Bagian I : Apa Yang Dimaksud Dengan “Revolusi Islam”?

a) Arti Revolusi (politik)
Revolusi adalah sebuah perubahan radikal dan foundamental, perubahan yang penuh energy dan semangat, perubahan yang berani, perubahan yang penuh resiko, termasuk resiko yang paling buruk sekalipun.

Revolusi adalah hasil pergerakan yang bergerak cepat, yang menyertakan berbagai katalisator politik yang berakselerasi secara sinergis dan terarah akan tetapi hasilnya selalu akan tetap unpredictable (penuh dengan hasil yang sulit diprediksi).

Jika Revolusi itu terjadi didalam tatanan politik, maka akan muncul tatanan politik baru, yang berarti bukanlah hanya masalah system kekuasaan atau berganti rejim, lebih jauh dari itu Revolusi Politik berarti berubahnya landasan dan ideology politik suatu Negara, bahkan akan memunculkan Negara Baru yang mengganti Pemerintahan di Teritorial tersebut. Negara Baru bukan berarti harus membentuk dari nol, dapat juga bergantinya kekuasaan dari Negara yang satu oleh Negara lainnya.
b) Arti Revolusi Islam
Islam bukanlah hanya berbicara system ritual, didalamnya terdapat pula system politik bahkan masuk hingga dalam tatanan Etis, Islam mempunyai Etika Politik tersendiri yang dicontohkan Rosulullah dan para Sahabat. Maka Jika Islam menjadi Dasar Paradigma Gerakan Revolusi, Maka Islam telah menjadi Solusi praktis dalam Revolusi tersebut. Solusi dalam Ideologi Gerakan, didalam “ruh” Revolusi, dan sebagai Solusi Pengganti Paska Revolusi. Maka didalam Revolusi yang mempunyai “ruh Islam” didalamnya, Sistem Kekuasaan yang baru adalah berdasarkan Ideologi Islam. Sebuah tatanan politik yang bertauhid didasari oleh Hukum-hukum Allah dan Sunnah Rosulullah.
Dasar Revolusi Islam haruslah sesuai dengan Firman Allah didalam Al Baqarah:257 “…Yukh rijuhumm minal Dzdzulumaati ila Nnuur….”, Mengeluarkan Umat Islam dari Kegelapan kepada Cahaya.

Apa yang dimaksud dengan Kegelapan dan Cahaya didalam ayat tersebut serta korelasinya didalam Revolusi Islam?
57: 9. Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Quran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu.

2: 17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
65: 11. (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.
14: 5. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.

Dzulumaat/Kegelapan dan Nnuur/cahaya berdampingan dalam beberapa ayat didalam al Qur’an untuk menegaskan kehidupan kontradiktif yang mengiringi setiap sendi kehidupan manusia sebagai subyek dalam system kekhalifahan di muka bumi (beban yang diberikan Allah kepada Manusia). Keduanya merupakan pilihan yang tidak bisa berdampingan seperti halnya siang dan malam, dan Allah dengan kuasaNya akan menggilirkan keduanya dalam tampuk pimpinan politik juga didalam system social kemasyarakatan. Allah menyediakan posisi “Thoghuut” bagi manusia-manusia yang merasa dirinya mampu menandingi Allah (Andad) yang akan membawa sisi kehidupan manusia ke areal penolakan terhadap eksistensi ketetapan-ketetapan Allah, dan Allah menyediakan posisi Rosul (utusan) bagi manusia-manusia yang akan membawa sisi kehidupan dalam pengingkaran terhadap ketetapan Allah ke areal Kehidupan para Hamba Allah, yaitu sebuah system politik dan social yang kesemuaannya dibentuk berdasarkan ketetapan-ketetapan Allah. (terangkum dalam Al Baqarah:257)

