Pernyataan bahwa “orang yang ikhlas tidak mengharapkan apa apa dengan ibadahnya di dunia”, memang ada benarnya, begitu juga dengan kalimat “ bahwa kita ini berbekal untuk akhirat”. Namun kalimat “tidak mengurus dunia apalagi pemerintahan” serta “tidak perlu berorientasi pada kekuasaan” perlu ditinjau dengan teliti.

Pada dasarnya tidaklah bertentangan antara mengurus dunia, mengelola pemerintahan, orientasi kekuasaan dengan ikhlas beramal dan berbekal untuk akhirat.

Yang jadi masalah adalah : “untuk apa kita terjun mengurus dunia, mengelola pemerintahan dan menegakkan kekuasaan itu ?”. Nabi Yusuf AS, Misalnya, beliau sampai meminta kepada raja kafir untuk menjadi Bendaharawan Negara, bahkan sampai menyatakan bahwa dirinya ”Pandai menjaga dan berpengetahuan tentang itu” (Q.S. 12:55). tentu “ambisi” beliau untuk menduduki jabatan ini, bukan karena silau oleh gemerlap dunianya, atau ingin ongkang ongkang kaki di kedudukan tinggi. Namun merebut posisi tersebut untuk dakwah dan membela Ikhwan dari “dalam”. Terbukti ketika musim paceklik tiba, kalau orang lain harus membeli makanan dari persediaan negara, sedang ikhwan ikhwannya bisa membawa secara gratis (Q.S. 12:62,65). Andai bukan orang sekelas beliau yang memegang jabatan tadi, tentu akan digunakan untuk menumpuk kekayaan pribadi, dan menelantarkan hamba Alloh yang membutuhkan bantuan. Lebih jauh mengenai Nabi Yusuf, lihat hal 173.

Nabi Sulaiman AS yang sampai berdu’a kepada Alloh “minta kerajaan yang tidak tertandingi siapapun sesudahnya” (Q.S.38:35) Tentu ini bukan terdorong oleh keserakahan pribadi, sebab kita yakin seorang Nabi memiliki hati yang suci. Tetapi menunjukkan betapa banyaknya manfa’at yang bisa diperoleh bila hamba Alloh memiliki kekuasaan.

Dzul Qornain, dengan kekuasaan yang ada padanya, ia bisa melindungi dan memberi fasilitas pada yang Tho’at dan menekan pihak yang durhaka :

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu (dengan dimilikinya kekuasaan itu -pen.). Maka dia pun menempuh suatu jalan. Hingga apabila telah sampai ke tempat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan ummat. Kami berkata :”Hai Dzul Qornain, kamu boleh menyiksa atau berbuat kebaikan kepada mereka” Berkata Dzul Qornain : “Adapun orang-orang yang Dzalim maka kami kelak akan meng’adzabnya, kemudian dia kembali kepada Robb nya, lalu Alloh mengazabnya dengan ‘adzab yang tiada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan (diberi fasilitas -pen) dan akan kami titahkan kepadanyaperintah yang mudah dari perintah-perintah kami”. (Q.S.18:83-88)

Kekuasaan tidak selamanya bermakna negatif, tidak selamanyamengurus dunia itu bukan amal sholeh. Justru dengan kekuasaan itu kita bisa berbuat lebih banyak.22

Yang kedua, kalau berbicara tentang kekuasaan maka sebenarnya hamba Alloh-lah yang “paling berhak” memiliki kekuasaan. Alloh perintahkan agar hak tadi dipertahankan, demi stabilitas dunia24 yang diwariskan Nya pada kita !

Simak ayat ayat berikut :

  1. Bumi ini diwariskan Alloh untuk dikelola oleh hamba hamba Alloh yang sholeh, baru dengan demikian kita bisa menebar rahmat pada semesta alam. Para pengabdi Ilahi mesti mencamkan peringatan ini ! (Q.S.21:105-107, Q.S.11:61)

23 Dalam Q.S.4:105 Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk mengadili manusia “Litahkuma Bainannas”, jelas harus ada perangkat yang menjamin tegaknya keadilan, dimana jika ada orang yang ‘ngotot’ tidak mau mengikuti keadilan yang ditawarkan, mesti ditekan dengan kekuatan agar tetap mau mengikuti aturan. Otomatis berbicara keadilan pasti berhubungan dengan perlunya kekuasaan, guna menekan mereka yang tidak mau menjunjung tinggi keadilan. Sekarang siapa yang mengekalkan misi Nabi di atas, apa kita hapuskan begitu saja, padahal ayatnya jelas terukir di kitab suci ? Tidakkah kita malu mengaku ummat Nabi, tetapi telah sekian lama mengabaikan tugas tugas yang dahulu dipikul beliau? Sampai di sini kita faham, bahwa kebanyakan orang yang enggan dengan isue isue “Kekuasaan Islam”, bukanlah tidak faham kalau itu perlu, sekedar tidak mau repot mengusahakannya saja.

