Tentu saja tidak, sebab yang kita perjuangkan adalah tegaknya hukum Islam, setelah ia tegak kewajiban kita adalah memeliharanya dengan pengelolaan yang handal. Perkara siapa yang memimpin, tidak harus saya ataupun si anu.Tapi dipilih siapa yang paling ahli. Sebab kata Nabi SAW ; ‘’Apabila suatu urusan [apalagi mengenai pemerintahan –pen] diserahkan pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah sa’at kehancurannya’’.

Perlu dicamkan bahwa ‘’Bilamana seseorang memilih pemimpin yang disukainya, padahal dia tahu bahwa sebenarnya ada yang lebih tepat selain yang dipilihnya, maka ia telah berkhianat kepada Alloh, Rosul dan Mukminin’’[H.S.R. Hakim][1]

Kita tentu tidak ingin menghancurkan apa yang telah susah payah diperoleh, urusan perjuangan menegakkan hukum adalah tanggung jawab bersama, tapi urusan siapa yang harus mengelola pemerintahan adalah urusan kemampuan. Siapa yang lebih mempu, dialah yang lebih layak ! Mukmin yang menyadari ini, tentu bisa membedakan antara tugas jihad dan urusan pemilihan kepemimpinan. Suatu hal yang sulit dibedakan oleh Muslim Dzimmi tadi[2].

Kalau anda tidak ikut berjuang, kemudian setelah menang, mengangkat angkat diri minta dipilih, bolehlah itu dituduh ‘ambisi’. Tentu berbeda dengan mereka yang sejak awal berada di front perjuangan, secara alami mereka akan menempati posisi posisi dan tanggung jawab tertentu. Bisakah ini disebut ambisi, pada masa perjuangan, semakin tinggi jabatan, bukannya semakin enak, malah semakin empuk jadi sasaran musuh ? ?

Katakan pada mereka yang mudah menuduh tadi : Kalau anda benar benar bertanggung jawab dan siap berhadapan dengan resiko, mulai sekarang  pun anda boleh menggantikan kedudukan kami, bahkan mempimpin kami sekalian …. Insya Alloh tum, di sa’at genting begini,  tidak ada seorangpun di antara kaimi yang ingin jadi pemimpin, malah kalau boleh memilih, mendingan jadi yang paling bawah, asal tercatat tetap di pihak Alloh. Sebab Islam mengajari kami untuk tidak meminta tugas/jabatan, tapi tidak boleh pula menolak tugas/jabatan yang dimandatkan pimpinan kepada kami ![3]

Lagi pula apa sich ambisi itu ? Bila kita lihat di kamus, arti aslinya adalah desire for power[4] Artinya keinginan, hasrat untuk mendapatkan kekuasaan. Alhamdulillah tum walaupun kalah dalam banyak hal masih banyak yang utuh cita citanya berhasrat pada kekuasaan Islam, ketimbang mereka yang mati semangat dan pasrah pada kekuasaan Darul Kuffar ! Kita lebih suka bertemu dengan orang yang masih ambisi kekuasaan [tinggal membersihkan motivasinya] dari pada mereka yang malah nrimo dikuasai orang !

[1] Lihat juga ‘’Pedoman Islam Bernegara’’,Ibnu Taimiyyah, terj Firdaus AN. Cet Bintang Bulan, 1997, hal 39 – 70

[2] Begitulah prinsip yang mesti dipegangi oleh ahlul halli wal ‘aqdi bila mengangkat dan memberhentikan pimpinan. Adapun Daulah Islam yang dimasuki, jelas telah ada pemimpinnnya, kewajiban rakyat bukan lagi memilih milih mana pemimpin yang cocok di hati, sebab urusan kepemimpinan Negara, apalagi di  masa perang tidak bisa disamakan dengan keadaan damai, yang kapan saja bisa diusulkan penggantinya, tetapi rakyat harus berusaha sekuat tenaga membantu dan menguatkan pemerintahan yang telah ada, berdasarkan asas legalitas perundang undangan yang berlaku. ‘’Tho’atilah pemimpinmu walaupun ia budak hitam yang berambut seperti kismis’’ begitu kesimpulan sebuah hadits nabi SAW.

[3] Haram meminta tugas, haram menolak tugas sudah jadi tradisi perjuangan kita, walaupun tentu bukan berarti, mematikan kreatifitas bawahan ketika melihat peluang tanggung jawab yang lebih mampu ia lakukan, tidak juga bermakna harus memaksa maksakan diri dalam hal yang kita nyata tidak mungkin bisa melaksanakannya. Pernyataan di atas adalah motto bagi tetap terpeliharana keikhlasan dan keutuhan disiplin !

[4] The New Collin Australian Compact English Dictonary, 1985 hal 15, definisi senada bisa dilihat pada kamus kamus lain.

Advertisements