Kalimat di atas benar dan perlu kita dukung, sebab dalam keyakinan kita setiap Rosul tidak datang untuk menghembuskan api pemberontakan. Sebab Islam melarang pemberontakan [S.16:90, al baghyu = bughot, melawan pemerintah], yang diwajibkanNya hanyalah perang [S.2:216]. Dalam definisi hukum, perang amatlah berbeda dengan pemberontakan.[1]

Menurut Quran para Rosul datang bukanlah untuk menghujat satu pemerintahan, tapi untuk menjauhi setiap thoghut hingga bisa utuh mengabdi pada Ilahi. Dari seruan ini, ada yang mendapat hidayah, ada pula yang tetap dalam kesasatannya[2]

Dalam prakteknya ayat ini diwujudkan dengan jalan membangun pemerintahan sendiri, dimana para pemegang urusannya [Ulil Amri] diambil dari kalangan mukminin sahaja [S.4:59]. Sebab jika tidak demikian maka nilai mukmin muslim mereka akan berganti jadi gelar munafiq [S.4:138-139].

Antara mengelola pemerintahan sendiri dalam Daulah Islam berjuang, dengan menghujat atau memberontak memang selembar benang tipis saja kelihatan bedanya. Tapi dalam praktek pelaksanaan tampak sangat berbeda sekali.

Orang yang memberontak, Nampak dengan kebenciannya yang sangat terhadap pemerintahnya sendiri.[3] Menuntut bagian yang lebih besar dari apa yang diajangkan Negara untuk rakyat yang seagama dengan dia. Selalu mengagung agungkan sejarah masa lalu, bahwa ummat jumlah yang paling banyak berjasa untuk negaranya, wajar kalau Negara memberikan porsi lebih besar bagi keleluasaan masyarakat muslimin mengamalkan agamanya, hingga pemberlakuan hukum Islam.

Sepertinya hebat, dia lupa bahwa negaranya secara undang undang tidak menyediakan keleluasaan sebebas itu, bahwa negaranya perlu memperhatikan kesamaan derajat dari agama lain yang juga rakyatnya.

Mereka lupa bahwa negaranya tidaklah di asaskan pada ajaran Dien Islam, hingga wajar jika banyak yang berbeda dengan prinsip ajaran Islam.

Sebaliknya, bagi para mujahid daulah Islam berjuang, yang sadar bahwa dirinya berada dan tengah membangun daulah Islam. Dia tidak akan ikut mengkritik, mencela kebijakan apalagi mencemooh pembangunan negara yang bukan negaranya.[4]. Perhatiannya tertuju penuh pada bagaimana agar negaranya maju dan bisa setara atau lebih dari Negara Negara yang kini telah memperoleh pengakuan dunia sebagai Negara yang berdaulat ke luar dan ke dalam.

Mujahid Daulah Islamiyyah sadar bahwa hari ini dirinya berada di tengah tengah rakyat Negara lawan, sebagai warga Negara asing gelap ia akan bertindak sangat hati hati. Ia berusaha mengelabuhi Negara musuhnya sedemikian rupa hingga kehadirannya tetap tidak disadari[5]. Sebab bila jati dirinya terbongkar, ia akan diperlakukan sebagai musuh Negara[S.60:2] bukan sebagai rakyat yang melawan aturan. Tidak ada siapapun dari rakyat mereka yang bisa membelanya, betapapun dekatnya kekerabatan ataupun tingginya pangkat simpatisan tadi.

Kalau Negara lawannya merupakan Negara beradab, ia bisa memanfa’atkan konvensi hukum perang Jenewa sebagai pihak yang ditawan negara musuh, tapi jika Negara lawan bertindak biadab maka tiada pelindung bagi mereka selain Maharaja yang ia berjuang mencari keridhoanNya. Ia tidak akan berkoar koar menampakkan jati dirinya, tapi akan menjalankan operasi secara tertib sebagaimana layaknya sebuah Negara berjuang dalam berperang dengan Negara lawannya.

Muhasabah 3 :

Marilah kita mengambil hikmah dari pernyataan ruwet tadi, seringkali mereka melontarkan nada seperti itu pada kita, karena sikap kita sendiri yang tidak menunjukkan kedewasaan sebagai warga Negara berjuang. Banyak di antara warga kita yang merasa dirinya sebagai pemberontak. Bahkan dengan bangga mendemostrasikan pembangkangannya terhadap setiap norma/aturan formal Negara lawan[6]. Sikap ini merugikan sekali, tidak mencerminkan kelihaian intellijen, akhirnya dari hari ke hari kebocoran perjuangan secara konyol sering terjadi :

‘’ … dan hendaklah kamu berlaku lemah lembut dan jangan menceritakan halmu kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka mengetahui tempatmu. Niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu atau mengembalikan kamu kepada millah[7] mereka dan jika demikan niscaya kamu tidak akan menang selama lamanya !’’[S.18:19-20]

Bila kapan kapan anda berhadapan dengan orang orang yang mencaci maki Daulah Islamiyyah, memberikan penilaian sinis, salah faham dsb, maka janganlah terburu emosi untuk menimpalinya. Lihat dulu siapa yang berkata itu, bila statusnya memang masih rakyat musuh, biarkan saja. Sudah sewajarnya setiap warga Negara memandang dengan penuh rasa permusuhan atas Negara yang jadi musuh negaranya, dan itulah yang didoktrinkan negaranya atas mereka, jadi jangan kaget…..

