Benar saya setuju itu ! Inilah kata pertama yang harus kita ucapkan ketika berhadapan dengan orang yang menyatakan demikian. Insya Alloh kalimat yang singkat tadi akan melegakan hatinya dan membuat obrolan selanjutnya lebih terbuka dan semakin memberi kesan …….

Tinggal sekarang, bila tadi anda menyebut murni hanya untuk mengembangkan agama, yang jadi masalah adalah bagaimana kerja Rosululloh SAW selama 23 tahum hingga agama tadi bisa berkembang dan mencapai tarap kesempurnaannya. Apakah waktu selama itu habis dengan ceramah demi ceramah, tabligh demi tabligh, atau adakah nabi mengupayakan hal hal lain yang bisa menunjang perkembangan agama tadi ? ? ?

Mari kita ibaratkan pada sebuah pohon, karena memang di Al Quran Rosululloh SAW dan ummatnya diibaratkan sebagai sebuah pohon yang terus bertunas [S.48:29]. Maka untuk berkembangnya diperlukan beberapa syarat :

  1. Bibit yang unggul.
  2. Penanam yang telaten.
  3. Tanah yang subur.
  4. Penjagaan yang kokoh dari berbagai gangguan.
  5. Pemeliharaan yang terus menerus, mengingat keadaan cuaca yang setiap sa’at bisa berubah, perlu kemampuan untuk mengantisifasi hal hal yang merugikan perkembangan tanaman secara sigap dan trampil, tepat guna dan berdaya guna.

Tanyakan dahulu, apakah si pemberi pendapat tadi setuju dengan persyaratan ini. Jika ‘’iya’’ maka mari kita lanjutkan pembahasan ini………..

Kembali pada tugas Rosul SAW sebagai pengembang agama, maka apakah yang diupayakan beliau agar agama itu berkembang ? Bila kita lihat tahap demi tahap dari usaha Rosululloh SAW, maka sama halnya dengan mengembangkan tanaman tadi[1].

Pertama, beliau lakukan pembinaan mental manusianya, sebagai bibit bagi pengembangan agama selanjutnya. Ini terlihat dalam banyak ayat yang menekankan pada kewaspadaan pribadi/keluarga. Misalnya saja

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَيۡكُمۡ أَنفُسَكُمۡۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهۡتَدَيۡتُمۡۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ١٠٥

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan S.5:105,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١٨

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan S.59:18.

وَكَذَّبَ بِهِۦ قَوۡمُكَ وَهُوَ ٱلۡحَقُّۚ قُل لَّسۡتُ عَلَيۡكُم بِوَكِيلٖ ٦٦

Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu” S.66:6,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَكُمُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنِ ٱهۡتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهۡتَدِي لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيۡهَاۖ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِوَكِيلٖ ١٠٨

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”S.10:108,

S.29:5-7.

Bila pada ayat ayat diatas tidak dibahas sedikitpun mengenai penegakan hukum, memberlakukan yang ma’ruf dan memberantas yang mungkar di kalangan masyarakat. Bukan berarti Islam memang tidak punya tanggung jawab ke sana. Tetapi pada tahap awwal memang itu tidak perlu dahulu dilakukan sebelum tercetak bibit unggul yang akan melaksanakan tugas tugas tadi di masa datang.

Pada Fase ini Rosul SAW diingatkan Alloh bahwa tugasnya hanyalah sebagai penyampai, Pembina kesehatan mental, tidak boleh memaksa, karena memang bukan pemaksa [S.88:21-22, S.10:99-100].

فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ ٢١  لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ ٢٢

  1. Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan
  2. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka

Ayat ayat ini sekarang sering disalah fahamkan orang. dijadikan dalih bahwa tugas Rosul SAW murni sekedar dakwah, bukan untuk memaksakan berlakunya hukum, seperti yang menjadi sifat Negara. Inilah buktinya –kata mereka– bahwa perjuangan Rosul SAW sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perjuangan Negara yang memiliki otorisasi hukum yang mengikat rakyatnya suka atau tidak suka.

Kesimpulan mereka jelas keliru, mereka lupa bahwa Al Quran adalah Kitab Tarbiyyah yang mengangkat kemampuan ummat untuk melaksanakan wahyu setahap demi setahap [S.84:19].

