan politiknya di tubuh NII yang dianggap menentang kebijakannya. Klimaknya adalah tragedi Banten 1992 (ribuan orang ditangkap) salah satu skenarionya membumihanguskan musuh politik yang menentangnya (kembali dengan bantuan BIN). Sehingga paska 1992 secara utuh Abu Toto menguasai Wilayah 9. Langkah berikutnya dia mulai menyusup ke wilayah lainnya, jika ada yang menentang maka dia membentuk wilayah baru yang khusus bentukannya sendiri. Beberapa petinggi TII mulai dinina bobokan oleh berbagai fasilitas yang diberikannya termasuk eks Komandan 7 TII, Adah Djaelani. Setelah menganggap dirinya sudah menguasai jaringan serta asset, maka Abu Toto mulai membentuk jaringan baru secara terbuka dengan petinggi RI (toh pada dasarnya Abu Toto sendiri adalah orang RI) termasuk fasilitas tanah dan sapi yang diberikan oleh jaringan Cendana (Soeharto dan anaknya Tutut) di daerah Indramayu, yang sekarang berbentuk Pesantren mewah Al Zaitun.

Munculnya NII-Abu Toto ini adalah keberhasilan BIN terbesar dalam menghancurkan jaringan NII. Setelah berhasil memecah-belah tahun 70-an, NII-Abu Toto (dikenal dengan NII kw 9) dianggap paling sukses mencapai target sasaran penghancuran, diantaranya :
1. Stigmatisasi gerakan NII
2. Pecah belah
3. Penghancuran Aqidah dari dalam.
4. Penghancuran Ideologi Gerakan TII (NII kw 9 anti jihad fii sabililah/ Qital)
5. Fitnah melanda NII dengan syariat-syariat bid’ah (Abu Toto dipengaruhi oleh Isa Bugis menafsirkan Qur’an dengan logika-bahasa, dan anti Hadits).

Dilain fihak tahun 90-an adalah masa awal bagi pembaharuan pemikiran bagi NII. Bukan hanya pemikiran untuk kembali memurnikan ajaran Jihad Rosulullah dan Imam Asy Syahid Kartosuwiryo, akan tetapi menghangatnya kembali Giroh Jihad Fii Sabilillah beserta gerakan-gerakannya. Ketika Rakyat RI mulai terpecah belah, terjadi sebuah gerakan Kristen di Indonesia untuk mencoba membentuk negara-negara kristen di Indonesia timur. Tiga daerah mulai diinfiltrasi secara sosio-politis diantaranya adalah : Timor-Timur, Papua, Maluku (termasuk Palu-Poso). LB Moerdani adalah yang ditunjuk sebagai pimpinan pembentukan, dan Theo Safe’i sebagai Jendral yang bertanggung jawab secara teknis mulai menyusupi ketiga daerah tersebut, sedangkan di Jawa dia melakukan gerakan pengalihan dengan teror-teror pembunuhan para ulama. Daerah lain yang dijadikan pengalihan adalah Kalimantan, dimana dua suku (madura dan dayak) mulai dikonflikan. Sedangkan tiga daerah utama yang menjadi target, luput dari perhatian, dan mereka mulai sibuk melakukan konsolidasi persiapan pemisahan diri (saat itu Soeharto sudah dianggap akan jatuh). Dan tiga Bendera pun sayup-sayup mulai dikibarkan (RMS, Papua Merdeka, Timor Leste).

Yang paling menarik dari gerakan ini adalah di daerah Maluku dan Sulawesi bagian Timur (Palu-Poso). Dimana Kristen harus menghadapi Islam yang jumlahnya lebih banyak. Dan perangpun terjadi. TII seolah mendapatkan berkah dari Allah, karena konflik ini menjadi dasar gerakan awal untuk kembali merencanakan membentuk daerah DI (Darul Islam), selain membantu Umat Islam di daerah konflik, TII (yang sebagiannya adalah lulusan Afganistan dan Moro) mulai mendakwahi umat untuk kembali ke syariat Allah, dan Poso adalah daerah yang dianggap paling berhasil. Poso adalah wilayah NII (KPWB II dibawah Kahar Muzakar) yang dijajah oleh RI setelah memenangkan perang menghadapi KPWB II TII. Sehingga tidak sulit untuk membentuk basis awal di daerah tersebut karena umat islam disana mendukung. Camp pelatihan pun direncanakan untuk dibentuk selain yang berada di luar (Moro).

Konflik Ambon-Poso adalah even paling penting didalam gerakan TII, karena even tersebut menjadi ajang komunikasi tiga wilayah besar TII(sumatra, Kalimantan-Sulawaesi-NTB, Jawa), dimana setelah kekalahan perang 1962 komunikasi mereka hanya setingkat para petinggi TII. Sedangkan even Ambon-Poso menjadikan mereka berkomunikasi lintas batas, baik yang berbeda faksi/wilayah, apakah mereka lulusan Afganistan atau Moro, atau mereka yang baru melaksanakan perang. Dan perlu dipahami lebih jauh bahwa era pertengahan 90-an adalah munculnya euforia i’dad di dalam tubuh TII faksi manapun. Euforia ini muncul selain melemahnya perpolitikan di dalam tubuh RI juga kembalinya Mujahid TII yang berlatih baik di Afganistan maupun di Moro. Selain mereka membuka wawasan teknik peperangan beserta peralatannya, semangat Jihad muncul kembali ketika mereka menceritakan pengalaman-pengalamannya di medan tempur. Hal ini menambah giroh para mujahid muda yang kebetulan tidak berkesempatan mengikuti pelatihan di luar.