Kegelapan adalah Kejahiliyahan. Kejahiliyahan bukanlah sebuah tatanan social dan politik yang disusun oleh intelektualitas yang rendah, bukan pula berarti bar-bar (tanpa tatanan social berkualitas), bahkan bukan pula sebuah system politik kuno yang dibentuk oleh system hukum yang sederhana. Kejahiliyahan adalah manifestasi pengingkaran terhadap ketetapan-ketetapan Allah. Suatu koridor yang mutlak harus dipegang teguh oleh mereka para Hamba Allah. Keluar dari koridor ketetapan Allah berarti sebuah “kedzaliman”. Dzalim bukanlah hanya berbicara penindasan politik yang identik dengan kekerasan. Dzalim merupakan ekses dari perbuatan-perbuatan yang diakibatkan perilaku yang keluar dari “koridor ketetapan Allah”. Dzalim bukan hanya perilaku penguasa yang menindas rakyatnya, Perzinahan dan Hedonisme lainnya yang merupakan perilaku social tanpa kekerasan juga termasuk suatu kedzaliman. Rosulullah bahkan menyebut Kedzaliman bukan hanya sebagai sebuah “kegelapan dunia”, tetapi juga mengakibatkan suatu “kegelapan akhirat” suatu symbol dimana unsur-unsur kebaikan yang mungkin ditimbulkannya tidak akan mendapatkan ekses positif disisi Allah.
· Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kezaliman itu akan mendatangkan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat kelak. (Shahih Muslim No.4676)

Ketika Allah memberikan azab berkelanjutan bagi sebuah penduduk negeri, maka Kejahiliyahan yang memunculkan kedzaliman itu akan bertahan lama menguasai negeri tersebut, akan diberikannya kekuatan politik penguasa dalam mempertahankan kejahiliyahannya. Hingga datang pada saatnya yang telah ditentukan olehNya, sebuah “azab yang pedih”, ketika Allah kemudian akan menggilirkan Kekuasaan dari Kegelapan kepada Cahaya.

· Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan mengulur-ulur waktu bagi orang yang zalim. Tetapi ketika Allah akan menyiksanya, maka Dia tidak akan melepaskannya. Kemudian beliau membaca firman Allah: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (Shahih Muslim No.4680)
Cahaya adalah Petunjuk Kebaikan, Cahaya adalah Kekuasaan yang Adil, Cahaya adalah Sistem Sosial Politik yang dinaungi ketetapan-ketetapan Allah yang akan memunculkan keselarasan dan keadilan. Akan memberikan suatu tatanan social yang dipenuhi unsur kebaikan hakiki dan dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat (rahmatan lil ‘alamin).
Cahaya adalah anti penindasan dan kedzaliman, Sumber Cahaya hanyalah Islam yang dibawa oleh Utusan Allah terakhir Muhammad Rosulullah SAW. Cahaya yang disempurnakan oleh Allah diantara cahaya-cahaya lainnya yang telah diselewengkan oleh para Rahib dan Pendeta, oleh para Ilmuwan berakhlaq rendah (Ulama Suu’), Allah memberikan gambaran Islam sebagai Cahaya diatas cahaya.

An Nuur:35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Seperti yang juga diterangkan didalam ayat diatas serta didalam Al Baqarah:257, Allah lah yang akan membimbing dan menggerakan para HambaNya kepada CahayaNya. Baik secara personal maupun dalam sekumpulan Jama’ahNya, meski kadang kita tidak akan terbayangkan metoda maupun strategi praktis dalam perjalanannya itu, begitu pula jika Allah tidak berkenan untuk memberikan cahayanya itu, maka tatanan social suatu masyarakat akan tetap dalam kegelapannya.
An Nuur:40. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.
Bahkan Allah memberikap “pembiaran” terhadap manusia-manusia Jahil yang malah menganggap Cahaya itu adalah sebuah Kegelapan. Menyeru mereka seolah menjadi suatu aktifitas tanpa hasil.
41: 44. Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.”

Energy Revolusi adalah katalisator pergerakan dari Kegelapan menuju Cahaya. Dari Kejahiliyahan menuju Islam. Inilah intisari Revolusi Islam. Penggerak Revolusi adalah para Hamba Allah, mereka adalah perwakilan kekuasaan Allah dimuka Bumi. Mereka bergerak hanyalah demi tegaknya Ketetapan-ketetapan Allah, serta berkuasanya Kekuasaan yang dilandasi atas Cahaya Petunjuk.
Kekuasaan tanpa dinaungi Cahaya Petunjuk hanyalah akan menjadi alat berdasarkan hasrat manusia, mempunyai parameter keadilan yang nisbi, memunculkan kebijaksanaan semu. Kedzaliman bagi mereka adalah keniscayaan. Inilah Kejahiliyahan yang dimunculkan secara sistematis, Kejahiliyahan yang ditimbulkan oleh kekuasaan, dan jika para Hamba Allah mendiamkannya, maka Kejahiliyahan akan tetap berada didalamnya, mempengaruhi seluruh sendi kehidupan social kemasyarakatan. Islam menawarkan solusi dalam menghadapi fenomena tersebut. Rosulullah memberikan simulasi abadi, suatu contoh terbaik yang layak digunakan oleh Para Hamba Allah di berbagai zaman. Suatu runtutan Revolusi Islam terbaik dari yang pernah ada. Revolusi islam ‘ala Rosulullah SAW.
c) Revolusi Islam ‘ala Rosulullah Muhammad SAW dan Para Nabi

