Apa yang harus dilakukan Revolusi Islam? Pertanyaan penting yang membayang di pikiran mereka yang berubah menjadi revolusioner, yang tidak mau lagi menjadi awam dan diam. Ini reaksi wajar dari mereka yang sadar ingin segera menjalankan revolusi tapi tak tahu harus memulai dari mana. Untuk bangsa yang pernah menjalankan revolusi besar dan memenangkan revolusinya, Indonesia ternyata telah melupakan kerja kerasnya sendiri sehingga melupakan pengalaman berharganya sendiri soal berevolusi.

Revolusi bukanlah kumpulan perbuatan mengerikan seperti tuduhan banyak orang selama ini. Revolusi bukanlah ajang pertumpahan darah, bukan peristiwa pemaksaan kehendak yang penuh kekerasan, bukan perilaku anarkis tanpa arah, juga bukan perbuatan anti-damai yang berujung pada penderitaan bersama. Revolusi adalah pergerakan dari hal-hal buruk menuju perbaikan. Revolusi adalah perjuangan atas tujuan-tujuan mulia yang layak diperjuangkan. Kebaikan yang bernilai dan layak diperjuangkan itulah yang membuat para pengusung revolusi sedia berkorban sehingga tidak ada istilah pengorbanan yang sia-sia atas revolusi.

Lantas apa itu Revolusi Islam? Revolusi Islam adalah revolusi menuju perbaikan yang dilakukan oleh umat Islam. Karena dilakukan dan diperjuangkan oleh umat Islam maka segala tujuan yang ingin dicapai ialah idealitas atau keparipurnaan berdasar Syariat Islam yang bersumber pada ajaran dalam Al Quran dan Hadist Rasul. Revolusi Islam bukan ajang untuk membunuhi mereka yang bukan orang Islam karena tidak pernah ada pedoman itu dalam ajaran Islam sendiri.

Revolusi Islam Indonesia adalah revolusi Islam yang dilakukan oleh umat Islam di Indonesia dengan memperhatikan seluruh unsur dalam kegiatan perikehidupan di Indonesia. Dengan memahami kalimat tersebut maka kita tahu kalau revolusi Islam itu menyangkut semua persoalan penting dalam kehidupan, jadi bukan perbuatan kecil-kecilan atau persoalan remeh-remah. Kita tidak memulai revolusi dari perbuatan remeh seperti menganjurkan buang sampah di tong sampah.

Revolusi secara alami bukan perbuatan evolutif dari hal kecil jadi hal besar, dari ranah individu diterapkan ke keluarga lalu ke tengah masyarakat. Revolusi selalu menyangkut hal-hal besar dalam kehidupan karena revolusi ialah perubahan dari satu perilaku banyak manusia menuju satu perilaku banyak manusia lainnya. Objek revolusi selalu sistem pergaulan sosial dalam satu masyarakat. Dia menyoroti persoalan sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial budaya, termasuk sistem hukum. Dari sini dapat kita pahami kalau kegiatan revolusi merupakan tindakan seragam yang dikerjakan banyak orang karena kesamaan kehendak. Artinya apa yang dilakukan dalam revolusi bukanlah tindakan sendiri-sendiri yang dikerjakan berdasar persepsi masing-masing orang. Revolusi tidak menghendaki perbedaan pemahaman berlabel ‘revolusi ala gue’ yang bersumber pada individualitas.

Agar tindakan revolusi bisa dijalankan, satu-satunya cara yang bisa ditempuh adalah dengan membuat suatu penyatuan kehendak yang utuh, bisa dikenali, dan yang terpenting populer. Utuh maksudnya adalah penyatuan kehendak yang menjadikan suatu tindakan dipandang telah mewakili seluruh revolusi apabila tengah dikerjakan.

