Bila menilik asbabul wurudnya [latar belakang keluarnya hadits] maka itu disabdakan nabi diatas, terjadi ketika kekuasaan Islam tengah berjaya memerintah. Sebab pada sa’at begini keinginan memimpin patut dicurigai, apalagi di tengah berlimpahnya pengelolaan harta.

Dalam kitab Riyadhush Sholihin, hadits hadits yang berkenaan dengan ini, terkumpul sedemikian rupa, yang satu di antaranya adalah harapan Abu Dzar ra. untuk diberikan satu posisi dalam keaparatan. Ini menunjukkan pada sa’at itu Islam memang tengah berkuasa.

Kesimpulannya adalah : Meminta jabatan pada Daulah Islamiyyah yang berjaya adalah haram, bila dalam diri tidak ada kemampuan dan terdorog motivasi ingin mengambil keuntungan pribadi dari jabatan tadi. Makruh, bila dalam diri ada kemampuan, sedang orang tidak mengenalinya dan ia ingin agar orang memperhatikannya, adapun ketika pilihan jatuh padanya, ia amanah serta ikhlas menjalankannya.

Namun ketika tidak ada orang lain yang mampu mengelola, atau di sa’at darurat ketika para penanggung jawab tidak lagi menjalankan tanggung jawabnya [baik karena syahid, sakit atau tertawan] maka di sa’at itulah berlaku washiyyat Imam : ‘’Apabila kamu terputus hubungan dengan para panglima, maka ketika itu prajurit petit pun harus sanggup jadi imam !’’ Ini bukan lagi ‘ambisi’ tapi sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab untk melanjutkan perjuangan Daulah Islamiyyah ……

Jangan sampai terjadi di suatu hari, ketika para unsur pimpinan terhalang dalam melaksanakan tugas, lantas anda biarkan roda pemerintahan vakum, hanya karena alasan takut disangka orang ambisi kepemimpinan. Anda takut pada penilaian orang, tapi tidak takut dituntut di hadapan Alloh membiarkan Daulah Islamiyyah terkubur jadi sejarah belaka !!

Menurut para ulama shufi : Tidak beramal karena takut pujian orang itulah yang disebut riya, sedang beramal dengan mengharap sanjungan manusia berarti musyrik ! Kita berlindung pada Alloh dari kedua sifat demikian, Aamiin

Sebaliknya, bila kuffar yang tengah menjalankan kekuasaan, maka meminta jabatan sebanyak banyaknya dan seluas luasnya pada mereka adalah sunnah [melihat kasus Nabi Yusuf AS]. Sebab posisi posisi tadi adalah perpanjangan tangan dari kekuasaan itu, bila ia dipegang kita, maka berarti satu demi satu berhasil kita lumpuhkan efektifitasnya. Bahkan ia bisa berbalik jadi alat kita dalam memainkan peran perjuangan. Sepanjang si peminta jabatan itu tetap utuh berbakti pada Daulah Islamiyyah, maka kiprah dia di Darul Kuffar, bukanlah kemunafikan, tapi begitulah operasi intelijen harus bekerja di daerah musuh musuhnya !

Munafik adalah menyembunyikan kekafiran, sikap ini tercela dan mengundang laknat. Adapun menyembunyikan keimanan maka ia terpuji disisi Ilahi, hingga Alloh pun mengukir perjuangan seorang mukmin yang menyembunyikan imannya d tengah tengah aparat Fir’aun, menjadi salah satu surat Al Quran[1]. Walaupun demikian, kita tetap harus waspada dengan kemungkinan adanya Double agent[2] di tengah tengah kita.

[1] Silahkan baca muqoddimah surat Al Mukmin [S.40]

[2] Mereka yang ke kita mengaku bahwa jabatannya di darul kuffar, adalah demi kepentingan Daulah Islamiyyah, menjadi agen sensor informasi buat kita. Pada sa’at yang sama ia pun menjadi alat musuh untuk memantau seluruh aktivitas kita. Kita tertipu dengan alasan ‘’siasat’’, padahal sebenarnya kita tengah ‘’disiasati’’.Na’udzubillahi min dzalik …

Advertisements