Pelita  Penerang  (سِرَاجًا مُنِيرًا )

Jawaban Terhadap Pertanyaan-Pertanyaan Penduduk Jazirah Arab

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam hanya dilimpahkan kepada Rasulallah saw dan orang-orang yang loyal kepadanya.

 

Wa Ba’du,

Telah muncul pertanyaan-pertanyaan berikut ini kepada saya dari sebahagian ikhwan muwahhidin dari kalangan jazirah Arab[1], dan ia adalah sangat singkat :

  1. Apa hukum bekerja di dinas-dinas pemerintahan yang kafir?
  2. Apa hukum bekerja sebagai tentara dan polisi pemerintah-pemerintah yang kafir ini ?
  3. Apa hukum ikut serta atau keluar dalam pasukan PBB untuk menjaga perdamaian dan untuk menyelesaikan sebagian per-tikaian dibanyak belahan dunia ?

Sungguh saya sangat senang dan saya memuji Allah ta’ala dengan munculnya pertanyaan –pertanyaan semacam ini dari negeri itu, karena kebiasaan yang kami katahui dari mayoritas penduduknya –kecuali orang-orang yang Allah rahmati dan itu sangat sedikit– adalah mereka tidak peduli dengan masalah-masalah seperti inidan bahkan mereka itu sangat alergi dari sekedar mengusiknya serta mereka menganggap pembicaraan didalamnya tergolong metode Khawarij, Takfiriy dan yang lainnya, bahkan sebahagian mereka memandang masalah ini mengeraskan hati dan sama sekali tidak ada faidah dibaliknya. Dan ini demi Allah tergolong kabathilan yang paling bathil, karena ia seluruhnya berkaitan dengan Millah Ibrahim –‘alaihissalam– dan dengan autsaqu ‘ural iman (ikatan iman yang paling kuat) sedangkan hal seperti ini adalah tergolong inti ajaran dien ini, serta (tergolong) pondasi-pondasi dakwah para Nabi dan Rasul. Dan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini lebih dahulu harus didahului dengan penjelasan realita keadaan pemerintahan-pemerintahan yang mencekik leher kaum muslimim ini.

Ketahuilah mudah-mudahan Allah merahmati engkau, bahwa pemerintahan-pemerintahan Jabriyyah (yang dipaksakan) yang mencengram negeri-negeri kaum muslimin hari ini tidak ada yang ragu akan kekafirannya kecuali orang-orang yang Allah tutup mata hatinya dan Dia butakan dari cahaya wahyu seperti mereka, karena kekafiran mereka bermacam-macam dan beranekaragam dari berbagai pintu, diantaranya :

 

  1. Mereka kafir dari pintu pembuatan hukum dan perundang-undangan disamping Allah apa yang tidak Allah izinkan, dimana undang-undang dasar mereka yang bersifat nasioal maupun internasional, baik tingkat lokal maupun tingkat PBB atau Liga Arab (seperti : ASEAN, OKI, dsb.Pent) dan yang lainnya menegaskan bahwa wewenang pembuatan hukum dan undang-undang itu berada ditangan mereka dan para wakil rakyat.

Dan ini adalah hal yang baku lagi dikenal dalam butir-butir undang-undang dasarnya yang kafir. Tidak mendebat didalamnya kacuali orang-orang bodoh yang tidak mengetahui atau pura-pura tidak mengetahui dan tidak ingin mengetahuinya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ?” (Yusuf :39)

 

  1. Mereka kafir dari pintu ketaatan mereka kepada para pembuat hukum –baik lokal maupun internasional dan yang lainnya– dan pintu Ittiba’ (mengikuti) mereka terhadap undang-undang kafirnya. Alla ta’ala berfirman :

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka dien[2] yang tidak diizinkan Allah ?” (Asy Suraa’ : 21)

dan firmanNya ta’ala :

 “Sesungguhnya orang yang kembali kebelakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Dan yang demikian karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafiq) itu berkata pada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang Yahudi) : “kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan” (Muhammad : 25-26).