وَمَغَانِمَ كَثِيرَةٗ يَأۡخُذُونَهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا ١٩

Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [S.84:19]

Jadi pada tahap pertama memang tidak boleh main paksa paksaan. masalahnya sedang mencari bibit unggul. Kalau bibitnya jelek, buat apa dipaksa paksa jiwanya ditanami Dienul Islam, tokh tidak akantumbuh subur juga. Jelaskan saja, nanti yang jiwanya punya kualitas, ada rasa takut terhadap Alloh, mesti akan sadar dengan seruan tadi, adapun yang jelek [Al Asyqo] secara alami akan gerah dan menjauh [S.87:8-12].

وَنُيَسِّرُكَ لِلۡيُسۡرَىٰ ٨  فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ ٩  سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ ١٠ وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى ١١  ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ ١٢

  1. dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah
  2. oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat
  3. orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran
  4. dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya
  5. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)

Tinggal yang berkualitas sajalah yang sabar bersama Rosul. Inilah penyaringan namanya, bukan juga disaring kalau semua dipaksa menerima.

Lain halnya kalau Islam sudah punya daulah, Islam Diberlakukan sebagai hukum yang memaksa [Public Law], mau atau tidak, suka atau terpaksa hubungan antar manusia mestilah mengikut hukum Alloh. Kecuali yang sifatnya pribadi dan ritual, tetap diberi kebebasan penuh, selama tidak merusak ketertiban hukum Islam yang sedang berlaku.[2]

Kedua, peningkatan kualitas pribadi ini menanjak pesat, sebab didukung oleh kepribadian Rosululloh SAW, yang dengan penuh ketelatenan dan keshabaran memelihara dan mendidik kebersihan jiwa ummat yang dibimbingnya[3]. Lihat saja misalnya pada ayat ayat berikut ini : S.62:2

هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّ‍ۧنَ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ٢

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata

Malah di ayat lain, ketelatenan Rosul mentarbiyyah ummah ini dinilai sebagai nikmat, anugrah bagi ummat [S.3:164]. Beliau ibarat penanam yang telaten bagi pohon yang dikembangkannya.

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ١٦٤

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata S.3:164

Upaya yang ketiga dalam mengembangkan agama ini adalah mencarikan tanah yang subur bagi berkembangnya ajaran dan pengikutnya ini. Fase ini cukup memakan waktu dan pengorbanan. Rosululloh SAW dan ummat tidak henti hentinya mengusahakan ini. Sebab mereka diilhami oleh ayat bahwa :

Dan tanah yang baik tanam tanamannya tumbuh subur dengan seidzin Alloh [Robbnya]; dan tanah yang tidak subur, tanam tanamannya hanya tumbuh merana. Demikian Kami mengulangi tanda tanda kebesaran Kami bagi orang orang yang bersyukur [S.7:58]

Demikianlah keadaan tanaman dalam hubungannya dengan keadaan tanah tempat dia tumbuh, maka begitu pula halnya dengan Kalimah thoyyibah yang juga diibaratkan Alloh sebagai tanaman [S.14:24-25].

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٢٤ تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينِۢ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٥

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingatS.14:24-25

Jelas akan seperti itu pula perkembangan Rosululloh SAW dan Ummat yang juga dalam Quran diibaratkan tanaman yang senantiasa bertunas [S.48:29]. Perkembangannya hanya akan tumbuh subur dalam tanah [wilayah/territorial] yang menunjang tumbuhnya Dienul Islam.

Untuk tujuan inilah Rosululloh SAW berangkat ke Tho’if, beliau berharap masyarakat di sana bisa menerima kehadiran Islam dalam kehidupan mereka, tapi ternyata yang didapat hanyalah tekanan dan siksaan seperti yang dialaminya di bumi Makkah.

Baru kemudian muncul bibit bibit baru yang beliau temui di musim haji, mereka ini berasal dari Yatsrib. Menurut ukuran strategi, Yatsrib cocok untuk tumbuhnya pohon wahyu ini, di sana tidak ada kepemimpinan structural yang handal dan padu, sebuah negeri penuh sengketa yang memerlukan juru damai, hakim, pemimpin yang bisa menyudahi kemelut tersebut[4]. Tidak heran bila datangnya hidayah Islam, mereka sambut gembira, sebagai jalan keluar dari kerusuhan yang melelahkan tadi. Pandangan ini ditindak lanjuti dengan mengalirnya arus kepindahan mukminin dari mekkah ke Yatsrib, diantara motif kepindahan tersebut adalah mencari tempat yang memungkinkan ibadah bisa utuh dan penuh kepada Ilahi [S.29:56,S.4:97-100]

يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ أَرۡضِي وَٰسِعَةٞ فَإِيَّٰيَ فَٱعۡبُدُونِ ٥٦

Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja S.29:56,

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمۡۖ قَالُواْ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوٓاْ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٗ فَتُهَاجِرُواْ فِيهَاۚ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ٩٧ إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلۡوِلۡدَٰنِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةٗ وَلَا يَهۡتَدُونَ سَبِيلٗا ٩٨ فَأُوْلَٰٓئِكَ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَعۡفُوَ عَنۡهُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَفُوًّا غَفُورٗا ٩٩ ۞وَمَن يُهَاجِرۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُرَٰغَمٗا كَثِيرٗا وَسَعَةٗۚ وَمَن يَخۡرُجۡ مِنۢ بَيۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ١٠٠

  1. Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali
  2. kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)
  3. mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun
  4. Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

S.4:97-100

Benar saja di tempat yang baru ini Nabi SAW dan ummah berhasil naik ke posisi penentu. Yatsrib jadi tempat berjalannya Dien Islam. Dalam bahasa arab, isim makan [=kata benda tempat] dari Dien adalah madienah. Dari itu nama Yatsrib berganti menjadi Madinatul Munawwaroh [Tempat berjalannya Dien yang diterangi/dicahayai hidayah Ilahi][5].

Beliau membuat undang undang yang mengatur masyarakat madinah, yang disebut Shohifah Madinah. Di dalamnya diatur hubungan antar bani[6] yang menjadi warga Daulah Islam madinah. Dinyatakan

Dari sekian banyak tugas tugas kerosulan, ada tida hal yang ingin penulis ungkap di sini. Pertama Rosul SAW diutus untuk memuliakan akhlaq manusia [Al Hadits] dan kita wajib menyambutnya, kita benahi akhlaq kita. Kedua Rosul SAW diutus untuk membebaskan beban dan belenggu yang mengungkung ummat [S.7:157, S.9:128],

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٥٧

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma´ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung S.7:157,

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin  S.9:128

kita pun wajib mendukungnya, kita bantu saudara kita, kita cintai mereka sebagaimana mencintai diri sendiri. Ketiga Rosul SAW diutus untuk memenangkan Dienul Islam di atas segala aturan hidup yang diidolakan manusia[S.9:33],

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٣٣

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai  S.9:33

inipun wajib dilanjutkan. Tidakkah ini difahami, wahai orang orang yang rajin menela’ah kitabNya ??

Muhasabah 4 :

Disisi lain, boleh jadi kalimat kalimat seperti tadi[‘’Rosul hanyalah murni mengembangkan agama bukan untuk mendirikan negara’’] sebenarnya Cuma reaksi saja dari sikap kita yang kasar dalam berdakwah. Porsinya terlalu ditekankan pada pentingnya berdiri Negara dan membela Negara, padahal orang yang diajak bicara belum sadar akan pentingnya agama, akibatnya jadi salah terima.

Mari kita sadarkan terlebih dahulu muslimin ini pada pentingnya Islam sebagai Dien yang berdaulat penuh dalam dirinya, ingatkan pada hari akhirat, bagaimana akibatnya jika diri jauh dari hukum Alloh, bagaimana kesempurnaan hukum Alloh itu sebenarnya. Insya Alloh kalau mereka telah mengerti hal ini, dari nurani mereka sendiri akan muncul kesimpulan perlunya Negara yang jadi sarana utama berlakunya keseluruhan hukum Islam yang mereka muliakan tadi.[7][8]

[1] Untuk gambaran lebih jelas bagaimana upaya nabi mengembangkan agama, dari satu kumpulan aqidah, menjadi susunan masyarakat bernegara yang memberlakukan syari’at Islam, lihat buku Prinsip Prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah hal 25-86

[2] Silahkan saudara merujuk pada kitab kitab yang membahas tentang pengaturan kafir Dzimmi dalam Daulah Islami, di sana jelas sekali bahwa sekalipun kafir, tetap terikat oleh hukum ketertiban Islam, mereka tidak boleh minm minuman keras di tempat terbuka, membuka aurat di tempat umum, dsb dsb. Adapun bila semua itu dilakukan dilingkungan mereka sendiri dan tidak jadi fitnah bagi rakyat yang muslim [mengadakan upacara agama, dansa dansi di lingkungan mereka sendiri] Maka tidak ada kewajiban Pemerintah Islam untuk menceganya, sepanjang itu dibolehkan menurut keyakinan agama mereka. [Lihat buku minoritas Non Mulsim di Negara Islam, tulisan DR. Yusuf Qodhowi]