Kemudian ‘bisa dikenali’ adalah adanya ciri-ciri istimewa yang melekat pada suatu tindakan sehingga tindakan khas revolusi bisa dibedakan dengan tindakan biasa yang tidak revolusioner. Terakhir adalah populer, yaitu suatu tindakan revolusi harus berasal dari massa atau dikerjakan oleh kumpulan manusia yang berjiwa revolusioner pula. Tindakan revolusi yang tidak populer di kalangan rakyat tidak bisa dijalankan, demikian juga sebaliknya bila tindakan yang dilakukan oleh massa ummat yang tidak revolusioner tidak bisa disebut sebagai tindakan revolusi melainkan hanya tindakan rutinitas belaka.

Supaya para Revolusioner Islam tidak menyuarakan pesan revolusi dengan suara sumbang yang berbeda-beda, kita memandang perlu dibuatnya suatu rangkuman tindakan revolusi yang dapat dipahami dan diamalkan oleh para revolusioner dari kaum Islamis Indonesia di manapun dia berada. Hal ini nantinya bisa dirundingkan oleh para pengemban Revolusi Islam sendiri namun untuk saat ini kita mengusulkan suatu Semboyan Revolusi Islam yang mencakup tiga jalan perjuangan revolusi sebagai berikut:

Pertama: Pengakuan

Perjuangan mendapatkan pengakuan dilakukan dengan kemampuan kita untuk terus-menerus tampil dengan identitas Islam. Kita harus bisa menunjukkan bahwa keberadaan golongan Islamis dalam kehidupan berbangsa itu nyata apa adanya, tidak bisa disamarkan dengan identitas Nasionalis, juga tidak bisa disembunyikan dalam ranah individu kewarganegaraan. Revolusioner Islam harus bisa hadir sebagai golongan Islamis dalam setiap pembahasan permasalahan bangsa Indonesia, karena kita akan urun rembug mengatasi permasalahan bangsa dengan solusi ajaran Islam.

Bagaimana kalau pengakuan tidak kunjung didapatkan? Hal itu tetap tidak akan mempengaruhi eksistensi kita karena logika dasarnya adalah ada/eksis dulu baru diakui/recognize. Perihal pengakuan memang tidak bisa diperoleh begitu saja seperti guyuran hujan. Dia harus diperjuangkan tahap demi tahap, tingkat demi tingkat dengan penuh keuletan. Apabila di satu tingkat keberadaan kita belum diakui itulah saatnya kita menaikkan posisi tawar kita untuk kembali diperhitungkan. Pembangkangan atau pecahnya kondisi kerusuhan (civil unrest) adalah contoh pilihan tindakan yang akan dihadapi lawan revolusi jika mengabaikan aspirasi golongan Islami. Selama apapun lawan kita menahan diri untuk memberi pengakuan maka selama itu pula kita menuntut dan memberikan tekanan keras agar kita tidak lagi dipandang sebelah mata.

Hal terpenting dari perjuangan mendapatkan pengakuan sebenarnya ada pada kegigihan kita untuk terus tampil beridentitas Islam. Selama kita sendiri sadar dan tidak pernah merasa malu untuk tampil sebagai seorang pejuang Islam itu sudah menunjukkan jiwa seorang pemenang. Kehendak kita untuk menaklukkan realitas ruang dan waktu dengan eksistensi diri sebagai golongan Islamis akan diganjar Allah SWT dengan pengukuhan dirinya tersebut di muka bumi ini. Janganlah kehendak ini dihapus hanya karena tekanan batin soal kalah jumlah dengan alasan ‘lebih banyak orang Indonesia beridentitas Nasionalis daripada yang beridentitas muslim’. Apabila kita telah menjadi bagian dari realitas maka itu saatnya giliran lawan revolusi yang harus bersikap pada realitas: mengakui atau tidak mengakui. Kekuasaan yang tidak bisa menghadapi realitas (delusioning) akan mempengaruhi kemampuannya dalam mengambil keputusan atau bertindak dengan benar. Tidak ada yang bisa bertahan dengan mengabaikan realitas adalah titik keunggulan kita kaum Revolusioner Islam dalam perjuangan pengakuan ini.