Atau di antara kita banyak pula yang keliru, membicarakan masalah pembangunan Daulah Islam pada muslim yang masih berstatus rakyat musuh, jelas ini salah sebab mereka sama sekali tidak ikut memiliki Negara anda ! Ingat anda dengan mereka hanyalah saudara seagama, tapi bukan saudara sedaulah. Mereka bukan Bithonah[teman kepercayaan] anda untuk hal hal tersebut itu !

Hai orang orang yang beriman janganlah kamu ambil sebagai bithonah orang orang yang di luar kalanganmu, karena mereka tidak henti hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu, mereka menyukai apa yang menyusahkanmu. Telah nyata kebencian dari mulutnya, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka terlebih besar lagi, Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat ayat Kami, jika kamu memahaminya.

Beginilah kamu, kamu mencintai mereka, padahal mereka tidak mencintai kamu, dan kamu beriman pada kitab seluruhnya [sedang mereka tidak, lihat S.15:90-93]. Apabila mereka menjumpai kamu mereka mengatakan : ‘’Kami beriman’’;dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari mereka lantaran marah kepadamu. Katakanlah kepada mereka : ‘’ Matilah kamu dengan kemarahanmu itu !’’ Sesungguhnya Alloh mengetahui segala isi hati.

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. [S.3:118-120]

Hai orang orang yang beriman janganlah kamu jadikan musuh Ku dan musuhmu sebagai teman setia, yang kamu sampaikan kepada mereka rahasia rahasi perjuangan karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu ……………….Jika kamu benar benar keluar hendak berjihad dan mencari keridhoanKu [maka janganlah kamu berbuat begitu] kamu memberitahukan kepada mereka berita berita rahasia [perjuangan] karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya [membocorkan rahasia perjuangan], maka sesungguhnya dia telah sesat dari jalan yang lurus [S.60:1]

[1] Lihat S.16:36, mengenai arti sesat di sini, bisa merujuk pada S.4:60, yakni sikap mengaku beriman pada wahyu, tapi urusan hukum, tetap saja berhukum pada thoghut !

[2] Lihat S.16:36, mengenai arti sesat di sini, bisa merujuk pada S.4:60, yakni sikap mengaku beriman pada wahyu, tapi urusan hukum, tetap saja berhukum pada thoghut !

[3] Seringkali kalu berceramah ia menyuntik semangat pengikutnya dengan berkata : Pemerintah mengabaikan hukum Islam, pemerintah kita membiarkan pelacuran berkembang, malah legalisasinya, pemerintah kita…pemerintah kita…… Mendengar ini saya tersenyum sendiri, dia betapa jeleknya struktur yang melindungi mereka, tapi koq betah ya ia tinggal di dalamnya.

dengan penuh keyakinan ia berkata Pemerintah Kita katanya……

[4] Andaikan anda berada di Negara Fhilipina, bekerja di sana, apakah anda akan ikut resah, protes mencaci maki pola pembangunan dan berbagai kebijakan pemerintah di sana ? Tentu tidak, karna keberadaan anda di sana hanyalah ikut mencari nafkah, tidak terlibat sedikitpun dalam tanggung jawab pembangunan Negara. Secara emosionil maupun rasionil anda tidak terikat apapun dalam Negara itu, walaupun hari hari terlihat segala aktivitasnya …..

[5] Ia berusaha mendapatkan KTP dari Negara lawannya, memenuhi prosedur normal yang berlaku dalam negara tersebut, semata mata sebagai kepintaran operasi intellijennya. Sebagai khud’ah dalam harbu seperti yang disebukan Rosululloh saw. Para pemberontak tidak suka dengan ini, sebab menilainya sebagai kepatuhan pada pemerintahan yang dzalim. Tapi para mujahid Daulah Islam melakukan semua itu bukanlah sebagai kepatuhan [sebab bukan terhadap pemerintahnya] tapi pengelabuan. Aparat mereka dengan dipenuhinya segala persyaratan formal tadi bukanlah sedang ditho’ati, tapi sedang ditipu ! Cara berperang beda dengan cara memberontak atau protes. Kalau perang ada khud’ah [tipu daya –HR.Bukhory], sedang memprotes memang sejak awal ingin diketahui bahwa yang protes tidak menyukai pihak yang diprotesnya.

[6] karena masih merasa kalau mengikuti aturan berarti tho’at pada pemerintah, padahal kalau sudah beda Negara tidak begitu lagi hukumnya, bukan lagi tho’at tapi penipuan. tentunya dalam batas batas yang tidak merusak aqidah Islam sebagai nilai hukum tertinggi. Kalau punya KTP, Akte Kelahiran, bermotor pakai helm dsb dsb tentu tidak melanggar ‘aqidah, tapi terkadang banyak saudara kita yang menilainya sebagai mengurangi keutamaan diri sebagai mujahid….. sikap sikap begini perlu dibenahi lewat penerangan yang persuasive.

[7] kembali ke pangkuan ibu pertiwi, naturalisasi, kembali ke Negara yang berasas non Islam.

Advertisements