Gerakan Revolusioner yang paling berhasil sepanjang masa adalah Gerakan Rasulullah SAW. Sebuah perubahan revolusioner yang dimotori Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh nyata (kalau tidak dikatakan sunnah) dan diakui oleh sejarawan manapun di dunia.
Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah dilakukan di segala bidang; Sosial-Budaya, Hukum, Politik, Ekonomi, dan segala yang berhubungan dengannya. Akan tetapi perubahan yang paling mendominasi gerakan revolusi saat itu adalah perubahan politik, yang ditandai dengan pergantian kekuasaan dan sistemnya, yang sebelumnya dikuasai oleh petinggi mekah dengan pola Kepemimpinan Dzalim, digantikan dengan Pola Kepemimpinan Berkeadilan Mutlak (Keadilan berdasarkan Syariat Allah) yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW. Karena paska revolusi politik itulah maka kemudian akhirnya diikuti perubahan-perubahan lainnya (Sosial-Budaya, Hukum, Ekonomi dll).

Gerakan Revolusioner yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat pada dasarnya membentuk sebuah pola gerakan. Pola tersebut telah pula diikuti dan dilakukan oleh beberapa penggerak para pemimpin-pemimpin Islam di masa lalu. Terutama di Indonesia. Pola yang kemudian membentuk tahapan-tahapan gerakan, tahapan berikutnya dilaksanakan setelah tahapan sebelumnya diselesaikan.

Beberapa tahapan yang paling penting dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Tahapan Da’wah diam-diam (perekrutan secara silence, face to face/ person to person, membentuk halaqoh)
  2.  Tahapan Da’wah Terbuka (perekrutan masal, propaganda(positif), pembentukan jama’ah)
  3.  Tahapan Pembentukan Wilayah Basis (Pembentukan area politik, membentuk area militer, membangun wilayah basis (penguatan Ekonomi terutama logistik, melaksanakan kekuasaan politik dan hukum))
  4. Tahapan Pengembangan Wilayah (memperbesar wilayah, melakukan persekutuan militer, penyebaran Da’wah diluar wilayah basis)
  5. Tahapan Futuhat (Menguasai seluruh wilayah yang sebelumnya memerangi wilayah basis, pembersihan akidah secara keseluruhan, pembentukan area hukum untuk seluruh wilayah yang dikuasai)
  6. Tahapan Penguasaan Internasional (membentuk kekhalifahan dengan area tak terbatas)

Setiap tahapan mempunyai syarat-syarat tertentu baik untuk menuju tahapan tersebut atau kriteria bagaimana tahapan tersebut dinilai berhasil dilampaui.

6 tahapan ini yang berhasil melaksanakannya dengan sempurna hanya Rasulullah SAW tentunya, akan tetapi yang mendekati hingga 6 tahapan ini ada beberapa, seperti contohnya kekhalifahan Turki misalnya yang berhasil kembali membangun kekuatan Islam paska terpuruk oleh kekuasaan mongol. Di Indonesia Wali Sanga (9 wali) berhasil sampai ke tahapan kelima, sebelum kemudian terjadi perang saudara hampir di seluruh wilayah yang dikuasai, hingga klimaknya datang penjajah dari negara kristen. Dan di Abad 20 Imam AsSyahid Kartosuwiryo hanya berhasil hingga tahapan ke 3. Membentuk wilayah basis yang disebut Dar al Islam, karena kekalahan perang dengan Republik Indonesia (Komunis) yang dipimpin oleh Soekarno dan penghianatan beberapa Jendral TII (karena menyerah dan kembali ke pangkuan RI).

Paska kekalahan perang NII (Negara Islam Indonesia/ Darul Islam) oleh RI (Republik Indonesia) maka praktis hingga saat ini tidak pernah ada lagi yang mampu melampaui tahapan ke 3, meskipun ada beberapa kali usaha-usaha untuk mewujudkan itu yang dilakukan oleh Jama’ah Darul Islam, seperti di Lampung (kasus Warman dan way Jepara), di Poso (2001-2003) di Aceh (2010), akan tetapi belum berhasil yang diperkirakan karena prasyarat pembentukan basis memang belum terpenuhi.