Kedua: Segregasi (splitsing politiek)

Segregasi atau politik pemisahan adalah perjuangan yang mengikuti perjuangan mendapat pengakuan. Dia ialah konsekuensi logis dari perjuangan untuk mendapatkan status. Saat identitas sedang diperjuangkan maka segala ruang kebebasan dan kemampuan bertindak dari subjek yang berjuang juga harus terwujud. Saudara pembaca kami minta jangan bersikap apriori pada segregasi. Janganlah menyamakan splitsing politiek dengan pemisahan rasis seperti politik apartheid Afrika Selatan masa lalu karena keduanya berbeda jauh. Splitsing politiek sejalan dengan perjuangan kebebasan. Disini dapat diibaratkan budak yang telah memerdekakan diri dari tuannya harus memiliki kebebasan bertindak selaku manusia merdeka. Kami menamakan politik pemisahan karena perjuangan revolusioner di jalan ini sengaja ditujukan kepada saudara sebangsa Indonesia. Jalan agar kaum Islamis bisa dibedakan dan bisa berdiri sejajar dengan golongan anak bangsa Indonesia lainnya. Sejajar dengan kaum Nasionalis dan setara dengan golongan Sosialis.

Kalau identitas sebagai Islamis sudah nyata maka kita bisa menggunakan kebebasan kita untuk bertindak sebagai orang Islam. Kita tidak perlu lagi mengekor atau beridentitas ganda dalam bertindak pada persoalan-persoalan keindonesiaan. Tak perlu takut dicap sebagai ‘tidak nasionalis’ karena kita memang bukan golongan Nasionalis. Golongan Islamis berhak untuk ikut mengatasi permasalahan Indonesia dengan caranya sendiri mencintai negerinya. Akan kita buktikan kalau kita bisa memberi arti pada kejayaan Nusantara dengan berjuang secara militan dan patriotik.

Mengapa jalan perjuangan segregasi ditujukan kepada bangsa Indonesia? Disebabkan kebebasan bertindak akan menyangkut hubungan horizontal di antara golongan anak bangsa. Hasil dari memiliki kebebasan bertindak sebagai umat Islam dapat diwujudkan dengan kemampuannya bertindak dengan cara yang berbeda dengan  golongan bangsa Indonesia yang lain. Jangan campur aduk pemikiran kaum Islamis dengan pemikiran golongan Nasionalis karena hal ini telah dipisahkan oleh splitsing politiek. Sehingga dari pemahaman ini, bangsa Indonesia hendaknya jangan lagi mengisyaratkan permasalahan Indonesia harus dilihat dengan cara pandang yang sama seolah-olah bangsa Indonesia itu homogen. Inilah arti negara persatuan sesungguhnya dan kita harus mulai berlatih untuk hidup dengan cara itu. Segregasi baru bisa berjalan saat kita punya kebebasan sendiri, punya independensi. Namun kita juga tak ingin dikenal hanya sebagai tukang tuntut karena Revolusioner Islam harus siap bertanggungjawab atas segala tindakan perbuatan kita sebagai orang Islam, termasuk sedia menghadapi kesulitan-kesulitannya sendiri.