Nabiyallah Rosulullah Muhammad SAW adalah Cahaya. Beliaulah yang menerangi Kejahiliyahan dengan membawa petunjuk. Apa yang menjadi tugasnya pada dasarnya sama dengan tugas para Nabi terdahulu. Membawa Cahaya untuk menerangi, menjaga Cahayanya agar tetap terang, menyebarkan Cahayanya itu untuk bisa dinikmati oleh selain dirinya. Seperti halnya Nabi-nabi terdahulu, maka Rosulullah melakukannya dengan jalan Revolusi. Melakukan perubahan yang sangat fenomenal, yang belum pernah dilakukan oleh Nabi sebelumnya (tingkatan keberhasilannya).

Rosulullah melalui Revolusi pertamanya saat di Mekah selama kurun waktu hanya 13 tahun. Menanamkan Tauhid, membentuk Jama’ah, dan mengkadernya menjadi personal yang tangguh dan Revolusioner. Dimulai dengan gerakan clandestine (underground/silence) yang berpusat di Rumah sahabatnya Arqom, kemudian berikutnya melakukan aksi-aksi terbuka, bahkan bersifat Demonstratif. Tanpa pernah terpengaruh untuk melakukan gerakan-gerakan kooperatif, Rosulullah sangat menjauhinya, hingga akhirnya terjadi Pemboikotan dirinya dan Bani Hasyim (keluarga dekatnya) oleh penduduk Mekah atas usulan Darun Nadwah, lembaga politik dimana dirinya pernah menolak untuk memimpinnya (usulan pejabat-pejabat Quraish terhadap Rosulullah melalui media Abu Thalib). Rosulullah Konsisten untuk non kooperatif.

Revolusi tahap kedua Rosulullah adalah ketika Rosulullah kemudian membentuk sebuah Daulah dimana didalamnya diberlakukan Hukum-hukum Allah. Dimana Kekuasaan Rosulullah menjadikan eksistensi Islam menjadi tidak terbendung untuk menjadi Cahaya, karena kekuatan hukum dan politik menjadikan wewenang dan kebijakan berada dibawah kekuasan Rosulullah. Revolusi tahap ini telah memberikan gambaran kepada kita dimana Islam tidaklah mungkin menjadi sebuah Dien, ataupun Sistem Sosial Politik tanpa ada naungan kekuasaan untuk melaksanakannya. Rosulullah bahkan mempertahankan eksistensi politiknya melalui berbagai cara termasuk melakukan persekutuan dengan Yahudi, beberapa kabilah Badui, hingga melalui cara-cara Militer baik bersifat defensive maupun offensive.

Revolusi tahap ketiga adalah ketika Daulah Islamiyah yang dibentuk Rosulullah sudah semakin kuat, maka pada akhirnya Rosulullah melakukan ekspansi ke luar Madinah (Darul Islam/Daulah Islamiyah), darimulai pembukaan Negara Mekah (Futuh Mekah), dilanjutkan ke Tho’if, hingga seluruh Hijaz dikuasai, yang kemudian dilanjutkan keluar territorial Arab, yaitu Persia dan Afrika Utara hingga Eropa (saat dilanjutkan oleh Sahabat, Khalifah Rosulillah). Revolusi ketiga ini haruslah dilaksanakan sebagaimana Revolusi-revolusi sebelumnya, Islam haruslah menaungi seluruh negeri, Islam tidak bisa menjadi suatu kekuatan yang dinaungi kekuatan politik lainnya, sehingga menjadi lemah dan terjajah. Cahaya Islam hakikatnya akan terang benderang dengan kekuatan yang nyata, tidak dibawah hegemoni kekuatan manusia-manusia yang menolak Cahaya itu muncul dan bersinar, manusia-manusia yang menikmati kejahiliyahan/kegelapan. Ekspansi akan melenyapkan kekuatan kejahiliyahan itu, Ekspansi akan menghentikan laju kejahiliyahan hingga titik nadir.