Bagaimana dengan kelompok/Jamaah lainnya? Paska kekalahan perang NII oleh RI dengan ditangkapnya Imam terakhir Abu Daud Beureueh oleh RI maka gerakan islam di Indonesia mengalami ujian yang paling besar, perpecahan didalam jama’ah akibat infiltrasi musuh, memperebutkan kepemimpinan, munculnya Imam palsu yang sengaja disusupi oleh RI (contoh Panji Gumilang/Abu Toto dengan Al Zaitun-nya), perpecahan akibat perbedaan ideologi gerakan (munculnya PKS), Perbedaan prinsip Jihad (munculnya JI/Jamaah Islamiyah, MMI, AT dll), sebagian bersekutu dengan Thogut (RI) (membentuk Partai Politik, ikut menjadi anggota Dewan, dll), hingga dapat dikatakan saat ini adalah kondisi yang paling rumit yang pernah ada didalam sejarah gerakan islam di Indonesia, bukan karena tidak adanya kader dan kelompok/jamaah yang sedang melakukan aksi, akan tetapi sulitnya semua kelompok-kelompok tersebut berdiri dan berjalan didalam satu barisan yang kokoh kuat seperti yang dicintai oleh Allah

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

(QS.61:4. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.)

Hal yang paling penting dipahami kenapa mereka tidak berhasil melampaui tahapan 2 menuju tahapan 3 adalah, sudah ditinggalkannya pemahaman ideologi gerakan revolusioner yang pernah dibuktikan oleh Rasulullah di Hijaj dan Wali Sanga di Indonesia. Mereka (para kelompok-kelompok gerakan) sudah tidak mempercayai lagi pola gerakan Rasulullah sebagai pola gerakan terbaik untuk memenangkan islam di Indonesia. Mereka sibuk dengan pola-pola baru (yang entah mencontoh siapa) dan masing-masing kelompok menyatakan pola merekalah yang paling baik untuk saat ini dikerjakan. Ada kelompok yang sibuk bikin pesantren, ada kelompok yang bangga menjadi pemenang pemilu (10 besar) yang diselenggarakan oleh Thogut. Ada kelompok yang gemar cari infak dari umat, ada kelompok yang gemar infiltrasi tapi malah mutasi (jadi anak buah thogut) ada kelompok yang menyatakan dirinya penerus NII tapi tidak berusaha punya wilayah D1, ada kelompok yang sibuk da’wah tapi tidak pernah dalam masterplan nya untuk membentuk wilayah barang sejengkal tanah pun. Semuanya keluar jalur pola Rosulullah dan ber uswah entah kepada siapa.

Maka pada saat ini yang paling penting bagi para pimpinan kelompok. Sudah saatnya menyadari keteledoran selama ini dalam menyusun gerakan islam. Rosulullah telah mencontohkan sebuah Gerakan Revolusioner yang berhasil, maka kembalikanlah orientasi gerakan pada pola awal, Pola Rosulullah SAW. Jamaah-jamaah islam saat ini dalam kondisi terbaik, baik jumlah maupun kualitasnya. Seandainya pola gerakan dikembalikan kepada pola Rosulullah maka kemenangan sangatlah dekat. Tinggalkanlah kecintaan dunia (Jabatan, populeritas, harta, dll) dan sambutlah kematian (syahid) dengan Jihad Fii Sabilillah yang telah dicontohkan Rosulullah. Persiapkanlah Tahapan 3 sebagai tahapan berikutnya yang harus dilampaui, membentuk daerah basis sebagai cikal bakal terbentuknya Daulah Islamiyah di Indonesia. Jadikanlah Al Bara’ sebagai prinsip politik dengan pemerintahan RI yang sudah jelas memakai sistem Demokrasi Pancasila yang Absurb dan jahiliyah. Berlepas dirilah pada ikatan hukum Jahiliyah dan jadikanlah hanya Syariat Allah saja sebagai pedoman

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

(QS 5:50. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?), Dan berlepas dirilah dari jargon-jargon politik yang menyesatkan seperti gerakan politik kooperatif, gerakan evolusioner, gerakan Revolusi Budaya, dll. Rosulullah hanya mempunyai satu gerakan, sebuah gerakan revolusioner yang dilaksanakan hanya dengan tempo 15 tahun, begitu pula Wali Sanga, tidak harus menunggu ratusan tahun hingga anak cucu kita akhirnya menjadi thogut pula. Sudah saatnya kembalikan orientasi gerakan ini menjadi gerakan yang benar, gerakan yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW. Semoga Allah membukakan mata hati kita dan pemimpin-pemimpin kita, untuk kembali kepada Nya, mengikuti perintah Nya, dan mencontoh Nabi Nya….. Amien.

Advertisements