Ketiga: Zakat dan Zuhud (sebagai karakter revolusioner)

Dari tiga jalan perjuangan yang ditunjukkan mungkin jalan ketiga ini merupakan yang paling penting karena ditujukan kepada diri sendiri, ummat islam bangsa Indonesia. Kita tidak mengajukan ini kepada NKRI, juga tidak mengajukan ini kepada anak bangsa Indonesia yang lain. Inilah jalan perjuangan untuk menjadi insan yang menunaikan zakat dan mengerjakan gaya hidup zuhud. Tunaikan zakat maksudnya bukan hanya kewajiban zakat dalam Syariat saja (soal nisab dan waktu setahun) melainkan hal generalisasinya yaitu banyak bersedekah, terutama punya kebiasaan menyumbang perbendaharaan harta untuk pergerakan Islam (baitul mal). Dari sikap ini nantinya semua bentuk pergerakan Islam punya kekuatan bertindak secara materil, secara finansial. Segala program kerja haraqah Islam dan aksi badan perjuangan Islam tidak lagi cuma omong kosong karena bisa dilakukan dari uang kas yang terisi. Jangan terlalu mudah menyerah untuk menahan diri dari sedekah hanya karena penghasilan materil yang kecil atau pas-pasan. Sisihkan sedikit penghasilanmu untuk menjadi hak Allah walaupun itu hanya senilai seratus duaratus rupiah, toh Allah akan membalasmu dengan perniagaan yang besar (keuntungannya).

Tak perlu malu dengan sedekah orang lain yang mungkin lebih besar jumlahnya karena Allah sendiri menilai semua itu dari derajat kecintaan kita pada agama-Nya. Bila soal harta benar-benar tidak ada di tangan, janganlah ragu untuk bersedekah dengan tenaga dan pikiran. Semua pergerakan Islam tak hanya membutuhkan biaya namun juga tenaga pelaksana, manusia yang mengerjakan semua itu. Mereka yang telah menyumbang harta sebenarnya juga tak luput dari kewajiban untuk menyumbangkan tenaga dan pikirannya karena pergerakan Revolusi Islam selalu menyangkut bertindaknya massa umat Islam, selalu menyangkut berjuangnya para pejuang Islamis.

Kebiasaan hidup zuhud juga penting untuk diamalkan. Zuhud yang dimaksud adalah gaya hidup sangat sederhana, asketik, atau bisa disebut selalu mencari kenikmatan minimalis. Gaya hidup zuhud sangatlah terpuji karena bisa membentuk kepribadian yang kuat, teguh pendirian, dan kebal godaan sebagai karakter yang sangat dibutuhkan oleh Revolusi Islam. Zuhud bukanlah hidup sesuai standar dimana kita sendiri sering koruptif menaikkan standar hidup. Sikap zuhud harus lebih ‘kejam dan keras kepada diri sendiri’ dengan menetapkan diri untuk hidup di bawah standar kebiasaan orang kebanyakan.

Hidup zuhud hanya karena keterbatasan pendapatan mungkin mudah dimengerti. Namun hidup zuhud sebagai pilihan padahal dia punya pendapatan ekonomi yang berlebih itu merupakan keistimewaan. Tetap memilih hidup zuhud padahal dia punya kemampuan untuk berfoya-foya, punya kesempatan untuk merasakan kemewahan. Zuhud tidak mungkin hedonis bahkan ia merupakan sikap yang berlawanan. Zuhud tak mungkin difitnah sebagai bakhil karena dia tidak gemar menumpuk harta, tidak suka memperbesar rekening pribadi disebabkan dia selalu menumpuk kekayaannya di baitul mal dan mengalihkan kekayaannya untuk kemaslahatan umat Islam.

Sikap zuhud adalah menahan diri dari keinginan untuk bersegera mencicipi kenikmatan perhiasan dunia. Demikian pula selalu tabah saat digoda dan kuat menetapkan tujuan hidup. Sebagai suatu pilihan menjalani hidup, zuhud juga bukan sikap yang sepi dari balasan Allah karena Dia Maha Melihat segalanya.

Setiap manusia yang memilih zuhud padahal ia mampu memiliki dunia maka akan diganjar dengan kehormatan. Kehormatan adalah hal mulia yang kini sering tergadai dan dilupakan banyak orang. Allah tak akan segan untuk meninggikan derajat manusia zuhud di antara manusia lainnya. Kekuatan sebagai hamba Allah yang terhormat ini yang akan diidealkan kaum Revolusioner Islam dalam berjuang.