24 Perhatikan Surat Al Mukminun (Q.S.23:71), bila yang jadi standar kebenaran adalah nafsu, maka segala yang ada bisa binasa !

  1. Mukminin sejak awal direncanakan Alloh untuk jadi penguasa bumi (Khalifah), kelengahan diri atau lemah semangat untuk memperoleh kekuasaan guna “mewakili” kekuasaan Ilahi tadi, dinilai sebagai fasiq (Q.S.2:30, 6:15, 35:39). Kekuasaan sebagai khalifah pula yang dijanjikan Alloh pada ummat yang mau berjuang (Q.S.24:55). Alloh pun mengakui (dalam arti membenarkan) kalau orang mukmin itu senang dengan tercapainya kemenangan (Q.S.61:13).
  1. Kalau kita tidak berkuasa, kita tidak mungkin bisa sepenuhnya menguasai diri sendiri. Mengapa ? Sebab akan lebih sering terpaksa mengikuti maunya orang yang bertuhankan nafsu, terpaksa disini lebih sering bermakna pelanggaran syari’at. Alloh tidak akan memaafkan “keterpaksaan permanen” yang dikekalkan oleh hati yang tak berdaya !

“sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Alloh dalam keadaan menganiaya diri, malaikat bertanya kepada mereka : Mengapa ini terjadi ? Jawabnya, Kami tertindas di muka bumi…. Bantah Malaikat : Bukankah bumi ini luas, hingga kamu bisa berhijrah di dalamnya ? Orang-orang semodel ini tempat akhirnya di Neraka, sebagai seburuk buruk tempat kembali !”(Q.S.4:97)

Bagi mereka yang sering berkata dengan nada meyakinkan : Yang penting bisa menguasai diri, jangan berfikir kekuasaan, apalagi menguasai orang lain ! Hendaknya merenung kembali. Benarkah diri sepenuhnya bisa dikuasai, bila diri sendiri di bawah kekuasaan orang/Non Islam ?

  1. Ada ancaman Ilahi, bahwa bila mukminin kita tidak menata kekuatan guna menandingi kekuasaan kafir maka yang akan hancur dan porak poranda adalah ummat islam sendiri (Q.S.8:73). Anda punya musuh yang senantiasa siap menghancurkan anda (Q.S.4:101-102), bila anda terus berbaik sangka, dan “meyakin yakinkan diri” bahwa semua manusia adalah kawan, tidakkah ini bermakna membiarkan diri terbinasa ?!

Disamping itu, kekuasaan dan pemerintahan adalah tuntutan fitroh, sebagai kemestian bagi kehidupan, mau tidak mau pasti harus ada! Jika bukan mukminin, maka pasti orang lain yang akan memerintahdan berkuasa. Sedang mentho’ati kekuasaan yang tidak islami berarti mengundang laknat ilahi. Camkan beberapa peringatan Alloh dibawah ini :

” Itulah kaum ‘Aad yang mengingkari ayat- ayat Alloh dan mendurhakai Rosul – RosulNya. Malah mereka mengikuti perintah semua penguasa yang sewenang wenang lagi menentang kebenaran. Dan mereka selalu diikuti oleh kutukan di dunia ini, begitu pula dihari kiamat. Ingatlah sesungguhnya kaum ‘Aad itu kafir kepada Robb nya. Ingatlah, kebinasaan bagi kaum ‘Aad kaumnya nabi huud” ( Q.S.11 : 59- 60 )

Dan sesungguhnya kami telah mengutus musa dengan tanda- tanda kekuasaan kami dan mukjizat yang nyata kepada fir’aun dan pembesar – pembesar mereka,

tetapi mereka ( rakyat) malah mengikuti perintah fir’aun, padahal perintah fir’aun, sekali kali bukanlah perintah yang benar, mka fir’aun berjalan  memimpin bangsanya berjalan menuju neraka, itulah seburuk buruk tempat yang didatangi. Dan mereka selalu diikuti oleh kutukan didunia ini dan begitu pula di hari kiamat. La’nat itu seburuk buruk pemberian yang diberikan.”(Q.S. 11: 96-99)