Ini bagi orang yang berkata “kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, maka bagaimana dengan orang yang berkata kepada mereka (orang-orang kafir dan para Thaghut) : “kami akan mematuhi kamu dalam banyak urusan atau dalam semua urusan”[3], terus mereka menyerahkan pengendalian mereka kepada para pembuat hukum/ undang-undang/undang-undang dasar mereka dan mereka menerima aturan-aturan buatannya dengan sepenuhnya.

 

  1. Dan mereka kafir dari pintu tawwaliy (loyalitas) mereka terhadap orang-orang kafir dari kalangan Nashrani, Yahudi, musyrikin, dan kaum murtaddin. Dan penjagaan serta perlindungan yang mereka berikan terhadap orang-orang kafir itu dengan tentara, senjata, harta dan ekonomi, bahkan mereka telah menjalin hubungan dengan kaum kafir itu sebagai kesepakatan dan perjanjian bantuan dengan personil, harta, lisan dan senjata dimana mereka tawwaliy (loyalitas) penuh terhadap orang-orang kafir itu, sedangkan Allah ta’ala berfirman :

“Barangsiapa diantara kamu tawalliy kepada mereka, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka”(Al Maidah : 51)

 

  1. Dan mereka kafir dari pintu persaudaraan yang mereka jalin dengan orang-orang kafir kalangan timur dan barat, jalinan cinta, kasih sayang dengan mereka. Allah ta’ala berirman :

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (Al Mujadillah : 22)

Dan ini bukan tergolong pengkafiran dengan hal-hal bathin dan amalan hati, akan tetapi dengan amalan dan ucapan yang dhahir lagi jelas karena kasih sayang ini mereka menegaskan dan menampakannya disetiap kesempatan, dan sarana-sarana informasi mereka sangat sarat dengan hal itu.

 

  1. Mereka kafir dari pintu sikap mereka memerangi wali-wali Allah, mendukung kaum musyrikin dan membantu mereka terhadap wali-wali Allah. Allah ta’ala berfirman :

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang munafiq berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir diantara Ahli Kitab : ”Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu, dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu”. Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta”  (Al Hasyr : 11).

Perhatikanlah bagaimana Allah mengkafirkan orang-orang yang menjanjikan terhadap kaum musyrikin untuk membentu mereka terhadap kaum muwahhidin dan menjadikan mereka sebagai bagian dari saudara-saudara kaum musyrikin dengan sekedar janji yang dusta[4], maka bagaimana dengan orang yang menjalin bersama mereka kesepakatan bantuan dan dukkungan untuk menjepit kaum muwahhidin, serta betul-betul membantu kaum musyrikin terhadap kaum muwahhidin dengan pengejaran, pembunuhan, penyeretan ke persidangan, dan pemenjaraan.

 

  1. Mereka kafir dari pintu penghalalan yang haram dengan pemberian izin untuknya, melindunginya, menjaganya, bermufakat dan bersepakat terhadapnya, seperti lembaga-lembaga dan gedung-gedung riba, kebejatan, zina serta hal-hal haram lainnya. Allah ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya mengundur-undurkan Bulan Haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkan pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir”  (At Taubah : 37)

 

  1. Dan mereka kafir dari pintu memperolok-olokan terhadap ajaran Allah. Pemberian Izin bagi orang-orang yang memperolok-olokan, melindungi mereka dan membuat undang-undang yang memberikan izin bagi mereka dan memudahkan hal itu bagi mereka, baik lewat media cetak, televisi, radio atau yang lainnya. Allah ta’ala berfirman :

“Katakanlah : “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok- olok?”, tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman”  (At Taubah : 65-66)