[3] ibarat petani yang rajin tadi pada persyaratan no. 2 di atas

[4] Dalam buku ‘’Prinsip Prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah hal.38 dikatakan bahwa Makkah Jahiliyyah] lebih teratur pengelolaan pemerintahannya di bawah aristokkrasi Quraisy, wajar bila perjuangan memberlakukan tata hukum baru [Al Islam] lebih sulit ketimbang di Yatsrib yang memang ketika itu tidak memiliki persatuan dan kesatuan di bawah satu pemerintahan. Situasi yang tidak baik ini berasal dari konflik terus menerus antara Aus dan Khozroj, bahkan semakin parah ketika Yahudi melibatkan diri pula.

[5] Dien sebenarnya tidak tepat bila diartikan sebagai agama, sebab Dien mencakup arti undang undang, kekuasaan, kepatuhan pada undang undang, serta balasan. Madinah berarti wilayah berundang undang, yang didalamnya ada kekuasaan yang dipatuhi, lengkap dengan sanksi bagi pelanggar serta fasilitas positif bagi yang tho’at. pada jaman dahulu, wilayah tertib berperaturan [zona tertib hukum] ini biasanya ada di kota kota, itulah sebabnya secara simple banyak orang langsung saja mengartikan madinah sebagai kota. Hari ini pengertian madienah tadi makin menyempit lagi, diartikan bahwa madienah itu adalah sekeping kecil dari bumi Alloh yang luas di dekat Makkah sana. Ini tidak sepenuhnya tepat, sebab jika dikembalikan ke asal katanya madienah adalah zona hukum, sebagaimana Fir’aun menyebut wilayat negaranya sebagai madienah pula. Mengapa karena di wilayah itulah hukumnya ditegakkan [lihat S.7:123]. Sebenarnya Madinatul Munawwaroh [dalam arti Wialayah berundang undang Islam penuh pancaran cahaya hidayah Ilahi] haruslah terus diluaskan hingga menutup seluruh bumi. Inilah perwujudan dari rahmatal Lil ’Alamin nya misi Islam. Itulah sebabnya dalam fiqih Islam setiap kepala Negara Islam berjaya wajib memobilisasi jihad ke luar negeri minimal 2 kali dalam setahun. Demi perluasan Madinah itu sendiri, agar rahmat dan berkat akibat diberlakukannya Wahyu bisa merata ke seluruh bumi. Semoga Alloh beri hidayah semua pemimpin Daulah Islam yang hari ini tengah berperan mengelola rakyat dalam territorial yang berdaulat, Aamiin.

[6] Piagam madinah hanya mengatur beberapa bani saja, ini bukan berarti Rosululloh SAW mengkerutkan Islam hanya sebatas madinah, atau Rosul berfaham kebangsaan yang mengurus………………………………………………………….

[7]

bisa melaksanakan shoum dengan baik di usia belasan tahun ? Mengapa, sebab sejak kecil sudah dilath menyambut seruan ‘’Yaa Ayyuhal ladzina Amanu kutiba ‘alaikumushi shiyam [S.2:183]. Tapi mengapa muslimin ketika telah beranjak dewasa justru menjadi orang orang yang paling tidak setuju dengan berlakunya seruan Alloh ‘’Ya Ayyuhal ladzina amanu kutiba ‘alaikumul qishos [S.2:178-179]. Mereka anti undang undang Islam ? Sebab fikiran kearah memberlakukan hukum Islam, tidaklah dibinakan dari awwal. Malah banyak upaya yang justru mengikis cita cita itu dari fikiran Ummah. Na’udzubillahi min dzalik.

[8] Jangan sampai, orang yang belum tahu apa apa sudah diajak bicara Negara, jelas orang jadi curiga, mau dibawa kemana saya ini……..Apalagi kita fahami gencarnya upaya setiap Darul Kuffar menumbuhkan cinta dan bela negara dari setiap rakyatnya. Cara apapun dilkukannya, kalau perlu menggunting dalil dan memotong motong sejarah. Apapun bisa mereka lakukan, agar rakyat jadi cinta Negara. Itu telah dilakukan bertahun tahun, makanya jangan tergesa gesa yang anda beri penerangan bisa berubah wala [kesetiaan] dalam sekedar 2 atau 3 kali pengajian saja…..

Advertisements