Bagi mukminin, kehadirannya di tengah tengah masyarakat, bukan sekedar ikut nimbrung bergaul, bukan sekedar ingin punya tetangga. Tapi sesuai dengan janji sucinya : Inna sholaati wa nusuki wa mahyaya wamamati lillahi Robbil ‘Alamin [S.6:162], semata mata ingin menyerahkan segalanya tadi, mulai dari sholat dan ibadah, hingga hidup dan mati adalah murni dipersembahkan dan berada di bawah pengaturan Syari’at Ilahi.
Di dalam hidup tentu isinya bukan sekedar sholat dan ibadah termasuk berkeluarga, bermasyarakat, berhukum dan bernegara hingga berhubungan internasional, nah kesemuanya itu dalam cita cita luhur seorang mukmin ingin agar ‘’lillahi Robi ‘Alamin’’. Lillah, ma’alloh, billah, Ilalloh [karena Alloh semata, disiplin dan optimis sebab diri kita bekerja sendiri tapi bersama dan terus diawasi ilahi, dengan aturan ilahi, menuju Alloh yang Maha Abadi]. Hanya ini saja keinginan mukminin.

Yang lain boleh berubah, alat bisa diganti, cara bisa dimodernisasi, tapi hukum, tujuan hidup dan ketha’atan tidaklah akan berubah Lillahi Robbil ‘Alamin….

Dari itu, ketika berbicara tentang pengelolaan masyarakat, pengorganisasian masa dalam lembaga yang memiliki tertib dan daya paksa hukum, maka pilihan mukminin, selalu didasarkan pada cita cita mulia tadi. Mereka akan memilih mana yang menyelamatkan keutuhan Islam sebagai Dien yang diamanahkankepadanya. Dan wajar bila mereka tidak memilih Negara yang tidak melindungi keutuhan wujud Islam sebagai Dien yang integrated[1]tadi. Orang mungkin bisa merayu dengan berbagai dalih, tapi siapa yang akan membela kita di akhirat bila Alloh tidak ridho atas pilihan kita yang terlanjur keliru ? ? [S.45:18-20]

ثُمَّ جَعَلۡنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ فَٱتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ١٨ إِنَّهُمۡ لَن يُغۡنُواْ عَنكَ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ٔٗاۚ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۖ وَٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلۡمُتَّقِينَ ١٩  هَٰذَا بَصَٰٓئِرُ لِلنَّاسِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٢٠

  1. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui
  2. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa
  3. Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini -S.45:18-20-

Mereka tidak jor  joran mencari  kekuasaan semata mata asal berkuasa, mereka hanya ingin agar Negara itu jadi alat bagi sempurnanya ibadah kepada Alloh. Namun justru karena keinginan yang sederhana ini, mukminin di belahan bumi manapun yang dikuasai Darul Kuffar senantiasa jadi musuh yang diburu[S.85:8]. Commited[2]  pada Kerajaan Ilahi, memang beresiko tinggi, tapi itulah jejak para Nabi ! [S.85:9].

Mana Negara bagi mukminin, hati anda sudah bisa menjawabnya. Mana saja yang didirikan untuk bertaqwa, yang jadi alat bagi berlakunya Hukum Alloh, yang menjadi wadah efektif bagi undang undang yang Islami. Dan jelas itu bukanlah Darul Kuffar !

[1]  = bersatu terpadu, tidak terpisah pisah, kaaffah

[2]  = terikat, bersetia.

Advertisements