Dan pintu-pintu kekafiran yang mereka masuk dan terjerumus didalamnya, baik beramai-ramai maupun sendiri. Dan setiap pintu dari pintu-pintu ini memiliki ratusan bahkan ribuan dalil-dalil dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya saw yang menunjukan bahwa ia adalah pintu-pintu yang mengkafirkan. Sehingga ia adalah lebih terkenal dari sekedar debat dengan orang-orang yang mendebat, sedangkan ini bukan tempat untuk menjabarkannya. Namun, yang dimaksud dari hal itu adalah pengisyaratkan yang cukup bagi orang-orang yang berakal dan memberikan pengetahuan kepadanya bahwa pemerintah-pemerintah ini adalah thaghut-thaghut yang diikuti dan ditaati selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Bila hal ini sudah diketahui, maka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah kami katakan : Bahwa hal itu adalah terdapat dalam firman Allah ta’ala yang didalamnya Dia menjelaskan tujuan utama dari pengutusan para rasul seluruhnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah saja dan jauhi thaghut itu”. (An Nahl : 36)

Tujuan yang karenanya Allah menciptakan makhluk dan mengutus para rasul, dan seseorang tidak selamat kecuali dengannya adalah dia mentauhidkan Allah ta’ala saja dengan ibadah dan menjauhi peribadatan kepada selainNya. Akan tetapi disana ada faidah yang sangat indah, yaitu bahwa Allah ta’ala saat berbicara tentang DiriNya Yang Maha Agung, Dia menyebutkan bahwa yang Dia tuntut adalah ibadah dan pentauhidanNya sebagaimana firmanNya ta’ala dalam ayat yang lain :

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu”  (Adz Dzariyat : 56).

Adapun ketika Allah ta’ala berfirman tentang thaghut, maka sesungguhnya Dia menuturkan dan mengajak untuk menjauhinya secara mutlak dan tidak membatasinya dengan ibadah, sehingga dalam hal itu terdapat dilalah (indikasi) bahwa Allah ta’ala mencintai bagi kita agar menjauhi thaghut dalam segala hal ibadah dan segala hal lainnya, baik itu hal besar ataupun hal kecil. Dan diantaranya adalah bekerja pada thaghut walaupun dalam pekerjaan yang tidak ada kemungkaran didalamnya. Inilah yang paling baik, paling utama dan paling sempurna bagi sang muwahhid yang mengajak manusia untuk kafir kepada para thaghut dan bara’ (berlepas diri) darinya serta menjauhinya.

Adapun dari sisi hukum syar’iy tentang bekerja diseluruh instansi pemerintah-pemerintah yang kafir ini, maka kami tidak mengatakan bahwa seluruhnya kekafiran dan seluruhnya haram, namun ada rincian didalanya, dan dalam hal itu ada hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dalam Shahih-nya pada Kibal Ijarah bab “Apakah seorang boleh mengupahkan dirinya bekerja pada orang musyrik dinegeri harbiy” : [Dari Khabab ra, berkata : “Saya adalah pandai besi, kemudian saya bekerja untuk Al ‘Ash Ibnu Wail, sehingga terkumpul hak upah saya disisinya, kemudian saya mendatanginya untuk meminta upah itu darinya”, maka ia berkata : “Tidak, demi Allah. Saya tidak akan membayar upahmu sampai kamu kafir kepada Muhammad !”, maka saya berkata, “Tidak akan saya lakukan demi Allah sampai kamu mati kemudian dibangkitkan sekalipun”, ia berkata, “Apa saya akan mati kemudian dibangkitkan ?”, saya berkata, “Ya….”, dan ia berkata : “Ya, berarti disana saya akan memiliki harta dan anak, kamudian saya akan membayar upahmu”, maka Allah ta’ala menurunkan firman-Nya ta’ala, “Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan, “Pasti aku akan diberi harta dan anak”  (Maryam : 77).]

Hal itu terjadi di Makkah sedang saat itu ia adalah Darul Harbiy dan turunlah ayat ini berkenaan dengannya, dan Nabi saw mengetahui hal itu serta mengakuinya.

