Negara atau daulah berbeda dengan pemerintah [imaroh], seperti berbedanya rumah dengan keluarga. Atau bila dibandingkan dengan computer maka Negara ibarat perangkat kerasnya [hardware] sedang pemerintah adalah piranti lunaknya [software]. Keduanya berjalin kelindan namun bukanlah berarti sama.

Negara adalah lembaga hukum tertinggi, organisasi yang memiliki otoritas untuk memberlakukan undang undang, bersifat mengikat, effektif terhadap sosok manusia yang tinggal/terikat kesetiaan dengannya, Adapun pemerintah adalah figure figure manusia yang mengelola Negara tadi, mengisi fungsi fungsi organisasi yang ada di dalamnya.

Negara bersifat rigid [kaku], inhuman [bukan manusia], namun memberi bentuk dan warna masyarakat yang ada di dalamnya. Masyarakat dan seluruh manusia yang ada di dalamnya, mungkin saja memiliki variasi tingkah laku, pola pola sikap tertentu, tetapi kebebasannya memodifikasi sikap, pola hidup dan warna masyarakat tadi senantiasa beredar dan melingkar dalam garis garis Negara tersebut.

Adapun pemerintah adalah manusia manusia yang merupakan isi dari organisasi Negara tadi. Merekalah para pelaksana yang mentransfer [memindahkan] nilai nilai Negara tadi menjadi prilaku menusiawi.

Dari perbedaan tadi maka absahnya satu Negara beda dengan absahnya satu pemerintahan. Sebab syarat syahnya suatu pemerintahan tidak sama dengan syarat syahnya suratu Negara.

Di dalam Islam ada tida jenis Negara : Darul Islam, Darul Kuffar ahdi, Darul Kuffar harbi.

Dikatakan Darul Islam, manakala Negara tadi didirikan di atas asas Islam dan hukum yang tertinggi di dalamnya adalah Al Quran dan Al Haditsush Shohieh. Tanpa memperdulikan apakah komposisi muslimin di dalamanya. Baik mereka termasuk minoritas, maupun mayoritas.

Adapun Darul Kuffar adalah Negara yang didirikan d atas dasar selain Islam [apapun namanya]  dan tidak berhukum Al Quran dan hadits Shohieh. Tidak peduli jumlah muslimin di dalamnya mayoritas ataupun minoritas. Bila Darul Kuffar tadi tidak memerangi Darul Islam, bahkan menjalin perjanjian dengannya maka disebut Darul Kuffar ‘Ahdi [Sebagian ulama ada yang menyebutnya sebagai Darul ‘Ahdi saja]. Tetapi jika Darul Kuffar tadi bersikap merugikan, mengganggu, merongrong apatah lagi menyerang Darul Islam, maka ia berubah menjadi Darul Kuffar Harbi [sebagian ulama menyebutnya sebagai Darul Harbi saja].

Darul Islam diwajibkan menjaga perjanjian dengan Darul Kuffar manakala telah terjadi perjanjian damai antara keduanya, kecuali bila kebijakan Darul Kuffar tadi berubah merugikan Islam. Maka Pihak Darul Islam wajib mengembalikan perjanjian tersebut dengan cara yang jujur dan tidak boleh mengkhianati secara sepihak atas perjanjian yang telah dibuat tersebut [S.8:58]. Bila Darul Kuffar merusak perjanjian atau menyerang agama dan Negara Islam maka wajib seluruh mukallaf yang ada di dldalamnya untuk menunaikan kewajiban suci membela Negara Islam tadi.

Di dalam darul Kuffar mungkin saja dipimpin oleh pemerintah yang syah atau tidak syah. Yang jelas apapun status pemerintahnya maka Darul Kuffar akan berakhir di neraka !

۞أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ كُفۡرٗا وَأَحَلُّواْ قَوۡمَهُمۡ دَارَ ٱلۡبَوَارِ ٢٨

جَهَنَّمَ يَصۡلَوۡنَهَاۖ وَبِئۡسَ ٱلۡقَرَارُ ٢٩

وَجَعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا لِّيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِهِۦۗ قُلۡ تَمَتَّعُواْ فَإِنَّ مَصِيرَكُمۡ إِلَى ٱلنَّارِ ٣٠

Tidakkah kamu memperhatikan orang orang yang menukar nikmat Alloh [Al Islam] dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke dalam Darul Bawar [negeri/lembah kebinasaan] ? Yaitu Neraka Jahannam, mereka masuk ke dalamnya ; dan itulah seburuk buruk tempat kediaman ! Orang orang kafir tadi telah menjadikan tandingan tandingan bagi Alloh [Ada sesuatu yang lain yang diangkat untuk menandingi otoritas Alloh dalam menentukan dan mengatur pola kehidupan], supaya mereka menyesatkan manusia dari jalah Alloh. Katakanlah : ‘’bersenang senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu adalah neraka !’’ [S.14:28-30]

Mengapa demikian ? Sebab Darul Kuffar adalah wujud nyata pembangkangan terhadap kekuasaan Alloh. Dimana Negara sebagai lembaga hukum tertinggi, justru tidak dijadikan sebagai sarana untuk menegakkan undang undang Ilahi di muka bumi. Sebagai mukminin tentu akan gerah hati, tak betah tinggal dalam Negara yang kehadirannya justru merupakan ujud nyata dari kekafiran [S.49:7].

