Negara Saba adalah sebuah Negara merdeka dibawah pemerintahan yang syah dipimpin oleh seorang wanita [Ratu Balqis] berwawasan luas dan begitu demokratis [S.27:32-33]

قَالَتۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ أَفۡتُونِي فِيٓ أَمۡرِي مَا كُنتُ قَاطِعَةً أَمۡرًا حَتَّىٰ تَشۡهَدُونِ ٣٢ قَالُواْ نَحۡنُ أُوْلُواْ قُوَّةٖ وَأُوْلُواْ بَأۡسٖ شَدِيدٖ وَٱلۡأَمۡرُ إِلَيۡكِ فَٱنظُرِي مَاذَا تَأۡمُرِينَ ٣٣

  1. Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”
  2. Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”

Namun ia bukanlah Darul Islam yang membawa ummah ke Darus Salam, namun sebuah Darul Kuffar yang mengakarkan ideology negaranya pada pengagungan matahari [S.27:23-24]

إِنِّي وَجَدتُّ ٱمۡرَأَةٗ تَمۡلِكُهُمۡ وَأُوتِيَتۡ مِن كُلِّ شَيۡءٖ وَلَهَا عَرۡشٌ عَظِيمٞ ٢٣ وَجَدتُّهَا وَقَوۡمَهَا يَسۡجُدُونَ لِلشَّمۡسِ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ فَصَدَّهُمۡ عَنِ ٱلسَّبِيلِ فَهُمۡ لَا يَهۡتَدُونَ ٢٤

  1. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar
  2. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk

sebagai alasan untuk tidak berhukum, mengabdi dan berbakti mengikut aturan Ilahi [S.27:25]

أَلَّاۤ يَسۡجُدُواْۤ لِلَّهِ ٱلَّذِي يُخۡرِجُ ٱلۡخَبۡءَ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَيَعۡلَمُ مَا تُخۡفُونَ وَمَا تُعۡلِنُونَ ٢٥

  1. agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan

Sistem yang berlaku di sana menghalangi mereka dari utuhnya mendapat petunjuk wahyu serta tercegah dari menerima Islam sebagai aturan hidup [S.27:43].

وَصَدَّهَا مَا كَانَت تَّعۡبُدُ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ إِنَّهَا كَانَتۡ مِن قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ٤٣

  1. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir

                Negara tersebut tidak memerangi Darul Islam yang dipimpin Nabi Sulaiman, hingga Nabi pun tidak menyatakan perang kepadanya. Akan  tetapi terpanggil oleh kewajiban dakwah, maka risalah dakwah Islamiyyah tetap dilakukan beliau melalui sepucuk surat yang dikirimkan melalui Hud Hud. Kisah berlanjut hingga pada akhirnya dua kepala Negara tadi dipersatukan Alloh lewat pernikahan, jadilah kedua Negara itu Baldatun Thoyyibatu Wa Robbun Ghofur [S.34:15].

لَقَدۡ كَانَ لِسَبَإٖ فِي مَسۡكَنِهِمۡ ءَايَةٞۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٖ وَشِمَالٖۖ كُلُواْ مِن رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥۚ بَلۡدَةٞ طَيِّبَةٞ وَرَبٌّ غَفُورٞ ١٥

  1. Sesungguhnya bagi kaum Saba´ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”

Andai Negara Saba tetap dalam ideology yang bersumber dari kesaktian matahari seperti anggagapan mereka tadi, maka kestabilan Negara dan keabsahan pemerintahannya tadi, dalam pandangan Alloh tidak lebih dari sekedar berkubang dalam kekafiran [S.27:43] dan kedzaliman [S.27:44].

                Jangankan dalam pandangan Alloh Al Hakiem, dalam pandangan seekor burung saja, betapapun makmur dan demokratisnya sebuah darul kuffar, tatap diyakini sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai apapun di akhirat ! [S.27:22-26].

Sungguh menyedihkan …. hari ini justru para ulama, lebih terpikat untuk tinggal dan membangun Darul Kuffar, demi melihat kemajuan pembangunan dan kekokohan strukturalnya, dari pada menyingsingkan lengan baju bekerja dan berjuang membangun Negara yang diasaskan pada nilai nilai Islami, ternyata masih kalah jeli dengan seekor burung dalam melihat hal hal yang hakiki ….

                Sepeninggal Nabi Sulaiman [S.34:15], keadaan negeri saba kembali pada keingkarannya  [S.34:16]. Timbulah bencana yang menenggelamkan negeri tadi Na’udzubillahi min dzalik ..

                Insya Alloh paparan di atas bisa memberikan gambaran pada setiap hamba Alloh bagaimana pentingnya nilai sebuah Negara yang akan dibela dalam pengaruhnya terhadap nilai nilai pribadi kita di hadapan Ilahi, Aamiin …

Advertisements