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari : “Mushanif (Penulis) tidak memastikan dengan hukum-hukum kebolehan, karena ada kemungkinan hal itu boleh dengan syarat darurat, atau karena kebolehan itu terjadi sebelum ada izin untuk memerangi kaum musyrikin dan menghantam mereka serta sebelum ada perintah agar orang mu’muin tidak menghinakan dirinya sendiri”. Kemudian ia menukil ucapan Al Muhallab : [Para ulama memakruhkan hal itu –yaitu bekerja pada kaum musyrikin– kecuali karena darurat dengan dua syarat :

  1. Pekerjaan itu terjadi dalam apa yang halal bagi orang muslim untuk melakukannya.
  2. Tidak membantu orang musyrik dalam suatu yang bahayanya kembali kepada kaum muslimin. (Fathul Bari : 4 / 452)]

Kemudian ia menukil kebolehan bekerja pada kafir dzimmiy ditoko-toko mereka, sedangkan orang-orang kafir dzimmiy itu adalah orang-orang kafir yang hidup di Darul Islam seraya tunduk kepada hukum Islam dan membeirkan Jizyah langsung dari tangan mereka, sedang mereka hina”

Dan kesimpulan adalah dikatakan : Sesungguhnya dimakruhkan bekerja pada kaum musyrikin kecuali Karena kebutuhan atau darurat, dan dengan syarat dalam perbuatannya tidak ada macam maksiat kepada Allah ta’ala. Dan tidak dikatakan bahwa kami megharamkan setiap pekerjaan atau kedinasan, namun suatu yang terdapat didalamnya nushrah (bantuan) atau pengokohan terhadap undang-undang dan hukum-hukum mereka yang bathil serta pemufakatan bersama mereka terhadapnya, maka ia adalah kekafiran (seperti polisi, tentara, dsb.) Dan pekerjaan yang terdapat maksiat didalamnya maka ia haram, sedangkan pekerjaan yang tidak tergolong ini dan itu maka kami tidak mengatakan didalamnya kecuali makruh saja. Dan sebab kami mengatakan makruh adalah kekhawatiran dari sikap mereka mencengkram orang muslim dan menahan haknya kecuali bila ia mau menuruti mereka dalam apa yang mereka cintai dan mereka inginkan, sebagaimana orang kafir itu meminta dari shahabat Khabab radliyallahu ‘anhu hal itu dan menahan upahnya, dan karena kekhawatiran dari munculnya macam rasa akrab dan kasih sayang karena sebab terlalu lama bergaul dengan orang kafir dan sering duduk-duduk dengan mereka, sehingga lembeklah masalah Al Wala dan Al Bara’ dan juga masalah cinta dan benci di jalan Allah, dan engkau telah melihat bagaimana Khabab ra saat bekerja pada orang kafir dalam keadaan merasa mulia (dengan agamanya) lagi menampakan diennya dan tidak mudahanah (basa-basi) kepada orang kafir walaupun dalam kondisi tertindas. Dan barangsiapa berhujjah dengan kisahnya maka ia mesti memperhatikan keadaan Khabab ra ini.

Ini adalah ucapan kami dalam bab ini, dan Allah-lah yang meluruskan dan membimbing kepada kebenaran. Barangsiapa ingin lebih dapat tambahan maka silahkan merujuk kepada kitab kami : “Kasyfun Niqab An Syari’atil Ghab”

Dan dari bab yang lalu ini munculah cabang sebagai jawaban dari masalah yang kedua, yaitu hukum ikut serta dalam barisan tentara, polisi-polisi pemerintah ini, dan lembaga-lembaga intelejennya, karena dinas-dinas ini merupakan anshar (pelindung) pemerintah, auliya (aparat)nya yang membelanya, melindungi, mengokohkan singgasananya. Oleh sebab itu Allah swt telah menyertakan mereka dalam kejahatan, kesalahan dan azab bersama thaghut dan para menterinya, Allah ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah”   (Al Qashash : 8)

dan dalam ayat azab, Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Maka Kami hukum Fir’aun dan bala tentaranya, lalu kami lemparkan mereka kedalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim” (Al Qashash : 40)