Ada hal yang perlu difahami dalam aksi-aksi Jihad era tahun 2000-an, dimana beberapa mujahid TII mulai membuka akses dengan Al Qaida di Afganistan (kondisi ini sebenarnya mulai terjadi sejak mereka berlatih/i’dan disana). Diawali oleh beberapa mujahid TII dibawah komando Abdullah Sungkar mereka membentuk jaringan baru (setelah Ablullah Sungkar wafat) khusus untuk melakukan aksi-aksi di Asia Tenggara. Dan hasilnya alhamdulliah munculnya aksi-aksi Teror yang membuat geram musuh-musuh Allah. Persekutuan militerpun diperkuat antara Indonesia-Amerika-Australia, akan tetapi tidak sedikitpun melemahkan para Mujahid untuk melaksanakan tugas Allah yang mulia ini. Dan klimaknya adalah kesepakatan para Mujahid muda ini untuk kembali kepada program awal yang besar, membentuk D1 (Darul Islam) di tempat yang masih dirahasiakan. Pelaksanaan programpun dimulai dengan I’dad di Serambi Mekah (Aceh, 2009-2010), akan tetapi kehendak Allah lah yang berjalan selanjutnya. Kembali setelah beberapa penghianat dan agen RI mulai mengendus rencana ini, hingga terjadilah tragedi Aceh sebagai cobaan bagi Mujahid TII. Setelah berhasil menghabisi 4 orang Densus 88 (belasan luka), beberapa orang Mujahid berhasil ditangkap dan dieksekusi di tempat. Terakhir yang syahid adalah Akhi Saptono di Cikampek.

Cobaan-cobaan yang diberikan oleh Allah sungguh membawa semangat baru bagi prajurit Mujahidin TII dimanapun berada (kecuali yang hatinya telah mati). Tidak menjadi lemah karena penangkapan dan eksekusi, tidak menjadi penghianat meski kekalahan terus beruntun, tidak menjadi kecut karena dianggap kembali gagal, tidak menjadi mandek karena hembusan angin setan yang menstigmatisasi gerakan. Prajurit TII terus maju takan terhentikan. Kembali I’dad, kembali mengumpulkan senjata, kembali membuat rencana, kembali melakukan aksi, suatu saat nanti. Hingga Dien Allah tegak di bumi ini. Hingga kemerdekaan NII menjadi nyata. Hingga Darul Islam menguasai haknya kembali tanah teritorial yang telah di proklamasikan.

Seluruh gambaran estapeta perjuangan NII diatas sungguh tidak secuil pun terceritakan. Masih banyak perjuangan-perjuangan para Mujahid yang tidak dideskripsikan disini, baik dari faksi mana saja adalah sama (kecuali NII Panji Gumilang yang merupakan produk RI). Mereka berjuang dengan Dakwah hingga mulut kering mengajak umat islam kembali kepada SyariatNya. Banyak diantara mereka memakai baju Republik (dengan mendirikan Yayasan, Pesantren, Sekolah Islam, Lembaga Dakwah, atau masuk ke organisasi-organisasi Republik seperti Persis, Muhammadiyah, dll, ada juga yang masuk ke partai Politik) untuk menyamarkan Thogut dalam medeteksi aksi Dakwah mujahid TII. Banyak juga diantara Mujahid TII yang melakukan I’dad-I’dad dengan diam-diam di berbagai tempat baik dengan cover organisasi ataupun tidak, mereka terus melakukan persiapan-persiapan untuk kembali suatu saat merebut tanah mereka yang diakuisisi paksa oleh RI sejak kekalahan perang 1962.

Umat Islam yang masih taat dan patuh secara mutlak kepada Republik Indonesia sudah selayaknya segera sadar, bahwa negara anda adalah Thogut dimata Allah. Mencoba menjadi Andad (tandingan) atas eksistensi kekuasaan Allah atas mahlukNya. Membentuk sistem demokrasi atas nama rakyat dengan tidak memakai ketentuanNya. Dan sistem ini pulalah yang membuat beberapa Mujahid TII menjadi buta. Mereka berkhianat dan berbaiat kepada Republik karena merasa dengan sistem demokrasi islam bisa menang. Sebuah pernyataan yang bodoh tak mendasar. Dan segera pulalah saudara-saudara (eks Mujahid TII) bertaubat sebelum terlambat. Karena sepanjang saudara masih duduk-duduk bersama mereka (RI) maka saudara termasuk pada golongannya (RI).
QS. an-Nisa’ (4) : 140
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.
QS. al-An’am (6) : 68
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).

Akhirukalam, saya mohon maaf kepada Mujahid TII yang tidak terceritakan perjalanan Jihad nya (dari faksi manapun). Karena bagaimanapun Allah lah yang akan mencatat amal ibadah Antum selama ini. Dan semoga Antum semua istiqomah dalam jalan Jihad Fii Sabilillah hingga Syahid menjemput untuk membawa antum kepada rengkuhanNya. amiin.

Advertisements