Pada hari ketika muka mereka di bolak balik dalam neraka ; barulah mereka berkata : ”Duhai alangkah baiknya kalau kami dulu mengikuti perintah Alloh dan Rosul.”( mereka menyesal atas ketho’atannya dahulu pada penguasa non wahyu) : ” YaaRobbanaa… sesungguhnya dahulu kami telah mentho’ati pemimpin pemimpin dan pembesar pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Robb kami… berilah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknat lah mereka dengan laknat yang besar … (Q.S. 33: 66- 68)

( Firman Allah ) ” Masing masing mendapat azab dua kali lipat 25, cuma kalian saja yang tidak menyadari “ (Q.S. 7: 38)

Kalau bukan mukminin yang berkuasa hukum yang ditegakkan takkan bersumber dari wahyu, akibatnya keusakan dibumi pasti merebak dimana mana ( Q.S. 23: 71) jika ini sampai terjadi, maka yang duluan yang ditanya bukan mereka, tapi KITA. Mengapa? Sebab bumi ini dititipkannya kepada KITA bukan pada mereka (Q. S. 21: 105) .apa mau, didunia tidak ikut apa apa , tidak pula kebagian apa apa, tapi kita duluan yang kena getahnya ?? diakhirat disiksa akibat diri cuma jadi pengikut, sedang yang diikuti bukanlah Ulil Amri mukminin yang bertanggung jawab 26.

Disamping itu, semua mukminin diperintahkan untuk mentho’ati pemegang pemerintahan ( Ulil A mri )dari kalangan mukminin sendiri. ” Minkum ” bukan ” minhum ”, ini menunjukan bahwa pemerintahan islam harus ada, sebab kalau tidak, kepada siapa orang mukminin akan mentho’ati? Pada pemerintahan yang membekukan hukum ilahi. Terlalu berat akibatnya di akhirat!  ( Q.S. 33:64- 68 )

Perntah mentho’ati pemimpin yang dari kalangan kamu, jelas memberi isyarat bahwa kita mesti memiliki kepemimpinan dan sistem kekuasaan yang mandiri lagi islami! Jika tidak… dosa! Maukan dosa terus menerus karena salah yang ditho’ati ???

Hai orang orang yang beriman janganlah kalian menjadikan orang orang kafir sebagai pemimpin dengan mengabaikan kepemimpinan orang orang yang beriman. Inginkah kalian dengan perbuatan itu, jadi alasan bagi Alloh untuk menyiksa kalian ? ” ( Q. S.4 :144)

Tegasnya bahwa berjuang untuk meraih kekuasaan itu sunnah, sedang bertekuk lutut pada kekuasaan kafir adalah bid’ah. Kita berani katakan sunnah, sebab nabipun sampai meminta pada ilahi : waj’alliimilladunka sulthonan nashiro ( berikanlah pada hamba dari sisi engkau kekuasaan yang menolong ( Q.S. 17:80)terbukti pula dengan keteguhhanya dalam peperangan yang panjang dengan Darul Kuffar yang dipimpin musyrikin mekkah 27.

Milladunka sulthonan nashiro [berikanlah pada hamba dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong] S.17:80, terbukti pula dengan keteguhannya dalam peperangan yang panjang dengan Darul Kuffar yang dipimpin musyrikin Makkah[1]

Nabi SAW saja sampai berdu’a untuk kekuasaan yang menopang dakwah, lantas mengapa sebagian orang malah mencela para pejuang yang gigih mempertahankan kedaulatan dan kekuasaan Islam ? Tidakkah ini jelas bagi mereka yang rela tunduk pada kebenaran Quran ?

Muhasabah 1 :

Namun demikian, perlu diinsyapi, barangkali yang bertanya begitu itu bukan tidak tahu perlunya Kekuasaan Islam, tapi sekedar jengkel saja, karena sebagian kita suka kelepasan bicara, sering bilang bilang : ‘’Kalau kita yang jadi camat, endak begitu tuh ….. Kalu kita yang jadi mentrinya endak bakalan begitu dst dst’’. Berhentilah dari kebiasaan berkata demikian, sebab selain tidak banyak gunanya, juga merusak citra ! Kata Nabi ucapan kalau..kalau…itu membuka pintu bagi syetan.

[1] Dengan demikian. bertujuan memenangkan perjuangan dan mengendalikan pemerintahan adalah bagian dari tujuan perjuangan Islam. Secara bahasa saja. yang namanya perjuangan berarti usaha keras untuk menang [mencapai hasil]. Buat apa berjuang kalau yang dicari justru kekalahan !

Advertisements