Dan telah lalu firman Allah tabaraka wa ta’ala :

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir diantara Ahli Kitab : “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersama kamu, dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti akmi akan membantumu”. Dan Allah menyaksikan bahwa mereka benar-benar pendusta.”  (Al Hasyr : 11)

 

Lihatlah bagaimana Allah ta’ala menjalinkan persaudaraan antara orang-orang yang menampakan Islam dengan kaum musyrikin tatkala orang-orang yang menampakan Islam itu membisikan kepada mereka janji untuk membantu mereka terhadap kaum muwahhidin, padahal sesungguhnya Allah ta’ala mengetahui dan menyaksikan bahwa mereka itu dusta dalam janji mereka ini[5]. Maka bagaimana dengan orang yang terang-terangan yang menyatakan bahwa ia itu bagian dari tentara thaghut, aparatnya, pasukannya dan intelejennya, serta bersumpah untuk setia kepadanya, melindungi undang-undangnya yang kafir, bergadang dalam rangka menjaga dan mengokohkannya, dan bahkan bisa jadi mati dijalannya. Tidak diragukan bahwa orang-orang seperti ini telah lepas darinya agama ini, dan dia sama sekali tidak mencium bau tauhid serta tidak mengenal keindahan warnanya.

Jadi hukum asal para tentara, intelejen dan yang semisal ini adalah bahwa mereka itu pasukan yang setia kepada thaghut, wali-walinya dan aparat pelindungnya. Sedangkan orang seperti itu maka hukum asal padanya adalah bahwa ia itu statusnya sama dengan status thaghutnya, karena tanpa mereka (tentara, polisi, intelejen dan yang serupa dengannya tentulah thaghut tidak bisa berkuasa  dan berdiri[6].

Dan oleh sebab itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah memfatwakan tentang para pembantu orang-orang zalim bahwa status mereka adalah sama dengan status orang-orang yang langsung berbuat zalim itu, dan bahwa sama dalam hal itu orang yang sekedar membantu dengan orang yang berbuat langsung menurut jumhur ulama (Majmu Al Fatawa  : 3/61) maka siapa yang membantu mereka terhadap kekafiran mereka maka status dia sama dengan status mereka.

Dan begitu juga beliau memvonis murtad orang-orang yang bergabung dengan bala tentara budak undang-undang atau Yasiq Tattar, dimana beliau berkata dalam Fatawa-nya : “Dan setiap orang yang membelot kepada mereka dari komandan-komandan pasukan dan yang lainnya, maka status dia sama dengan status mereka. Ditengah mereka banyak terdapat macam riddah (kemurtaddan) dari syari’at Islam sejauh kadar apa yang dia campakan dari syari’at Islam ini. Bila saja salaf telah menamakan orang-orang yang menolak dari membayar zakat sebagai kaum murtaddin padahal mereka itu melaksanakan shaum dan shalat sedangkan mereka (salaf) itu tidak memerangi jama’ah kaum muslimin maka apa gerangan dengan orang yang bergabung dengan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya lagi memerangi kaum muslimin?” (Majmu Al Fatawa : 28/530)

Begitu juga Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah, beliau telah menggolongkan dalan pembatal-pembatal keislaman yang meng-kafirkan : “membantu kaum musyrikin dan bekerja sama dengan mereka terhadap kaum muslimin”. Dan beliau juga berkata : “Dan begitu juga kami mengkafirkan orang yang memperindah syirik dihadapan manusia dan menegakan syubhat-syubhat yang bathil untuk melegalkannya, dan begitu pula orang yang melindungi tempat-tempat kemusyrikan dengan pedangnya dia berperang dengan senjata dalam rangka mempertahankan, dia mengingkarinya serta memerangi orang-orang yang berupaya melenyapkannya” (Majmu’atir Rasail Asy Syakhshiyyah : 60)