Bagian II : Kenapa Kita Harus Melakukan “Revolusi Islam”?
a) Haruskah Revolusi? (Menghidupkan Generasi Yang Mati)

Revolusi itu ibarat menggarap kembali Ladang yang dipenuhi ilalang, membersihkan seluruh gulma, menyuburkannya kembali, hingga ditanami tanaman baru yang bermanfaat. Menghancurkan seluruh ideology jahiliyah, melenyapkan system dzalim, menggantinya dengan Islam, tatanan kebenaran yang telah ditetapkan Allah dan RosulNya.

Al Fath:29 “……. yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Revolusi adalah gerakan untuk “Menghidupkan Generasi Yang Mati”. Generasi yang Jahil, generasi yang berjalan diatas norma-norma Jahiliyah. Menjadi Generasi tangguh, pencinta syari’at, generasi yang akan tumbuh menjadi pohon-pohon toyibah. Revolusi akan melenyapkan system dzalim, dan akan memunculkan system rahmatan lil ‘alamin. System yang akan memberikan manfaat bagi sekalian alam. Sistem yang dinaungi Kalimatan Toyyibah.

Ibrahim: 24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat Toyyibah seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
Ibrahim: 25. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Revolusi adalah suatu keniscayaan untuk tegaknya syari’at Allah, Rosulullah mencontohkannya, kita wajib mengikutinya. Islam tidak akan tegak hanya dengan orasi ataupun rethorika, cahaya yang melingkupi akan kembali padam tanpa Revolusi. Kejahiliyahan haruslah terkikis habis, tidak dibiarkan hingga kembali memadamkan CahayaNya.
2: 17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
b) Revolusi Adalah Darah (Bukti Pengabdian dan Pengorbanan)

At Taubah: 111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Janganlah pernah berharap Kemenangan Islam itu dapat diraih dengan mudah. Dengan Dialog atau Musyawarah. Dengan seruan dakwah atau sekedar Manifesto Politik. Kemenangan Islam harus ditebus dengan Darah. Darah adalah bahan bakar lajunya Revolusi. Darah adalah sebuah pembuktian dari Pengabdian dan Pengorbanan seorang Hamba kepada Tuannya.

Al Hujarat: 15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

At Taubah: 16. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Revolusi (Jihad Fii Sabilillah) adalah sebuah pembuktian keimanan. Konsekwensi Loyalitas dan bukti kecintaannya terhadap Allah dan RosulNya. Revolusi adalah Yuqtal au Yaghlib. Menghancurkan Kejahiliyahan dan Kedzaliman, atau hancur diri ini bersimbah darah.

c) Revolusi Adalah Gerakan Rakyat (Umat Islam Bangsa Indonesia)

Sesungguhnya, Revolusi hanyalah akan berjalan secara sempurna jika dan hanya jika Revolusi itu dijalankan oleh Rakyat, dalam hal ini Umat Islam Bangsa Indonesia. Revolusi terjadi harus sesuai dengan kehendak Rakyat. Jika Rakyat tidak menghendakinya, Revolusi akan berjalan tertatih-tatih.

Kemajemukan ideology politik Umat Islam Bangsa Indonesia menjadikan Islam hanya dijadikan agama ritual. Islam tidak menjadi ruh kehidupan dalam dimensi social kemasyarakatan, tidak pula menjadi dasar kebijakan-kebijakan politik, apalagi didalam keadilan dan hukum. Islam telah tercerabut dari akarnya. Maka tanpa keinginan langsung dari rakyat itu sendiri untuk berubah, maka perubahan itu tidak akan pernah terjadi.