Apakah peran Zakat dan Zuhud dalam perjuangan revolusi?

Zakat dan Zuhud adalah sikap yang diidealkan untuk dianut oleh setiap Revolusioner Islam dalam segala manifestasi perjuangannya memenangkan Syariat di Nusantara. Karena sikap ini dituntut untuk diberlakukan dalam tubuh kaum Islamis sendiri maka sikap ini bisa dinilai pula sebagai karakter revolusi itu sendiri. Unsur pendidikan, latihan, dan manfaat dari sikap ini merupakan modal besar bagi Revolusi Islam untuk bergerak.

Fungsi karakter revolusi (Zakat dan Zuhud) antara lain:

  • Untuk menghancurkan kelas dan menggantinya dengan tatanan sosial baru. Sekarang makin sering kita dengar orang Indonesia yang mencemooh sesamanya dengan kata-kata “nggak level”, “nggak kelas” atau “ngaca dulu dong”. Semua itu sebenarnya membuktikan bahwa sistem pergaulan sosial kita sudah tidak sehat.

Pembagian masyarakat berdasarkan kelas telah terjadi walaupun secara normatif selalu disangkal dengan penuh kemunafikan. Secara tak sadar banyak orangtua di Indonesia memberi wejangan agar putranya “jadi orang” dan “tak perlu hidup susah seperti orangtuanya”. Hal ini mengisyaratkan agar seseorang terus ‘naik kelas’ dan tak perlu lagi menengok ‘kelas yang ditinggalkannya’ karena ‘kelas yang lebih di bawah mengandung lebih banyak penderitaan’.

Dalam masyarakat yang nyata masih memegang sistem kelas bertingkat seperti itu, semua ide keadilan sosial dan kesetaraan di muka hukum sebagai idealisme berdirinya Negara Karunia Allah ini akan mustahil diwujudkan. Stratifikasi sosial macam ini sesungguhnya sudah merupakan penghianatan tak saja kepada persatuan nasional namun juga penghianatan kepada idealisme ‘umat yang diridhai Allah’ yang dicita-citakan masyarakat Islami.

Benar bahwa sistem kelas ini sangat terbuka, yang artinya siapa saja bisa masuk atau keluar asal memenuhi syarat (materi tentunya). Siapa saja boleh kaya hari ini dan melarat besok hari atau sebaliknya. Tetapi sistem bertingkat ini sangat mutlak dengan kelas yang terbentuk. Kelas atas tidak boleh dicampuri kelas di bawahnya karena kelas atas hidup dari menindas, menghisap, dan menghinakan kelas di bawahnya. Orang kaya biasa menghina orang miskin, majikan sering memperbudak pembantu atau pekerja.

Manusia yang terbiasa zakat dan zuhud akan mampu menghancurkan sistem jahat ini dan menggantinya dengan tatanan baru. Tatanan yang tidak mengizinkan sistem bertingkat yang menggencet manusia lain di bawahnya. Kaum Revolusioner Islam percaya kalau sistem kelas mungkin tidak bisa benar-benar dihapus dari sistem pergaulan sosial namun usaha yang dikerjakan revolusi setidaknya bisa menghancurkan stratifikasi sosial dan menggantikannya dengan diferensiasi sosial. Kelas yang diciptakan revolusi setidaknya hanyalah pembedaan fungsi di masyarakat sambil tetap menjunjung kesetaraan, kesejajaran tanpa syarat.

  • Untuk menimbun jurang pemisah kaya-miskin. Selama lebih dari 70 tahun berbangsa bernegara, Indonesia seperti belum pernah menemukan jalan keluar untuk persoalan kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin ini. Pembangunan yang dijalankan memang secara meyakinkan mengubah struktur masyarakat Indonesia yang dulu mayoritas petani kini menjadi mayoritas pekerja (buruh).