Begitu juga setiap orang yang menjaga thaghut dan sarang-sarangnya, dia bekerja dalam rangka mengokohkan pemerintahannya yang kafir, dia mengingkari dan mengingkari orang yang berupaya untuk menghancurkannya dari kalangan mujahidin muwahhidin, karena hukum asal bagi setiap orang yang berperang dijalan thaghut adalah bahwa ia itu termasuk golongan orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman : “Dan orang-orang kafir adalah berperang dijalan thaghut”  (An Nisa : 76). Akan tetapi walaupun demikian, kami tidak mengingkari bahwa bisa saja ada pada barisan tentara thaghut itu ada orang yang menyembunyikan kekafirannya terhadap thaghut tersebut dan menyembunyikan sikap bara’–nya dari kebathilannya, serta ia mencari kesempatan untuk keluar dan lari dari pasukan dan tentara thaghut atau untuk berjuang bagi agama Allah dan membelaNya.

Diantara mereka itu ada yang jujur, yang diberi hidayah oleh Allah ta’ala saat dia berada didalam dinas ketentaraan, dimana ia mengenal kebenaran dan tauhid, dan ia mengungkapkan kekafiran dia terhadap thaghut serta sikap bara’ah dari kebathilannya, dengan amalan yang besar yang didalamnya ia menolong Islam ini dan para penganutnya, serta didalamnya ia menampakan sikap bara’ah dari thaghutnya dan kekafirannya terhadap segala kebathilannya, ataupun dengan keluar dari tempat dinasnya serta menjauhi langsung setelah Allah memberinya hidayah kepada kebenaran, petunjuk dan cahaya.

Dan diantara mereka itu ada orang yang bohong yang mengklaim bahwa ia itu berbuat untuk agama Allah, padahal ia itu pada hakikat sebenarnya bekerja untuk saku dan perutnya dimana ia menjual tauhidnya dan ikatan iman yang paling kokoh dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja. Dan alangkah serupanya mereka itu dengan orang-orang yang Allah firmankan : “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan didunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir”  (An Nahl : 107).

Dan diantara macam yang akhir ini adalah orang-orang yang tinggal di Makkah setelah hijrah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka absen dari hijrah dan (absen) dari keluar dari barisan orang-orang kafir ke barisan orang-orang yang bertauhid karena berat dengan tanah air, tempat tinggal dan harta dan karena lebih mementingkan hal itu dari  pada agama padahal bumi Allah itu sangat luas dan mereka memiliki kemampuan untuk keluar dan bergabung dengan barisan para muwahhidin andaikata mereka mau, akan tetapi mereka malah diam dan betah dan berat untuk meninggalkan buminya, kemudian tatkala mereka sampai pada hari penentuan, yaitu hari bertemunya dua pasukan (di Badar), maka kaum musyrikin memaksa mereka keluar dan menjadikan orang-orang itu dibarisan terdepan, sehingga bila kaum muslimin menembakan panah, mereka membunuh sebahagian orang-orang itu, maka Allah ta’ala menutunkan firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri”  (An Nisa : 97)