d) Revolusi Adalah Kemenangan
Kata kunci dari Revolusi adalah Kemenangan, yang menghendaki Revolusi hanyalah orang-orang yang meyakini Kemenangan itu akan datang dan diraihnya tanpa perduli apa yang harus dikorbankan dan konsekwensi logis bagi dirinya.
Ash Shaff: 13. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
Revolusi tidak akan pernah dijalankan oleh orang-orang kalah, menyerah, pesimis, skeptic, dan paranoid. Revolusi akan dijalankan oleh orang-orang yang optimis, semangat, antusias, berani dan pantang menyerah. Mereka mempunyai keyakinan seolah-olah Kemenangan itu sudah berada dalam genggamannya, kesakitan yang kemudian mereka terima sungguh tidak akan dirasakannya, Mereka menjalankan Roda Revolusi dengan menggunakan seluruh energy yang mereka punyai. Mereka hamper-hampir tidak lagi memperdulikan kehidupan Mereka selain bergerak sebagai Ujung Tombak.
Bagian III : Revolusi Islam di Indonesia
a) Revolusi Darul Islam (Revolusi Yang Tidak Pernah Terhenti)

Satu-satunya Revolusi yang bertahan di Indonesia melebihi jangka waktu 60 tahun adalah Revolusi Islam yang dipayungi Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, dari mulai sebelumnya mereka berjalan dalam gerakan politik saat masa Penjajahan Belanda, kemudian mengkader diri dalam kemiliteran saat masa Penjajahan Jepang, hingga akhirnya merealisasikan dengan sempurna dalam bentuk lembaga Negara (berdirinya Negara Islam Indonesia), perjalanannya tidak pernah mulus, bahkan hingga dieksekusinya Imam Negara, akan tetapi Roda Revolusi tidak pernah berhenti, mereka melaksanakan Revolusi bawah tanah, kembali membentuk kader-kader baru, re organisasi lembaga, hingga puncaknya pengiriman para Mujahidin ke Afganistan. Kembali dari Afganistan sebagian diantara mereka menggabungkan diri dengan jaringan Mujahidin Dunia, membentuk kamp-kamp pelatihan militer di dalam dan luar Negri, hingga pemboman dan Teror tidak pernah berhenti hampir 40 tahun, meski banyak diantara mereka syahid dan dipenjara, tapi selalu ada kader-kader baru untuk melanjutkan.

Disisi lain, beberapa kepemimpinan dalam tubuh Darul Islam mulai membereskan shaff, membentuk system pemerintahan (dalam kondisi Perang), melaksanakan pelatihan-pelatihan militer berkala, menyusun program Revolusi dengan perencanaan-perencanaan yang lebih cermat dibawah control contra intelegen yang rapi. Akselerasi Revolusi semakin lama semakin cepat dengan semangat kader-kader baru yang mulai keluar dari kejumudan. Struktur inilah yang pada saatnya akan menopang dengan kuat Revolusi yang sebenarnya, Revolusi Total menuju futuhat Indonesia.

b) Dan Sekarang Saatnya (It’s Your Turn)

Masalalu Darul Islam dalam memimpin Revolusi Islam di Indonesia sudah tidak diragukan lagi, meski fitnah dan stigma2 dipropagandakan oleh musuh (Komunis dan Nasionalis) Revolusi berjalan tanpa henti, generasi lalu telah membuktikan amal sholeh mereka dengan berbagai konsekwensi yang telah diterimanya, diasingkan, dipenjara, syahid, dll. Saat ini adalah milik generasi baru, generasi yang belum pernah mengenyam perang besar dan bergrilya di hutan-hutan, generasi yang tidak pernah mengalami pahitnya da’wah dalam tekanan tirani, generasi yang telah bersentuhan dengan Perang yang lebih besar, melawan Amerika dan Rusia. Generasi yang menyaksikan langsung konflik2 internal yang buntu dalam penyelesaian, tetapi mereka masih konsisten tanpa terpengaruh, mereka sudah mulai menyadari sepenuhnya, dimana saat ini hanya persatuan dan Jihad lah sebagai satu-satunya jalan menuju kemenangan Revolusi Islam di Indonesia, saat ini giliran kita, anda, dan rekan-rekan anda yang lain.

