Kalau ada orang yang bertanya begini pada kita, jelas terjadi ‘loncatan  ilmu’ pada diri si penanya. Artinya juru penerang Daulah Islamiyyah keliru dalam menapaki tahapan materi dakwah. Buktinya si mad’u [yang didakwahi] belum tahu mana pemimpin mukminin, dan mana yang asal jadi pemimpin karena dimatangkan oleh cuaca/alam berfikir sekuler hari ini. Ini alarm tanda bahaya ! Anda perlu surut dan kembali membenahi pola pembinaan. Anda telah berbicara terlalu jauh, sementari si pendengar lambat mengerti ! Bila salah menjelaskan bisa terbuka ‘aurat’, padahal dia belum jadi ‘muhrim’ anda !

              Menurut kita … yang kini memimpin itu[1],  justru beliaulah yang mensupport[2] dakwah ini. Apa yang kita dakwahkan adalah apa yang beliau laksanakan. Terbukti sudah bertahun tahun berbuat bagi kekokohan Negara. Sampai sanggup ditawan dan disiksa musuh. Karena apa ? Karena menegakkan Islam dan mengelola Negara ! Kalau yang mereka maksud yang kini memimpin adalah pemimpin negara mereka, maka jelas itu bukan tugas kita, tugas para juru dakwah yang tinggal di Negara mereka tentunya !

                Setelah membaca Al Quran, kita sadar dan menahan diri dari menghabiskan energy dan menunggu para pemimpin mereka menerima Hukum Islam. Karena menurut Quran orang orang kafir [dalam arti kafir structural, bukan pribadi perpribadinya] sama saja hasilnya, didakwahi atau tidak, mereka tidak akan mengimani kebenaran tata hukum wahyu [S.2:6].

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman -S.2:6

Adapun tugas kita adalah menyiapkan kekuatan maksimal untuk menghadapinya [S.8:60][3].

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٖ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ ٦٠

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)-S.8:60

                Perkara muslim dzimmi tadi percaya bahwa system kehidupan yang tengah berlangsung dan menguasai territorial itu bisa diperbaiki dikemudian hari, asal terus gigih mendakwahinya, itu urusan mereka. Memang kewajiban mereka untuk memperbaiki negaranya, seperti kita pun punya kewajiban memperbaiki Negara kita !

[1] Awas, kalau anda masih berfikir bahwa bila disebut yang kini memimpin, pemerintah/pemerintah kita, Negara/Negara kita, yang terlintas di benak anda adalah Darul Kuffar, berarti furqon daulah anda belum begitu peka, masih banyak diwarnai naluri pemberontakan ! Perlu dibenahi dan dibiasakan kepekaan sadar diri dan sadar situasi itu …. Biasakanlah berfikir bila disebut Negara / Negara kita maka artinya adalah Negara yang kita berjuang di dalamnya [Ad Daulatul Islamiyyah].
[2] = mendukung, menggalakkan
[3] Ini bukan berarti menutup kemungkinan berdakwah pada individu kafir, karena untuk ini ada dasar perintahnya [lihat S.13:30] Sejarahpun menjadi bukti bahwa semua yang ikut Rosul asalnya adalah orang kafir [Non Muslim]. Adapun yang penulis yakini, bahwa yang didakwahi atau tidak tetap saja tidak akan berubah, adalah kafir dalam arti sistemnya. Strukturnya, negaranya. Sistem Kuffar tidak akan menerima Hukum Islam kecuali dikalahkan lewat perang. Sejarah pun menjadi bukti, betapa kekafiran tetap bercokol di tanah musyrikin Makkah, betapapun satu demi satu panglima mereka masuk Islam [seperti Khalid bin Walid misalnya]. Baru negeri itu berubah dan menerima tatanan hukum Islam setelah dikalahkan lewat Futuh Makkah, dimana mereka secara mental merasa tdak mungkin lagi menang kalau melawan.
Advertisements