Penolakan Rosul SAW ketika ditawari para pejabat Quraisy memang benar, namun tidak tepat kalau kita jadikan pernyataan Rosul SAW pada moment tersebut sebagai dasar untuk menyimpulkan keseluruhan target perjuangan Rosul SAW yang 23 tahun tadi.

Melihat keseluruhan jalan ceritanya, ketika itu beliau ditawari 3 hal bukanlah tanpa syarat, tapi dengan syarat agar beliau ‘’meninggalkan da’wah Islam’’. Nah karena ada syarat inilah beliau menolak tawaran tadi. Andai Quraisy itu berkata ketika menawarkan :

‘’Wahai Rosul SAW, terima kasih atas seruan engkau pada ajaran yang mulia ini, sekarang silahkan engkau yang memimpin kami, jadi raja kami, kami jadi warga yang setia di bawah undang undang yang diamanahkan Alloh pada anda,’’

Insya Alloh Rosul SAW tidak akan menolaknya, Justru karena bersyarat itulah beliau menolaknya [ngapain  cape cape jadi raja, repot ngurus rakyat kalau tidak bisa memberlakukan syari’at Islam yang diamanahkan kepadanya.] Kesimpulannya Beliau tidak menerima tampuk kekuasaan tersebut, karena  yang dipimpinnya adalah rakyat kafir, yang berasaskan pola hidup kafir pula. Tentu tidak demikian halnya kalau rakyatnya rakyat Islam dan system kekuasaan yang berlakupun Islam pula, sejarah cukup menjadi saksi.

Dari sini pun kita mendapat pelajaran bahwa dalam Islam yang penting sistemnya dulu Islami, persoalan orang, sekalipun budak hitam berambut seperti kismis, jika secara undang undang dia berhak memimpin, semua warga wajib mentho’ati dan memberikan bantuan guna melengkapi segala kekurangannya sebagai manusia yang tidak luput dari kelemahan.

Apakah anda mengkhayal kalau si X yang jadi presiden sebuah Daruf Kuffar lantas bisa berbalik jadi Daulah Islamiyyah ? Salah salah malah orangnya yang digusur rakyat sebab dianggap menyeleweng dari asas Negara ! Anda mau ambil contoh bahwa ternyata Khalifah Umar bin ‘Abdul Aziz, bisa memperbaiki praktek satu kerajaan yang tadinya berantakan penuh pelanggaran ? Jangan salah menyimpulkan … beliau memimpin Daulah Islamiyyah yang sempat diselewengkan pemimpin sebelumnya, Hukum yang berlaku sudah hukum Islam, beliau bukan mengubah asas Negara, tapi memurnikan setelah dinodai. Harap jelas !

Jadi penolakan Nabi SAW menjadi raja menunjukan bahwa yang jadi masalah bukan ‘’orangnya’’  tapi ‘’sistemnya’’ ! Sebab siapapun yang memimpin, bila system yang berjalan diasaskan pada nilai nilai kuffar maka yang berjalan adalah kekafiran belaka. Tapi bila sistemnya sudah Islam, sekalipun yang memimpin hanyalah budak hitam dengan kepala keriting seperti kismis, tetap wajib ditho’ati ! Nyatalah kekeliruan  orang yang berharap harap penggantian kepemimpinan di Darul Kuffar, dengan figure yang  nyantri’, dimana dengan penggantian itu ia meyakini akan terjadi perubahan yang Islami !

Kedua, beliau dalam kesempatan lain memang pernah berkata : ‘’ Aku Bukan raja’’, itu beliau ucapkan ketika para shahabat menunjukkan sikap penghormatan yang b erlebihan. Ini pun tidak berarti dari ucapan selintas itu menggambarkan bahwa Islam anti kekuasaan, Cuma memang istilah ‘’kerajaan ‘’ di dalam beberapa hadits berkonotasi kurang baik dibanding kekhalifahan. Yang jelas walaupun bukan kerajaan namanya, Islam tetap memerlukan sebuah kekuasaan untuk Kaffah. Buktinya Rosululloh SAW tidak terus menerus tinggal di bawah kerjaan Kafir Quraisy, sampai hijrah ke Madinah untuk apa ? Islam perlu otonomi yang mandiri untuk eksis !

Di dalam Al Quran kepemimpinan, pemerintahan dan kerjaan adalah anugrah dan karunia yang dijanjikan kepada orang orang yang tetap istiqomah walau tertindas, shabar, menunaikan perintah dan berpihak kepadaNya  [S.28:5 S.7:137, S.32:24, S.28:5, S.24:5 , S.2:129, S.21:73, S.38:26, S.6:165, S.2:30, S.2:247, S.5:20, S.3:26].

وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَنَجۡعَلَهُمۡ أَئِمَّةٗ وَنَجۡعَلَهُمُ ٱلۡوَٰرِثِينَ ٥

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) S.28:5

فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِ‍َٔايَٰتِهِۦٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ يَنَالُهُمۡ نَصِيبُهُم مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوۡنَهُمۡ قَالُوٓاْ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ٣٧

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: “Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?” Orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir S.7:137

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ٢٤

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami S.32:24,

إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ وَأَصۡلَحُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٥

Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang S.24:5

 

,رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيهِمۡۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١٢٩

  1. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana S.2:129

 

وَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ وَكَانُواْ لَنَا عَٰبِدِينَ ٧٣

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah S.21:73

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ٢٦

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan S.38:26

وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ ١٦٥

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang S.6:165,

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠

  1. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” S.2:30,

Lantas mengapa kita malah lari dan melemparkannya pada pundak orang orang yang kafir ? ?

Kekafiran saja bisa semakin laju menggelinding jika didukung oleh kekuasaan, apakah anda berfikir Islam tidak akan berkembang cepat jika ditunjang kekuasaan ? Tengok bagaimana percepatan daerah Islam berkembang pada masa Khulafaur Rosyidin ….

Atau anda berfikir bahwa Islam adalah anak yatim yang harus dilindungi dan dimomong kekuasaan lain ? Duhai Islam pengikutmu pun telah sekeji itu memfitnahmu ………..

Kesimpulannya penolakan beliau menerima tampuk kekuasaan pada masa kejayaan kafir Quraisy, dan penuturan beliau bahwa beliau bukan raja, sama sekali tidak bisa dijadikan bukti tidak berhajatnya Islam pada kekuasaan, apalagi kalau kita melihat S.9:33, S.48:28, S.61:9

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٣٣

  1. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai S.9:33,

 

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا ٢٨

  1. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi S.48:28,

 

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٩

  1. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci S.61:9

kalau disana disebutkan bahwa missi Rosul SAW adalah untuk memenangkan Islam di atas semua Dien, anak kecil saja tahu kalau menang itu yaaa …. berkuasa !

Bukankah kita tidak bisa menyimpulkan bahwa Rosululloh SAW tidak suka hanya karena misalnya beliau pernah berkata dalam satu kesempatan, ‘’Saya tidak mau makan, minum saja’’, harus dilihat dulu kenapa beliau berkata demikian, barang kali pada sa’at itu ….

Muhasabah 5 :

Disisi lain kita pun perlu sadar diri, barang kali saudara saudara bilang begitu, bukan buta terhadap pentingnya pengurusan dunia oleh Islam dan tegaknya kekuasaan Islam, namun sekedar ‘’mereaksi’’ saja dari sikap sikap kita yang selama ini lebih sering mengembar gemborkan pengelolaan dunia dengan Islam, lancar bicara soal perjuangan dan ilmu Negara, ‘’nyerocos’’ bicara politik, sampai sampai aspek aspek ruhaniahnya terabaikan, jarang sholat malam, kurang dzikir, abai shoum sunnat, kurang tawadhu …. Dan kalau ditanya orang tentang itu, jawabanya ‘’itu sich perkara kecil’’, tuntaskan dulu yang masalah utamanya, baru yang assesoris ….’’. Padahal Rosul SAW selama 23 berjuang tidak ada satu malampun yang sepi dari sholat tahajjud, do’a tadi [S.17:80] terus menerus dilantunkan semenjak diturunkan kepadanya SAW. Terus perjuangan siapa yang hendak dicontoh, apa perjuangan hitler yang sukses menumbangkan penguasa sebelumnya ? ? ?

Belum lagi urusan ilmu penunjang jihad, banyak diantara kita yang saking semangatnya ingin berjihad, sampai meninggalkan kewajiban belajar. Akibatnya, kita yang getol menyuarakan jihad, tapi justru banyak yang tidak tahu urusan dalam dalamnya syari’at Islam. Atau mengaji saja masih terbata bata, ini jelas kelemahan yang mesti segera dibenahi, sebab jangankan dalam penilaian orang lain. Diri kita sendiri pun rasanya ‘’endak pantes’’ kalau begini begini terus. Hari ini perintah qital belum lagi diserukan imam, nah … sambil menunggu waktu, alangkah baiknya kalau gelora jihad yang membara di dada ini diarahkan pada kesungguhan menuntut ilmu, membenahi yang kurang kurang[1]. Hingga pada sa’atnya nanti setiap langkah kita dibimbing ilmu. Di bawah cahaya hidayah, menerusi atsar shahabat dan salafush sholih.

Ingat nilai jihad kita bisa rusak bila tidak disinari nash nash yang shohieh, kerja keras kita hanya mempercepat sampai ke tempat yang salah bila tidak disertai pemahaman Islam yang benar. Sayang bila niat baik tidak dipelihara dengan pengetahuan yang luas.