Generasi saat ini adalah generasi yang akan menghadapi Klimaksnya Revolusi, suatu kondisi yang akan menentukan kalah dan menangnya Islam di Bumi Indonesia, dan Kemenangan adalah suatu keniscayaan jika Roda Revolusi ini dijalankan dengan Simultan, terus menerus, memperbesarkannya meski harus melalui ceceran darah. Revolusi akan betul-betul menjadi Klimaks setelah para Mujahidin menyadari dari hati yang paling dalam, bahwa perjalanan Jihad ini tidak mungkin dijalankan tanpa ikatan yang kuat antar Tandzim Jihad, antara Mujahidin dan Rakyat, antara Mujahidin dan para Komandan Perang. Antara para Komandan Perang yang sudah melunturkan sibghoh kebanggaan diri, sibghoh arogansi, sibghoh individualistis, dan digantikan dengan satu satunya sibghoh, yaitu sibghotullah, sibghoh yang akan membentuk energy tanpa batas (laa yah tasib), energy yang akan menyertakan Tentara-tentara langit yang telah Allah janjikan untuk menolong mujahidNya.

c) Menatap Masa Depan Umat Islam Bangsa Indonesia

13: 11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Masa Depan Umat Islam Bangsa Indonesia akan bergantung pada dirinya sendiri, Revolusi sendiri hanyalah ekspresi dan aktualisasi Iman para Mujahidin, tidak akan mampu siapapun untuk mencoba mencegahnya, akan tetapi kemenangan umat sesungguhnya dikembalikan lagi kepada Umat itu sendiri, apakah mereka akan menjadi Tunduk kepada Syari’at Allah, atau tetap bertahan mengabdikan diri kepada Thoghut. Negara Islam Indonesia akan tetap tegak dalam diri kalangan Mujahidin, meski seluruh Rakyat Indonesia menolaknya sekalipun, atau dalam Revolusi Total nanti Kemenangan diberikan oleh Allah kepada kaum Musyrikin. Karena NII adalah satu lembaga karunia Allah yang telah menjadi amanah yang harus digenggam kuat oleh Umatnya juga para Mujahidin TII. Sedangkan Futuhat Indonesia adalah Ijabah dari Allah al Mujib terhadap harapan Umat Islam Bangsa Indonesia, seandainya harapan itu tidak pernah ada, maka Futuhat hanyalah diberikan kepada para hambanya yang Shalih saja. Tidak untuk dinikmati oleh Umat Islam Bangsa Indonesia secara keseluruhan, karena Allah berkenan untuk memisahkan Hambanya yang Shalih dari Kaum yang menjadikan dirinya terjerembab dalam kekafiran.

837. supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.
Penutup dan Do’a Kaum Mustadh’afin.

Allahu Rabbii…Yaa…Dzul Jalal li wal Ikrom…Yaa Malikul Mulkii….Ampunilah kami, kami yang masih mengkotori diri dengan dosa kemusyrikan, kami yang masih lalai untuk berjihad di JalanMu, kami yang masih mengabdikan diri untuk Dunia, Ampuni kami…karena kelemahan Iman kami ini…Karena keterpurukan kami dalam perpecahan…Karena kesombongan kami atas diri kami yang masih lemah ini yaa Rabb…Yaa Ghoffaaru…yaa Tawwaabu Rohiim…Ya Afwuu…

Allahu Rabbii…berilah kami kekuatan…Kekuatan Iman…Kekuatan Ilmu…Kekuatan Fisik…Kekuatan Mental..kekuatan Materi…sehingga kami masih dalam jalan JihadMu…sehingga kami Engkau syahidkan kelak…tetap dalam keadaan BerJihad di jalanMu…Anta Yaa Jabbar yaa Qohaar…Yaa Qowiyyuu Yaa Matiin..

Allahu Rabii…utuslah dari SisiMu Sulthonan Nashiroo…dan jadikan Pemimpin-pemimpin Kami Keilmuan dan Kebijaksanaan, rasa Keadilan dan Keberanian, berilah mereka kemampuan memimpin kami dalam Revolusi ini…tetapilah mereka menjadi Pemimpin yang Engkau Ridhoi….Anta Yaa Khoirul Nashiriin…Yaa khoirul Faatihiin…

Yaa Rabb…jadikanlah Negara ini sebagai KaruniaMu bagi Kami…menangkanlah para mujahidnya dalam menghadapi musuh-musuhnya…menangkanlah dengan kekuatan Mu…lingkupi kami dengan MakarMu…sebaik baiknya Makar…Anta yaa Khoirul Maakiriin…

Yaa Rabb…sesungghunya hanya kepadamulah kami mengabdi…hanya KepadaMulah kami Berserah diri….hanya kepadaMulah kami meminta Permohonan…Amiin yaa Robbal ‘Aalamiiin…
Mardhotillah,
Madinah Indonesia
18 Desember 2012

Advertisements