Para pemuda dengan mantap meninggalkan kegiatan agraris yang selama ini lekat pada gambaran kemiskinan dan beralih kepada kegiatan industri yang lebih menjanjikan kesejahteraan. Semakin pembangunan dilakukan semakin menganga jurang yang memisahkan si kaya dengan si miskin. Kesenjangan sosial atau social gap diketahui  dengan menghitung selisih pendapatan orang paling kaya per kepala dengan pendapatan orang paling miskin per kepala. Bandingkanlah antara pendapatannya para taipan, para konglomerat negeri ini dengan pendapatan kaum gembel gelandangan yang ada sekarang. Hasilnya bagaikan langit dengan bumi. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa sistem ekonomi sosial yang kita jalankan sekarang hanya menghasilkan ‘yang kaya semakin kaya sementara yang miskin semakin miskin’.

Perlu ditegaskan bahwa hingga detik ini belum ada formula ekonomi yang bisa menghapus atau mengecilkan kesenjangan ekonomi ini. Pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah pancasila  sekarang hanya upaya mengurangi jumlah orang yang tergolong miskin. Dengan kata lain, pemerintah pancasila Indonesia sekarang hanya berusaha menaikkan ‘batas bawah’ kemakmuran tanpa bisa mencegah meroketnya pendapatan orang kaya sebagai ‘batas atasnya’.

Keadaan seperti ini harus kita pandang sebagai berlangsungnya ketidakadilan, khususnya tidak adil di bidang ekonomi. Kaum Islamis sebenarnya telah menemukan formula penghapus kesenjangan ekonomi itu sejak negara pancasila ini baru berdiri. Santiaji ekonomi itu terkandung dalam Syariat Islam lewat hukum perniagaan muamalah namun keengganan golongan kebangsaan memberlakukan Pancasila versi Piagam Jakarta membuat jalan keluar dari Allah ini sepi tak dipedulikan.

Untuk mem-bypass semua kebuntuan ini, Revolusioner Islam harus berani mengusung revolusi ekonomi yang di dalamnya berkarakter zakat dan zuhud. Dengan Zakat dan Zuhud kaum Revolusioner Islam akan terlatih untuk membenci kekayaan karena terbiasa mencintai kesederhanaan. Dengan membenci kekayaan maka segala proses ‘orang kaya semakin kaya’ akan berhenti atau tertahan dan kekayaan tak lagi hanya bersirkulasi di kalangan berpunya. Sementara proses ‘yang miskin semakin miskin’ dihentikan oleh sikap yang terbiasa zakat sedekah. Tidak saja karena telah mendarah daging dalam individu Islamis namun juga dilembagakan dan di-distribusikan ulang secara masif, besar-besaran dan tanpa ampun oleh revolusi.

Sebagaimana ilustrasi di atas, jurang selebar dan sedalam apapun yang memisahkan si kaya dengan si miskin akan ditimbun dan diratakan oleh dahsyatnya sikap zakat dan zuhud. Sementara itu kemakmuran akan disempurnakan keindahannya oleh kemenangan Syariat yang akan menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, kecurangan sukatan, dan tipu daya ekonomi non-riel.

  • Untuk menghancurkan perilaku korupsi. Ada kenyataan pahit yang harus kita terima saat ada yang bertanya di bidang apakah Indonesia jadi juara dunia. Jawabannya adalah korupsi. Sinis namun realitasnya memang kasus-kasus korupsi dengan nilai fantastis selalu terjadi di Indonesia. Setiap tahun Negara pancasila ini selalu bisa memperbaharui ‘gelar’ itu dengan kasus baru dan nilai uang yang dikorupsi makin melangit. Semua tokoh nasional yang mencalonkan diri jadi presiden Indonesia selalu menyoroti hal ini dengan janji memperbaiki cara ‘perang terhadap korupsi’. Namun hasil peperangan yang diusung para elit ini terlihat sama saja bahkan terkesan cuma pemulas bibir karena kasus korupsi yang terungkap ternyata dilakukan oleh para elit pembesar negara ini sendiri.

