Pertanyaan di atas benar adanya, bahkan didukung oleh pernyataan beliau sendiri di dalam hadits. Tinggal sekarang perlu diperjelas, apakah definisi/batasan akhlaq mulia tadi / Apakah sekedar manis bicara, ramah, murah hati dan senantiasa tersenyum pada siapapun, atau bagaimana ?

Bila melihat persaksian isteri beliau [Aisyah ra] ketika ditanyai tentang akhlaq Nabi SAW. Jawabnya Kaana khuluquhul Quran [adalah akhlaq beliau itu Al Quran]. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan memuliakan akhlaq manusia adalah menjadikan akhlaq manusia seperti akhlaq beliau sendiriberakhlaq Quran !

Berakhlaq Quran berarti semua perilaku manusia tersebut terikat dengan hukum hukum Quran, senantiasa berjalan di atas perundang undangan wahyu. Tidak dikatakan mulia akhlaq manusia, bila hukum yang dijalankan bukanlah Quran,  perintah yang diakui bukanlah perintah Ilahi.

Mari kita ambil sebuah misal, bila seorang tuan memerintahkan pada hambanya untuk membersihkan rumah, tapi si hamba hanya membungkuk bungkuk saja di depan tuan tadi sambil memuji muji, tanpa beranjak pergi membersihkan rumah.  Maka tentu sikap kelakuan hamba tadi malah mengundang kemarahan tuannya. Pada sa’at lain rumah sang tuan kecurian, kemudian disuruhnya sang hamba untuk mengejar dan merebut kembali barang yang dicuri tadi. Si hamba bukannya berlari mengejar, ia malah tetap saja membungkuk bungkuk, memuji dan menyebut nama tuannya, atau ia malah menyanyi nyanyi mengulang ulang perintah menangkap pencuri tadi. Bagaimana kira kira reaksi tuannya atas kelakuan hamba tadi, adakah ia disebut hamba yang berbakti ? ? Bisakah kita katakan bahwa hamba model begitu berakhlaq mulia ? ?

Begitupun kita selaku hamba Alloh, Ia menyuruh kita untuk menata dunia ini dengan hukum yang datang daripadaNya [S.4:105, S.5:49-50],

إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُۚ وَلَا تَكُن لِّلۡخَآئِنِينَ خَصِيمٗا ١٠٥

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat S.4:105

وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن يَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَٱعۡلَمۡ أَنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعۡضِ ذُنُوبِهِمۡۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ ٤٩ أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

  1. dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik
  2. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin S.5:49-50

 

Lantas apa yang kita lakukan ? Sekedar membungkuk bungkuk memujinya ? Itukah akhlaq mulia ?? Alloh menyuruh memotong tangan pencuri, mendera bujangan yang berzina, membagi waris sesuai ketentuannya, anda lihat apa yang dilakukan kebanyakan yang mengaku hamba Alloh hari ini ? Bukannya bergegas mengusahakan terlaksananya perintah tadi, ia hanya membungkuk bungkuk saja, menyebut nama Alloh dan memujinya, atau mengulang ulang perintah tadi dengan nada yang syahdu merayu. Inikah akhlaq mulia ?

Nyata bahwa misi nabi memuliakan akhlaq, bukan sekedar menghaluskan budi bahasa, tapi menempatkan diri  sebagai sebenar benar hamba dari Robbnya, yang cerdas, giat, penuh kerja keras mewujudkan setiap titahNya.[1]

Ada yang mengatakan bahwa akhlaq mulia itu adalah memelihara hablumminalloh dan hablumminannas. ini tepat sekali. Cuma sayangnya mereka membuat definisi sendiri mengenai apa itu hablumminalloh, dan apa pula hablumminannas !

Mereka artikan bahwa hablumminannas itu artinya baik dengan orang, memelihara hubungan sesama manusia. Padahal dalam kitab kitab tafsir, hablumminannas, bukan sekedar baik dengan orang tapi dalam pelaksanaannya memiliki ikatan structural. Lebih jelas kita lihat catatan kaki Terjemahan Al Quran Departemen Agama RI no. 218[2]. Disana disebukan dengan jelas definisi hablumminalloh dan hablumminannas tadi :

maksudnya perlindungan yang ditetapkan Alloh dalam Al Quran dan perlindungan yang diberikan Pemerintah Islam atas mereka.

Jadi hablum minannas yang dimaksud di sana adalah interaksi positif[3] diantara sesama manusia, di bawah perlindungan Pemerintah Islam. Kembali kita bertanya, jika mereka mengatakan bahwa Nabi diutus untuk membangun akhlaq mulia, baik secara hablumminalloh maupun hablumminannas. Maka sudahkah kita berhablum minannas secara benar ? ? Jika belum,maka camkanlah ayat di bawah ini :

ضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيۡنَ مَا ثُقِفُوٓاْ إِلَّا بِحَبۡلٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبۡلٖ مِّنَ ٱلنَّاسِ … ١١٢

Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada hablum minalloh dan hablum minannas ….[S.3:112][4]

Dengan demikian, nyatalah bahwa kemuliaan yang dbina nabi, secara tidak terhenti sekedar pada pembenahan etika pribadi, tapi berlanjut hingga ummatnya berubah, dari sekedar para penggembala kambing jadi khalifah yang menata manusia dengan perundangan Ilahi. Jika ini yang difahami mereka tentang akhlaq mulia, tentu apa yang kita lakukan akan mendapat sokongan dan bantuan, bahkan partisifasi aktif mereka. Insya Alloh, Aamiin…

[1] Usaha Rosululloh membentuk akhlaq mulia, Nampak sekali dalam kesungguhan beliau menyusun Konstitusi Madinah [Shohifat]. walaupun pada sa’at itu hukum hukum kemasyarakatan belum seluruhnya diwahyukan Alloh kepadanya. Lebih lanjut silahkan baca buku ‘’Prinsip Prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah’’ Karya DR.J.Suyuthi Pulungan hal 1-8.

[2] Yang merupakan hasil karya 10 orang ulama dan merujuk pada 53 kitab acuan.

[3]  =Saling berhubungan, berbuat, bekerja secara baik

[4] Ada yang mengatakan bahwa mereka di ayat itu maksudnya ahli kitab, bukan muslimin, kita jawab : ‘’Ahli kitab saja akan hina dimanapun berada/di bawah pemerintahan apapun selain pemerintahan Islam, maka apatah lagi ummat Islam sendiri. Apakah anda fikir justru akan mulia, kalau di bawah pemerintahan Darul Kuffar ? ?’’

Advertisements