Pertanyaan ini lucu dalam kuping kita, sebab kita tidak merasa hendak mendirikan Negara. Apa yang sedang kita lakukan bukanlah berjuang untuk mendirikan Negara Islam, atau berjuang ingin memberlakukan hukum Islam. Bukan kami menilai cita cita seperti itu adalah ketinggalan jaman dan tidak mau melihat kenyataan !

Buat apa mendirikan Negara Islam, sebab ia suda ada hampir 5 dekade yang lalu. Mengapa ingin memberlakukan Hukum Islam ? Di Negara kami Hukum Islam sudah berlaku ! Justru kami sedang mengembangkan agama di Negara yang memberikan kebebasan penuh melaksanakan Syari’at Islam tadi.

Pertanyaan tadi jelas keluar dari mulut orang yang tidak tahu, atau pura pura tidak tahu. Menurut Quran bila bertemu wicara dengan orang orang yang tidak tahu[jahil], harus ditata kata agar tidak menimbulkan perbantahan, apalagi pertengkaran. Carilah kata kata yang menimbulkan keselamatan [Qolu salama lihat S.25:63]. Apalagi bila yang ngomong orang pura pura tidak tahu, lantas untuk apalagi kita menjelaskan pada mereka ? ?[1]

Bila ada orang yang bertanya begitu, jawab saja : ‘’ Memang sudah sewajibnya kita mengembangkan agama dalam Negara yang menjamin kebebasan agama ! Dan itu pula yang sedang diusahakan, kita berdo’a

Hendaklah kita ingat, bahwa Nabi kita yang mulia pun memulainya dari wilayahnya dulu, kemudian baru menebar ke muka bumi. Bagaimana mampu menebar Islam ke wilayah lain, bila belum ditopang sebuah kekuasaan yang melindungi. Seperti Rosululloh SAW, targetnya adalah Islamisasi dunia [ S. 21:107], namun keterbatasan manusiawilah sehingga di akhir hayatnya beliau hanya sempat menyaksikan tegaknya Islam di bumi Alloh Makkah kemudian ke Yatsrib dan wilayah sekitar itu.

Tidak heran bila dalam Piagam madinah, yang diatur hanyalah Bani anu dan Bani Anu, sekedar mengatur beberapa suku saja. Ini bukan berarti ashobiyyah, tapi memang baru itu yang terjangkau untuk diatur oleh aturan Islam. Maunya sich dunia, tapi kalau mampunya baru itu bagaimana ? ? Tugas generasi pelanjutlah yang menebar ke belahan bumi berikutnya, berbekal kekuatan yang telah dibangun generasi awwal tadi ….

Orang mungkin bertanya : ‘’Apa tanpa Negara apa Islam tidak bisa disebarkan ?’’ Kita katakan : ‘’Bila sekedar ajaran, bisa bisa saja, tapi sebagai system, tetap perlu ada yang melindungi … sebab sunnahnya pun begitu. Rosululloh SAW itu mengirim surat ke raja raja, setelah dinegerinya hukum Islam berhasil ditegakkan’’.

Kepada orang yang bertanya seperti ini, baiklah anda paparkan perjalanan juang nabi SAW, bagaimana beliau menjalani Sunnah Badar, Sunnah Uhud, Sunnah membuat Shohifah Madinah, hingga Sunnah Futuh Makkah. Semoga mereka terbuka bahwa yang disebut ‘’sunnah’’ bukan hanya shoum Senin – Kamis saja, kiranya dengan itu tegerak hati untuk meneladaninya. Aamiin.

Kedua, kalau memang setiap pembatasan itu dianggap buruk, bid’ah dsb. Lantas bagaimana kita mengamalkan S.3:200, dimana di dalamnya ada perintah Ribath, berjaga jaga di batas negeri ? Bukankah itu menjadi isyaroh, bahwa pembatasan wilayah kekuasaan  itu memang ada sejak dahulu ?

Meskipun demikian, marilah kita petik hikmah dari adanya ‘’pertanyaan tidak perlu itu’’. Bisa jadi ada beberapa hal yang melatar belakangi munculnya pertanyaan tersebut, diantaranya

  1. Mereka mengajukan pertanyaan itu bukan karena tidak setuju dengan negaranya. Sebab Insya Alloh bila Negara sudah berjaya, mereka pun tidak akan memohon lepas kewarganegaraan dan pindahan ke Negara lain yang kafir. Kalau sudah ada, kalian akan melihat mereka sayadhuluuna fi diinillahi afwajaa, berbondong bondong memasuki system Islam. Cuma hari ini, besarnya resiko dan kecilnya nyali, membuat mereka enggan diajak bicara ke arah sana.

 

  1. Kita yang terlalu kaku, menilai ikhwan dan tidak ikhwan begitu kentara, semata mata hanya didasarkan pada kesamaan kewarganegaraan. Dari kekakuan itulah, mereka mencemooh kita lewat pertanyaan pertanyaan yang tak bermutu. Sayangnya kita menangkap isyarat tersebut, jadilah pertengkaran yang tidak perlu.

