ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدٗا وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٞ فِي ٱلۡمُلۡكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖ فَقَدَّرَهُۥ تَقۡدِيرٗا ٢

Yang kepunyaanNyalah kerajaan langit dan bumi dan dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu dalam kerajaanNya, dan Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan dia mengatur dengan serapi rapinya [S.25:2]

Ayat di atas, menjelaskan bahwa langit dan bumi sebenarnya merupakan wilayah kerajaan Alloh, yang dikuasaiNya sendiri tanpa membolehkan adanya saingan, tandingan, ataupun sekutu.

Nah dari di atas saja jelas bahwa bumi adalah bagian dari wilayah kerajaan Alloh, kita yang tinggal di bumi –disadari atau tidak- adalah penduduk kerajaan Alloh. Pada posisi ini, sikap yang baik hanya ada dua : Menjadi warga yang tho’at, atau menjadi aparat kerajaan Alloh yang amanah !

Bila ternyata di wilayah kerajaan Alloh bumi ini, ada sekelompok orang yang mengklaim satu wilayah sebagai daerah kekuasaan mereka, memaksa orang orang yang tinggal di dalamnya untuk mentho’ati  hukum yang mereka buat sendiri. Mengelola air, dan segala sumber daya alam yang ada di dalamnya untuk kelancaran roda pemerintahan mereka. Maka sebenarnya mereka ini tengah membuat kerajaan kecil di dalam kerajaan Alloh yang Maha Besar.

Mereka telah melakukan tindakan melebihi kapasitas sebagaimana semula mereka direncanakan [wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduuni S.51:56]. Sebagai sikap istighna [merasa mampu, merasa bisa mengelola sendiri, tidak merasa perlu dengan bimbingan Ilahi] dan inilah yang melahirkan rasa thogho [melampaui batas, lihat S.96:6-7]. Bila rasa thogho ini dikukuhkan dan terstrukturisasi[1], menjelmakan dirinya jadi hukum atau hakim yang memberi nilai atas tindakan manusia, maka ini disebut thoghut [S.4:60]. Rosul diperintahkan untuk mengajak manusia menjauhi thoghut sebagai syarat kesempurnaan ibadah kepada Alloh [S.2:256-257]

لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٢٥٦ ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِۗ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٥٧

  1. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
  2. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya

Negara Negara yang memberlakukan hukum sendiri di luar hukum Islam adalah hadir sebagai  wujud nyata pengingkaran atas otoritas Alloh mengatur bumi milikNya ini [lihat ujung ayat dari S.5:44,45,47].

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤…

 وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٤٥…

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤٧…

44. …Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir

45…. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim

47….. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik

Wajar bila Alloh menjanjikan siksa bagi siapa saja yang berwala kepada Negara semisal itu [S.4:144].

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗا مُّبِينًا ١٤٤

144. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) -S.4:144-

Sebab berada, setia terhadap Negara dan pemerintahan yang menolak Undang Undang Alloh, adalah bukti kemenduaan dalam urusan hukum, sehingga betapapun tho’atnya ia melaksanakan aturan Alloh ketika sholat, namun keterlibatannya dalam bertahkim pada hukum selain Alloh di luar sholat [S.4:60], jadi noda atas tauhidnya. Inilah yang dinamakan Musyrik hukmiyyah dari segi hukum dan musyrik mulkiyyah bila dilihat dari segi kelembagaannya.

Cinta Nabi SAW terhadap ummat terbukti dengan upaya beliau membersihkan jiwa ummah dari musyrik mulkiyyah di atas, diajarinya ummah untuk mengutuhkan tauhid setiap selesai sholat. Setelah mereka membaca tasbih, tahmid dan takbir masing masing 33 kali, dianjurkan mereka membaca : Laa ilaaha illalloh, wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa hua ‘ala kulli syaiin qodiir ..[Tiada yang diibadahi selain Alloh, esa tidak ada saingan bagiNya. UntukNya saja kerajaan, sebagaimana  bagiNya pula pujian, sebab Dialah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu]. Kiranya dengan dzikir ini, setiap muslim warga Darul Kuffar, meninjau kembali relevansi[2] ucapan dan status kewarganegaraannya, adakah ia selaras atau malah justru bertabrakan ….

Begitu juga orang yang menjadi tamunya Alloh, berhaji ke tanah suci. Baru syah mereka diterima sebagi tamunya Alloh, bila ketika menunaikan hajji tersebut di awali dengan membaca Talbiyyah :

Labbaika Allohumma Labbaik, Labbaik la syarikalaka labbaik, Innal hamda, wanni’mata laka walmulka lasyarikalaka labbaik ….