Mari kita kurangi kegiatan ‘’membunyikan’’ thema thema itu dalam obrolan obrolan kita, sebab ia tidak akan wujud Cuma dengan cerita ‘’apa lagi pada kalangan awwam’. Angkatlah thema thema yang aman dan tidak menimbulkan fitnah, yang membuka kesadaran. Kemudian wujudkanlah cita cita kita dalam kerahasiaan perencanaan dan tindakan.

Menggembar gemborkan cita cita dan rencana kepada khalayak, hanya member kesempatan pada musuh untuk menjegal rencana mulia itu . Hati hati .. hari ini didindingpun bertelinga !!. Bicarakanlah hal hal yang umum umum saja bila anda berkumpul di tengah khalayak, pupuk kesadaran mereka pada akhirat, agar hidup menjadi lebih bertanggung jawab dan ‘’commited’’ dengan Islam. Insya Alloh kalau orang sudah cinta Islam, tuntutannya tidak akan kemana lagi.

Saya pernah mendengar komentar dari seorang ustadz dalam ceramahnya : ‘’Kalau kita mau bikin kebun tomat, tidak usah bilang bilang ke tetangga kiri kanan, bahwa kita akan buat itu, dan memaksa maksa pengakuannya … garap saja tanah kita baik baik, Tanami bibit tomat, kalau sudah tumbuh dan menghasilkan, biar tidak diomongkan mulut kita, orang akan menyebut ladang kita sebagai kebun tomat.’’

Ungkapan ustadz itu ada benarnya, apalagi di sa’at sa’at demikian. Cerita ‘’kebun tomat’’, memang harus dibatasi di sekitar ‘’yang berkepentingan’’ saja.

Dikatakan yang berkepentingan adalah : ‘’Mereka yang apabila diajak bicara tentang daulah, reaksinya akan mendekatkan kita pada sasaran dan hasil yang dikehendaki.’’

Sekalipun secara pribadi orangnya kafir, atau katakanlah sebuah Darul Kuffar, tapi bila kebijakan politiknya memberi angin baik pada keberlangsungan perjuangan DAULAH Islamiyyah, maka mereka lebih pantas diajak bicara, dari pada sosok pribadi muslim yang anti Daulah Islamiyyah.

Sejarah memberikan contoh, bagaimana Ja’far bin Abi Tholib, dengan gamblang menjelaskan kebijakan kebijakan dan langkah gerak Daulah Islamiyyah yang dipimpin Rosulullah SAW. Begitu gamblang tanpa tedeng aling aling kepada seorang raja Najasi yang beragama Nasrani. Mengapa sebab kebijakan politik raja Najasi [seperti dijelaskan Nabi SAW sebelum rombongan pergi ke Habasyah] adalah sangat menguntungkan perkembangan Dien yang tengah diperjuangkan tadi.

Sebaliknya Al Quran malah melarang kita membicarakan hal hal strategis, dengan orang yang mengatakan ‘’Kami beriman’’, bila dalam kenyataan mereka tidak suka Daulah Islamiyyah berjaya [Lihat S.:118-120].

Sebab menurut Quran, orang yang mengatakan ‘’Kami beriman pada Alloh dan hari Akhirat itu’’ ada yang tidak bersama sama dengan mukminin [Wamahum bimukminin S.2:6] ada yang bersama sama orang yang beriman [ma’al mukminin S.4:146]. Yang tidak bersama mukminin, adalah mereka yang berwalikan Kuffar, dan mengesampingkan kepemimpinan Mukminin dalam Daulah Islamiyyah, sebab tergiur stabilitas dan kekuatan Darul Kuffar [S.4:138-139]. Ada pun yang bersama sama mukminin adalah mereka yang sadar, kemudian [taba] kembali ke sabilillah, ishlah [berpartisipasi aktif membangun, mempertahankan sabilillah] dan ikhlas [tulus setia, walau tidak diiming imingi apa apa dari kehidupan duniawi [S.4:146]. Kita hanya bisa membedakan keduanya melalui garis Furqon, Alhamdulillah ….

[1] Dalam perjalanan ini, penulis pun tidak jarang meninjau kembali pemahaman yang sudah sudah, setelah bertemu dengan data baru yang shohieh. Dan ini tidak jadi masalah, sebab berubah ke arah yang baik adalah progressif, sedang bertahan padahal jelas salahnya berarti taqlid. Mari kita bangun Daulah Islam ini di bawah sinaran ilmu. Sebab dalam Qunun Asasi Daulah Islamiyyah ini, hukum yang tertinggi adalah Quran dan hadits shohieh. Sambil menunggu, kita koreksi kembali seluruh pemahaman kita , barang kali masih ada yang bertentangan dengan dasar hukum tertinggi Negara kita tadi.

Advertisements