Insya Alloh akan kita beberkan pula mengenai hal ini, sebagai bahan bila saudaraku mendapat pertanyaan yang sama sewaktu waktu. Marilah kita samakan bahasa, bahwa di setiap penjelasan kita, kita hendak memahamkan mereka bahwa kita pun termasuk orang yang mengutuk/tidak setuju sama sekali terhadap setiap usaha yang bermaksud menggulingkan pemerintahan yang syah !

Pertanyaan model begini biasanya muncul dari rakyat musuh yang mengira bahwa kitapun masih terikat ssecara hukum di bawah satu Negara seperti dirinya. Dan keliru dalam memahami dakwah kita [atau boleh jadi kitanya yang keliru memaparkan] dianggap sebagai ajakan untuk melawan pemerintahnya serta menggulingkan para pemegang posisi pemerintahan dinegaranya kemudian kita menggantkan pos pos jabatan di Negara tersebut[1].

Kita jelaskan pada mereka bahwa Islam menekankan kesetiaan dan pembelaan atas pemerintah. Bahwa Islam yang benar adalah yang dilindungi pemerintah dan resmi keberadaannya di mata Negara. Islam tidak menghendaki adanya gerakan liar anti pemerintah. Dalam hadits Bukhory sendiri dinyatakan bahwa : Barang siapa yang berlepas diri dari tho’at kepada [pemerintah] maka akan menghadap Alloh tanpa punya satu alasanpun [lihat Riyadush Sholihin Bab ketho’atan pada pemerintah].

Mungkin si pendengar bingung mencermati jawaban kita. Tentu saja sebab kata ‘’Pemerintah’’ dan ‘’Negara’’ dalam benak kita bukanlah Negara dan pemerintah dia seperti yang diduganya. Kalau dia bingung, maka ini pertanda bahwa si penanya memang belum bisa dibawa bicara ke alam berfikir kita. Bila begini jelas jangan dipaksa paksakan, berbahaya akibatnya.

Bila suatu sa’at anda dihapkanpada pertanyaan di atas kemungkinannya dua; [1] Timbul dari rakyat mereka yang tidak memahami hakikat perjuangan kita,
[2] Pancingan dari agen intel lawan [lewat pihak ketiga yang dimanfa’atkan].

Keduanya mesti dihadapi hati hati ! Jangan terpancing ingin segera menjelaskan, sebab pada golongan [1] masih jauh masanya, pada golongan [2] apalagi !!

Mesti diingat bahwa apa yang kita lakukan, bukanlah karena benci pada pemerintah, justru karena setia pada pemerintah. Kalaupun mesti perang, bukan untuk melawan pemerintah, tapi tho’at pada kebijaksanaan pemerintah ! Perang bukanlah tindakan tercela dalam hukum internasional, selama mengikuti kaidah hukum perang. Bahkan membela Negara adalah tugas suci setiap warga Negara. Rasa kemanusiaan universal mengakui hak bela Negara. Kita perlu belajar lebih jauh memang tentang perjuangan menegara ini ….

Malah dalam kesempatan ini, saya ingin mengingatkan pada saudara saudaraku seagama, yang katanya berjuang dalam ikatan hukum Daulah Islamiyyah, tapi tidak mengenal mana pemerintahnya yang syah berdasarkan tata hukum Daulah Islamiyyah itu sendiri. Mereka berjuang hanya dalam ikatan Jama’ah jama’ah saja, bahkan merasa tidak perlu tahu mana pemerintahnya yang syah berdasarkan undang undang Negara !

Ada pula yang bersikap anti pemerintah Daulah Islamiyyah hanya karena melihat kelemahan pribadi pemegang amanah itu. Subhanalloh, fahamilah … menurut Dienul Islam, sikap anti/tidak mendukung pemerintah itu tercela. Justru kekurangannya itu bagian kita untuk melengkapinya, bukan ditinggalkan dan dibiarkan bekerja sendiri dengan segala kelemahannya tadi !

Jika anda anggap pemerintah ada kelemahan, maka apakah anda merasa dengan meninggalkan Pemerintahan Islam yang lemah itu menghasilkan kemuliaan ? ? Terus anda akan mencari kemuliaan dalam pemerintahan mana ? Ayyabtaghuuna indahulmul izzah [S.4:149]. Jika anda bersikap begitu, maka manakah yang anda akui sebagai pemerintah anda, kembali ke Darul Kuffar ? Hidup tanpa pemerintah ? ? bagaimana anda melaksanakan S.4:59 hari ini ? ? ?

[1] Kesalahan memaparkan, seringkali terjadi pada diri aktivis penerangan kita. Dimana aktivis tadi menampilkan diri sebagai pihak rakyat yang anti pemerintah, dalam dakwahnya lebih sering bernada menjelek jelekan pemerintah Negara musuh, dan mengajak pendengar untuk benci buta kepadanya. Marilah kita benahi kekeliruan ini, sebab menjelek jelekan yang nyata sudah jelek nilainya dalam pandangan ilahi, adalah kemubadziran. Bahkan di depan pemuja satu keyakinan, kita dilarang  Quran untuk menjelek jelekannya [S.6:108], sebab akhirnya secara membuta, mereka pun akan mencap kita jelek juga !! Ajarkan saja kebenaran Islam dan janji Alloh di akhirat bagi yang setia pada Islam. Insya Alloh atas dasar cinta pada Alloh dan Rosulnya ini, pada akhirnya mereka pun akan mencintai dan membantu bahkan berhijrah pada Daulah Islamiyyah yang memberlakukan Hukum Alloh dan Sunnah Rosul yang mereka cintai tadi.

Advertisements