 

  1. Kita terlalu menyimpelkan permasalahan, seakan akan memberi janji, kalau sudah warga Negara Islam, beres semuanya, tidak lagi terancam kematian jahiliyyah, karena telah terlepas dari tatanan hukum jahili [S.5:50]. Pernyataan di atas tidak salah … tapi jika berpijak dari itu, kita abaikan pembinaan selanjutnya, rakyat ongkang ongkang kaki, seraya membanggakan status barunya. Mencemooh orang orang yang gemar beribadah, hanya karena belum hijrah kewarganegaraan, seraya kita pun berusaha lebih baik dari mereka. Kita bisa membayangkan bagaimana coreng morengnya nama Negara karena ulah yang gegabah ini. Dari itu mereka kurang respek pada kita, dan ‘mempermainkan’ dengan pertanyaan kelas kambing

 

  1. Ada pula yang bertanya begitu karena memang terjebak dalam tipu daya thoghut, yang merusak Islam dari dalam, sehingga dengan memutar balikkan ayat dan hadits, dengan memenggal menggal sejarah Perjuangan Rosul SAW, mereka bisa meyakinkan rakyat akan wajibnya tidak campur tangan dari kekuasaan dan menyerahkan kekuasaan pada apa  yang kini ada –apapun bentuknya– selama sholat, shoum dan haji tidak diganggu. Terhadap orang seperti ini, berhati hatilah, kalau anda terpancing mendebatnya hingga ketahuan dimana posisi anda, kemudian ia laporkan ke hirarki di atasnya. Nah … ujung ujungnya di sana, telah ada thoghut yang siap menyadap informasi. Langkah mereka selanjutnya, telah bisa kita tebak !

 

Ada juga sebagian dari mereka, yang memang beda targetnya dengan kita, bukan mengganti dengan yang Islami dari mulai dasar hingga puncak, tapi mewarnai negaranya sendiri, Prinsip mereka : biar saja dasarnya tidak Islam, asal yang mewarnainya Quran dan hadits nabi …. Kembali pada impian yang manis ! Sisa sisa khayalan muslim nasionalis secular tempo dulu. Yang ini memang agak susah diselaraskan, biarkan saja mereka membina rasa keislaman teman senegaranya, sedang kita terus membangun Negara ini. Tidak usah bentrok, tokh dari awwal, targetnya memang sudah berbeda.

Muhasabah 9

Dari itu, marilah sekarang kita lebih memfokuskan diri pada menjaga, memelihara dan meningkatkan kualitas yang sudah ada. Sehingga orang tahu kita itu bukan karena diumumkan, tapi karena disadari istimewa keberadaannya. Bukan dipaksa diajak masuk, tapi karena tergugah jiwa dan bersegera mengetuk pintu.

Terus menerus memasukkan orang, sementara yang di dalam tidak diapa apakan, hanya akan membuat jumlah warga membengkak dan menggelembung, tapi tetap tergolek di dasar tanah, akibatnya … gampang ketahuan dan digemoskan ! Kita harus bisa membedakan mana besar dan mana bengkak. Jangan keburu bangga dulu kalau kita kelihatan besar. Lihat menejerial/pengelolaan di dalamnya jangan jangan besar itu karena bengkaknya. Jaringan koordinasi macet di sana sini.

Jangan terlalu bergantung pada Negara atu lembaga. Sebab ia bukanlah human being, tidak berperasaan, benda yang baik buruknya tergantung bagaimana orangnya juga. Pada akhirnya, yang jadi titik penilaian tetap unsure manusianya. Bila ingin daulah kita baik, marilah masing masing kita bebenah diri !

Menjadi Muslim Warga Negara Islam jelas jauh lebih baik daripada muslim yang warga Negara musuh Alloh, jika itu menjadi keyakinan kita, maka harus dibuktikan secara fakta, bahwa secara ilmu, akhlaq, dan segalanya, kita memang telah lebih baik dari mereka ! Jika sama saja, apa lagi kalau lebih buruk, lantas apa pengaruhnya Negara Islam tadi pada diri anda ? ? Kalau begitu … mengapa dibangga banggakan hingga lupa tawadhu kepadaNya ? ?

[1] Bila setelah diselidiki ternyata yang bertanya memang orang lugu yang memerlukan petunjuk, maka anda bisa mengutip penjelasan  dari buku ‘Prinsip Prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah’’Karya J. Suyuthi Pulungan Terbitan Rajawali Pers hal 1 – 86 Di dalamnya dituliskan dengan rinci data autentik bahwa pejuangan nabi adalah perjuangan yang menegara, dalam arti tercakup di dalamnya upaya memperoleh kedaulatan wilayah, memberlakukan undang undang dan menata pemerintahan yang berwibawa ke dalam dan keluar. Atau bisa juga mengambil dari buku ‘’Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al Quran’’ Karya DR. Abd Muin Salim Terbitan Rajawali Pers hal 109 – 157. Atau yang lebih ringkas, tapi gamblang dan membangkitkan semangat, baca saja ‘’Dasar Dasar Islam’’ Karya Abul a’la Maududi Bab Jihad. Tapi hati hati dalam menjelaskannya, salah salah si pendengar jadi ‘pemberontak’ !

Untuk karya penulis penulis dalam negeri yang tak kalah bobotnya dari penulis luar negeri tadi, bisa and baca ‘’Furqon di Indonesia’’, malah yang ini langsung mengena pada permasalahannya. Hanya seperti saya bilang tadi hati hati , apalagi menyodorkan karya penulis dalam negeri, alamat anda akan langsung ketahuan nanti …..

Advertisements