Ini saya memenuhi panggilanMu Ya Alloh, Ini saya memenuhi panggilanMu Ya Alloh, tidak ada tandingan bagiMu Ya Alloh. Sesungguhnya pujian, ni’mat hanya bagiMu, begitu pula kerajaan hanyalah untukMu ya Alloh tak ada tandingan bagi Mu, inilah saya ya Alloh[3].

Artinya baru mereka diterima sebagai tamu Alloh yang terhormat, bila datang sebagai warga kerajaanNya yang  utuh dan setia, tidak mendukung pemberontak apalagi menjadi kepala pemberontakan terhadap Kerajaan Ilahi di muka bumi !

Sayang sekali kemurnian tauhid seperti ini sudah jarang dihayati kaum muslimin, hingga banyak kepala Negara yang ditanah airnya memimpin pemerintahan Non Hukum Islam, bahkan sedang gigih gigihnya memusnahkan Daulah Islam Berjuang, membunuhi para mujahid dan menawan mereka, tapi dengan lugu dan polos, tanpa rasa berdosa, berangkat juga dia ke tanah suci dan berdusta kepada Alloh dengan talbiyyah yang diucapkannya berulang ulang sambl meneteskan air mata …..

Akibat tidak memahami kandungannya, atau memang sengaja tidak mau tahu, karena ke haji pun hanya siasat politik untuk menarik simpati rakyat belaka. Wallohu a’lam, mana yang benar di antara dua kemungkinan tadi.

Kembali pada so’al pemerintahan yang syah.

Jadi manakah pemerintahan yang syah menurut pemilik kerajaan langit dan bumi, bukan menurut persetujuan manusia yang memang senangnya memberontak pada kerajaan Alloh [S. 16:4] ??

Nampaknya lewat paparan tadi, tidak perlu lagi kita menjawab itu, sebab sebelum berbicara tentang syah dan tidaknya satu pemerintahan ada permasalahan mendasar untuk direnungkan terlebih dahulu : Bagaimana status Negara itu dalam pandangan Alloh ? Mengapa harus ngotot menuntut dan memperjuangkan berdirinya suatu pemerintahan yang bersih, syah, berwibawa bila ternyata semua cerita itu hanya berkisar di Darul Kuffar !

Bagi yang hatinya tersinari ayat, dari pada mumet memikirkan absyah dan tidak absyahnya pemerintahan di Darul Kuffar, menuntut keadilan dan pemerataan kemakmuran. Ia lebih suka berbuat dan bekerja untuk Negara yang didirikan untuk bertaqwa [usisa ‘alat Taqwa]. Membenahi sesuatu yang dari awwal berdiri tidak diajangkan untuk memberlakukan hukum Islam, bahkan mengahapus tujuh kata yang mewajibkan berlakunya syari’at Islam bagi Ummat Islam, hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memang tidak mengkonsentrasikan diri untuk dihukumi oleh Undang Undang Ilahi di dunia. Atau barang kali ia lebih suka dihukum Alloh di akhirat ? ? ? Na’udzubillahi min dzalik ……

Apabila dengan penerangan ini mereka masih juga berat hati menerimanya, itu emang pertanda bahwa mereka adalah rakyat yang setia dari sebuah Darul Kuffar. Kita jangan marah dan emosi, sebab memang tiap warga Negara berhak untuk membela negaranya. Hak mereka untuk keberatan menerima kenyataan bahwa negaranya bernilai negative dalam pandangan Ilahi. Seperti kita pun punya hak untuk membela dan mempertahankan Daulah ini hingga menjadi wadah yang paripurna bagi tercurahnya rahmat keutamaan Hukum Islam, dan jadi modal yang cukup untuk mengekspor kesadaran ini ke seluruh pelosok jagat. Insya Alloh Aamiin.

[1]  = dibuat organisasi dan fungsi fungsi tanggung jawab untuk melaksanakannya.

[2] keselarasan,tidak bertolak belakang

[3] Syarika sebenarnya lebih tepat bila diartikan sebagai sekutu, namun untuk memudahkan pengertian, baiklah sementara kita artikan tandingan. Sebab sekutu yang dimaksud memang pihak yang diangkat manusia untuk disejajarkan, ditandingkan dengan hak dan peranan Alloh dalam mengatur hukum dsb. Kata tandingan dalam bahasa Arab disebut andad lihat S.2:165

Advertisements