Allah ta’ala men-cap mereka sebagai orang-orang yang zalim kepada diri mereka sendiri, karena diantara kezaliman diri yang paling besar adalah ia terhalang dari menemani kaum muwahhidin, membela mereka dan bergabung dibarisan mereka, dan mereka malah tinggal ditengah kaum musyrikin atau barisan kaum murtaddin, kemudian Allah ta’ala menurunkan kepada kita pertanyaan malaikat terhadap mereka “dalam keadaan bagaimana kami ini ?”, yaitu dibarisan siapa kalian ini berada ?, dan ditentara siapa kalian ?, serta pasukan siapa kalian, apakah tentara dan pasukan thaghut ataukah tentara dan pasukan muwahhidin….? Mereka itu tidak berada dibarisan kaum muwahhidin, tidak bergabung dengan tentara mereka serta tidak pula memblok kepada pasukan mereka, akan tetapi mereka berhujjah sebagaimana yang biasa dilakukan banyak orang-orang yang sesat pada hari ini dengan alas an istidl’af (ketertindasan) darurat dan keterpaksaan yang dusta. Mereka mengatakan :“adalah kami orang-orang tertindas dinegeri (Makkah)” (An Nisa : 97)

Dan begitulah jawaban setiap orang yang sesat dari kalangan yang memasukan dirinya dalam bala tentara (aparatur) thaghut, dimana pada umumnya mereka itu beralasan dengan alasan darurat, mata pencaharian, tempat tinggal, isteri, orang tua, atau anak dan yang lainnya berupa materi kehidupan dunia dan tipu dayanya padahal sesungguhnya Allah adalah Sang Pemberi Rizqi lagi Maha Kokoh. Padahal pintu-pintu rizqiNya ta’ala adalah sangat luas dan siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia menjadikan baginya jalan keluar, oleh sebab itu malaikat menjawab hujjah mereka yang lemah ini dengan ucapan mereka : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu bisa berhijrah dibumi itu?, orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”  (An Nisa : 97)

Perhatikanlah wahai saudaraku perdebatan yang menakutkan ini ditempat yang besar itu, dan perhatikanlah akhir perjalanan yang buruk ini…. Kita berlindung kepada Allah darinya…!!

Perhatikanlah Tauhid kalian, pegang teguhlah hal itu jangan kalian lepaskan dia demi gaji, pekerjaan atau materi dan pernak-pernik dunia yang fana ini dan janganlah kalian menjadi bagian tentara para thaghut dan tentara Iblis yang Allah ta’ala  firmankan :

“Suatu tentara yang besar yang berada disana dari golongan yang berserikat pasti akan dikalahkan”  (Shaad : 11)

dan firmanNya ta’ala :

“maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkir kedalam neraka bersama orang-orang yang sesat dan bala tentara iblis semuanya” (Asy Su’ara : 94-95)

Akan tetapi larilah kalian kepada Allah ta’ala dengan membawa agama dan tauhid kalian dari setiap pekerjaan dan kedinasan yang seperti itu, dan jadilah kalian bagian dari tentara Allah yang bertauhid sebagaimana firman-Nya : “Dan sesungguhnya tentara kami, itulah yang pasti menang” (Ash Shafaat : 173)

Bukti disini adalah bahwa Allah tidak mengudzur orang-orang yang mengaku Islam tatkala mereka mati dibarisan (tentara) kaum musyrikin kecuali diantara mereka yang benar-benar tertindas dari kalangan wanita dan anak-anak yang tidak memiliki daya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), dan Allah juga tidak menganggap berdosa orang yang membunuh mereka dan memerangi mereka dari kalangan muwahhidin, akan tetapi Dia memberikan pahala dan balasan yang besar bagi mereka, dimana setiap orang yang mengikuti perang Badar memiliki keistimewaan khusus dan keutamaan yang besar. Dan ini serupa dengan pembinasaan Allah ta’ala terhadap pasukan yang hendak menginvasi Ka’bah seluruhnya, sedangkan ditengah mereka ada orang yang tidak keluar bersama mereka untuk berperang, akan tetapi hanya memperbanyak jumlah mereka saja dan yang lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu Al Fatawa: 28/537 : “Allah ta’ala telah membinasakan pasukan yang ingin mengotori kehormatan-kehormatanNya (tanah suci) -yang dipaksa diantara mereka dan yang tidak dipaksa- padahal Dia mampu memilah-milah diantara mereka, padahal (juga) Dia membangkitkan mereka diatas niat-niat mereka, maka bagaimana wajib atas kaum mu’minin mujahidin untuk memilah-milah antara orang yang dipaksa dengan orang yang tidak dipaksa sedangkan, mereka tidak mengetahui hal itu?”