Mengapa perang terhadap korupsi di negeri ini tidak pernah berhasil? Kita ummat islam bangsa indonesia berpendapat karena usaha pemberantasan korupsi di Indonesia dilakukan setengah hati dan tidak menyentuh pokok permasalahan alias salah sasaran. Kita hanya diarahkan untuk memberantas kejadian/peristiwa korupsi bukan diarahkan untuk menghancurkan perilaku yang mengarah/menuju korupsi.

Kriminalisasi korupsi hanya mendikte imajinasi kita membentuk kejadian korupsi sebagai ‘peristiwa hukum’ semata. Bingkai sempit ini diperparah dengan proses institusionalisasi, proses yang mempersempit sudut pandang dengan pelembagaan. Sebuah peristiwa korupsi harus ditangani oleh lembaga khusus yang bekerja untuk itu seperti KPK untuk dibawa ke meja hijau untuk kemudian kita tinggal terima hasilnya berupa vonis pengadilan tipikor.

Peristiwa korupsi jadinya cuma isu milik elit politik untuk menjatuhkan elit politik yang lain agar kekuasaan silih berganti. Di sisi lain peristiwa korupsi adalah pekerjaan rutin milik lembaga hukum pemberantasan korupsi. Rakyat hanya dijadikan penonton gaduh yang boleh setuju atau tidak setuju selama penanganan korupsi berlangsung. Apakah cukup hanya melibatkan peran rakyat cuma untuk ikut mengutuk korupsi karena secara etis telah melanggar hukum? Cuma mengajarkan ini di sekolah anak-anak kita sebagai perbuatan tercela dengan harapan mereka tidak melakukannya di masa depan.

Benar bahwa proses pengadilan atas korupsi melulu soal menemukan ‘barangsiapa’ dengan memulainya dari definisi kriminalisasi dilanjutkan ke proses institusionalisasi berupa tahap dan lembaga. Itu semua memang porsinya penegak hukum. Namun sayangnya korupsi bukan cuma soal hukum melainkan fenomena yang jauh lebih besar lagi sehingga pemberantasannya membutuhkan peran dari sebuah kekuatan raksasa, yaitu kekuatan rakyat yang diwakili umat Islam.

Pemberantasan korupsi harus dilakukan dengan skala imajinasi lebih besar lagi dengan mengarahkan rakyat/massa umat untuk menghancurkan perilaku yang menuju korupsi atau tempat yang menjadi muara korupsi. Tempat yang menjadi muara korupsi adalah kekayaan karena korupsi adalah perilaku jalan pintas untuk menjadi kaya raya.

Revolusi kita harus bisa mengarahkan massa umat Islam menghancurkan perilaku menuju korupsi yaitu dengan menghancurkan status kekayaan itu sendiri. Rakyat baru mau berperan, baru mau bergerak kalau diajak untuk membentuk dirinya sendiri. Zakat dan Zuhud pasti bisa membentuk masyarakat baru yang anti-korupsi karena sudah diradikalkan untuk membenci kekayaan.

Disini korupsi jadi kehilangan fungsi karena berlenggang dengan mobil mewah atau berlagak di muka rumah sebesar kastil bukan lagi perbuatan yang patut dihormati atau dikagumi. Bergelimang kekayaan di tengah usaha mati-matian mengangkat harkat hidup kaum dhuafa akan dicibir sebagai penghianat revolusi. Tak ada lagi wejangan untuk sukses itu mengikuti gaya hidup para konglomerat karena bekerja keras sambil tetap hidup bersahaja jauh lebih terhormat.