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ فِيكُمۡ رَسُولَ ٱللَّهِۚ لَوۡ يُطِيعُكُمۡ فِي كَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ لَعَنِتُّمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِي قُلُوبِكُمۡ وَكَرَّهَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ وَٱلۡعِصۡيَانَۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ ٧

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus [S.49:7]

Dari itulah mengapa secara suka rela mukminin memilih hijrah ke Madienah, meninggalkan segala ikatan emosional terhadap tanah airnya sendiri, demi keutuhan iman tadi. Mengikuti pertimbangan rasa, keburu cinta tanah air, hingga betapapun Negara tadi menolak hukum Islam tetap dibela habis habisan, disinyalir sebagai kecintaan terhadap tempat tinggal melebihi kecintaan pada Alloh Rosul dan Jihad. Sikap demikian justru akan menghambat keberlangsungan petunjuk dan mengundang siksa [S.9:24], Na’udzubillahi min dzalik…

Mungkin orang meronta menolak keterangan di atas dan berkata :

‘’Yang penting kan diri kita pribadi tho’at kepada Alloh, perkara urusan pemerintahan, menjalankan undang undang, bukan kita yang bertanggung jawab. Itu adalah tugas aparat Negara, merekalah yang harus mempertanggung jawabkannya kelak di Yaumil Akhir, bukan kami !!’’

                Baiklah kita simak ayat ke 14 dan 15 dari Surat Ibrohim [14],

وَلَنُسۡكِنَنَّكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ ١٤

وَٱسۡتَفۡتَحُواْ وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٖ ١٥

  1. dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku”
  2. Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka) dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala

 

di sana dikabarkan kepastian penyesalan orang orang yang terpuruk jatuh ke dalam Neraka, mereka tidak dikatagorikan sebagi orang orang kafir, namun dipanggil sebagai orang orang yang dzalim. Di Neraka itu mereka memohon pembebasan hukum, dan mengulang hidup di dunia kembali. Dengan janji, andai Alloh kembalikan mereka ke muka bumi, mereka akan menjalankan undang undang Ilahi dan petunjuk Rosul. Alloh menolak permintaan mereka dengan dua alasan : [1] Dulu ketika hidup di dunia,merasa mapan hingga merasa tidak akan binasa walaupun tidak mentha’ati Alloh dan Rosul [secara utuh dan menyeluruh] yang kedua [2]Mereka dahulu tinggal di tempat [negeri, Negara] yang penduduknya dzalim [tidak melaksanakan hukum Alloh, lihat S.5:45, Ujung ayat]. Padahal contoh, perumpamaan, bahkan ayat sudah cukup jelas mengingatkan madhorotnya tinggal di Darul Kuffar itu !

Secara bergurau kawan saya ada yang berkata, yang masuk neraka menurut Kitab Alloh, hanyalah mereka yang kafir, dzalim dan fasiq saja, dalam kasus ini sebatas mereka yang menjadi pelaksana hukum/aparat, tapi tidak memutuskan perkara dengan hukum Alloh [S.5:44, 45, 47].

إِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَىٰةَ فِيهَا هُدٗى وَنُورٞۚ يَحۡكُمُ بِهَا ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ لِلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ عَلَيۡهِ شُهَدَآءَۚ فَلَا تَخۡشَوُاْ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗاۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤ وَكَتَبۡنَا عَلَيۡهِمۡ فِيهَآ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَيۡنَ بِٱلۡعَيۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصٞۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةٞ لَّهُۥۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٤٥ وَقَفَّيۡنَا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم بِعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡإِنجِيلَ فِيهِ هُدٗى وَنُورٞ وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَهُدٗى وَمَوۡعِظَةٗ لِّلۡمُتَّقِينَ ٤٦ وَلۡيَحۡكُمۡ أَهۡلُ ٱلۡإِنجِيلِ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فِيهِۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤٧

  1. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir
  2. Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim
  3. Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa
  4. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik

-S.5:44, 45, 47-

Adapun rakyat yang tinggal dan meresa tentram di bawah naungan hukum non Wahyu tadi, karena dia hanya jadi objek hukum, tentu tidak harus masuk neraka. Mereka Cuma dimasukkan ke dalam botol, dan botol itulah yang dileparkan ke dalam neraka …..

Yah, kita perlu sedikit bergurau menghadapi penanya model begini, sebab dari pembelaan dan penyangkalannya, cenderung ‘’ mencari pembenaran’’ ‘’bukan mencari kebenaran’’…

Advertisements