pertanyaan pertanyaan yang dirangkum pada point 2. sebenarnya adalah pertanyaan pertanyaan separuh benar, artinya di dalamnya terkandung kebenaran di samping ada pula kekeliruannya. Terhadap pertanyaan pertanyaan ini, tidak boleh kita total menyalahkannya (nanti orang tidak terimam, sebab ada kebenaran di dalamnya walau tidak semua), jangan pula dibenarkan seluruhnya, sebab pencampuran antara haq dengan bathil jelas akan merugikan sisi yang haqnya.

Dukunglah kebenarannya, akui (ini akan membangkitkan minat penanya untuk mengakui kita), kemudian dengan bijak tunjukkan kelemahan pendapatnya tanpa mempermalukan, sampaikan dengan tenang (toh bukan kita pemilik kebenaran), hujjah yang kuat dan dalil yang tepat, berharaplah kepada Alloh agar ia menyatukan kita dan penanya dalam kebenaran (“Yaa Muallifal Quluub, allif bainaa quluubinaa fi sabilikal haq”).

Insya Alloh sepanjang ikhlas terhadap kebenaran, kita tidak akan pernah dirugikan dengan pertanyaan pertanyaan itu, malah lewat itu wawasan kita terkayakan…. lagi pula bila pada pertanyaan tadi ada kebenarannya, maka kita pula yang berhak untuk mendapatkannya.

Di sini akan dikemukakan beberapa jawaban, atas musykilat di atas, semoga jadi bahan pertimbangan untuk lebih disempurnakan di kemudian hari.

 

4.1. Tentang Kekuasaan

tentang-kekuasaaan

Untuk memudahkan penguraian, baiklah kita lihat kembali pertanyaan pertama :

Mengapa perjuangan anda berorientasi pada kekuasaan, bukankah orang yang ikhlas itu tidak mengharapkan apa apa dengan ibadahnya itu di dunia. Bukankah kita ini sedang berbekal untuk akhirat, mengapa malah menyibukkan diri mengurus dunia ? Apalagi ingin menguasai pemerintahan, bukankah dalam hadist ada mengatakan, bahwa siapa yang ingin menjadi pemimpin tidak boleh diangkat ? Bagaimana mungkin kami mendukung orang yang berambisi memerintah seperti anda ? Terus terang sajalah, apa yang sebenarnya anda cari, Ridho Alloh atau kekuasaan ? Mau jadi apa, hamba sejati atau mau memperhamba manusia dengan tameng pemerintah Islam ? Mengapa jadi sibuk mau mengurus orang lain, diri sendiri saja belum tertara maksimal dalam tho’at !

 

Pertanyaan di atas, terdiri dari beberapa masalah yang memerlukan pembahasan terpisah diantaranya :

  1. Adakah Orientasi kekuasaan dalam perjuangan Islam ?
  2. Ikhlas berarti tidak mengharapkan apa apa dari ibadahnya di Dunia.
  3. Mengapa kita yang seharusnya berbekal untuk akhirat, malah menyibukkan diri mengurus dunia , apalagi pemerintahan ?
  4. Apakah perjuangan menegakkan kekuasaan Islam sama dengan ambisi diri menjadi pemimpin ? Apakah ambisi itu ?
  5. Bagaimana praktek tidak mendukung mereka yang berambisi jadi pimpinan ?
  6. Ridho Alloh atau kekuasaan ? Adakah pertentangan di antara keduanya ?
  7. Apakah memberlakukan Pemerintahan Islam berarti memperhamba manusia ? Apa bedanya memberlakukan pemerintahan dengan memperbudak manusia ?
  8. Mengapa mengurus orang lain, padahal diri sendiri saja belum maksimal baiknya ?

 

dan kami akan bahas 8 Point diatas pada Posting-Postingan selanjutnya…

Bersambung………….

Advertisements