Masyarakat yang telah diradikalkan oleh revolusi mungkin akan kehilangan wajah moderatnya namun di sisi lain ia akan menanggalkan jiwa permisifnya, meninggalkan perilaku koruptifnya akan segala hal. Kehilangan wajah moderat adalah harga pantas yang harus dibayar bangsa Indonesia untuk mendapat masyarakat yang tak lagi permisif pada pelanggaran aturan. Secara sosiologis kita akan berubah menjadi umat baru yang disiplin, pekerja keras, dan rendah hati.

Itulah fungsi karakter revolusi, untuk menciptakan karakter gemblengan, karakter tahan banting guna menghadapi kesulitannya sendiri dengan ulet.

Penutup

  1. Tuntutan pengakuan identitas tidak bisa dilakukan secara pasif cuma seperti meminta pengesahan surat keputusan dari birokrat pejabat negara. Tuntutan pengakuan identitas harus dilakukan secara aktif dengan selalu beridentitas sebagai kaum Islamis dalam semua aspek kehidupan. Selalu menunjukkan kalau golongan kita itu ada dan nyata. Langkah konkrit bisa dimulai dengan aksi massa umat seperti pernyataan solidaritas nasib muslim, rapat akbar, petisi atas sesuatu hal, atau mosi tidak percaya. Agar tuntutan bisa didengar kadang kita harus tarik ulur soal kekuatan nyata di masyarakat dengan memasukkan unsur ultimatum seperti pembangkangan umum, pemogokan massal, atau ancaman pecahnya kerusuhan besar (civil unrest).
  2. Tuntutan segregasi bukanlah tindakan pemisahan berdasarkan rasisme atau sentimen ketidakadilan melainkan penunjukan adanya kebebasan bertindak. Kemampuan melakukan tindakan berbeda akibat dari independensi/kemandirian yang tidak boleh dicampuri golongan kebangsaan lainnya yang bukan Islam. Untuk itu tuntutan segregasi ditujukan kepada golongan bangsa Indonesia yang lain. Tindakan-tindakan lain yang mencerminkan kemandirian kita memanfaatkan ruang segregasi akan memperkokoh kedudukan Islam untuk berdiri diatas dengan golongan bangsa Indonesia lainnya.
  3. Amalan Zakat dan Zuhud adalah karakter Revolusi Islam, telah menjadi sifat-sifatnya revolusi dan bukan lagi pilihan sikap individu. Tidak boleh ada seorang Revolusioner Islam tidak ber-Zakat Zuhud dengan alasan kebebasan pribadi. Kita yakin kegigihan untuk melawan nafsu menikmati perhiasan dunia akan berbalas  langsung dari Allah berupa kehormatan (honour) sehingga kita tak mungkin dihinakan oleh makhluk apapun di muka bumi. Zakat dan Zuhud juga merupakan senjata ampuh yang selama ini dinantikan bangsa Indonesia untuk menghapus jurang pemisah kaya-miskin dan mesin penghancur korupsi segala lini yang menghantui keselamatan Indonesia. Kebencian kaum Revolusioner Islam pada kekayaan akan menjamin berlangsungnya distribusi kemakmuran secara adil. Membenci kekayaan saat paceklik keadilan ekonomi bukanlah tindakan bid’ah melainkan panduan praktis agar massa umat Islam pengusung revolusi bisa dijauhkan dari penyakit wahan. Penyakit hati yang selalu menggoda umat Islam dengan kemuliaan semu perhiasan dunia.
  4. Ketiga tuntutan tadi harus dirangkum dalam satu semboyan perjuangan agar mudah dimengerti dan ditanamkan dalam sanubari. Gunanya untuk menyeragamkan pesan dan tindakan kaum Revolusioner Islam dimanapun ia berada.

Siapkan dirimu untuk revolusi wahai pemuda, Camkan di dalam dirimu akan semboyan tiga juang Revolusi Islam demi kemenangan Syariat Islam menguasai negeri ini.

 

Advertisements