Dalam hal ini ada faidah yang wajib diperhatikan, yaitu bahwa orang berada dibarisan pasukan tentara thaghut maka sesungguhnya kaum muwahhidin diudzur, bahkan dapat pahala dalam membunuh orang tersebut, memerangi dan memperlakukannya sebagai orang kafir walaupun dia megklaim bahwa ia menyembunyikan Tauhid dan Iman, karena kita dalam hukum dunia ini diperintahkan untuk menghukumi berdasarkan dhahir, dan adapun masalah bathin maka kita tidak memiliki jalan untuk mengetahuinya setelah keter-putusan wahyu.

Oleh sebab itu sebahagian ulama telah membagi tentara thaghut atau kaum musyrikin kepada dua macam :

  1. Orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang memerangi kaum muwahhidin sebagai bentuk bantuan bagi orang-orang musyrik / thaghut.
  2. Orang-orang yang diperlakukan sebagai orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang menambah jumlah banyak orang-orang kafir saja[7].

Dalam hal itu Syaikh Muhammad Ibnu Abdullathif Alu Asy Syaikh rh berkata :

“Tidak dikatakan bahwa ia dengan sekedar berkumpul dan tinggal bersama orang musyrik adalah menjadi kafir, akan tetapi yang dimaksud adalah bahwa orang yang tidak mampu keluar dari tengah kaum musyrikin terus mereka mengeluarkannya dengan paksa bersama mereka (untuk memerangi kaum muslimin), maka status orang tersebut sama dengan status mereka dalam hal dibunuh dan diambil hartanya, tidak dalam kekafirannya. Adapun bila ia keluar bersama mereka untuk memerangi kaum muslimin secara sukarela dengan kemauan sendiri, dan ia membantu mereka dengan badan dan hartanya maka tidak ragu lagi bahwa status orang tersebut adalah sama dengan status mereka dalam kekafirannya.” (Majmu’atur Rasaa’il wal Masa’il : 2/135)

Maka hati-hatilah dari tempat-tempat yang menjerumuskan ini, dan bersegeralah berlepas diri dari musuh-musuh Allah, kufur terhadap mereka, dan menjauh dari mereka. Sesungguhnya orang yang tidak merealisasikan itu didunia, maka ia akan berangan-angan saat penyesalan tidak berguna untuk bisa kembali kedunia, bukan untuk shalat, bukan untuk zakat, dan bukan pula untuk shaum, akan tetapi untuk merealisasikan terlebih dahulu pokok agung ini, yaitu bara’ah (berlepas diri) dari musuh-musuh Allah ta’ala, karena tanpa hal itu tidaklah bermanfaat shalat, zakat, dan shaum sebagai mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti : “Seandainya kami dapat kembali (kedunia) pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”, Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka” (Al Baqarah : 167)

dan firmanNya ta’ala :

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”, dan mereka berkata :“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, limpahkanlah kepada mereka azab dua kali lipat, dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar” (Al Ahzab : 66-68)

Inilah, sedangkan didalam bab ini terdapat banyak hadist yang mengancam dan menghati-hatikan dari pekerjaan-pekerjaan semacam ini disisi para penguasa (muslim) yang aniaya dan zalim, maka bagaimana dengan bekerja dengan hal serupa pada para penguasa yang kafir, musyrik dan murtad?? Dan diantara hadist-hadist itu antara lain:

 

     Apa yang diriwatkan Muslim dan Shahih-nya : (Adalah kami duduk besama Hudzaifah ra di masjid, terus dating seoranglaki-laki sampai ia duduk dekat kami, maka dikatakan kepada Hudzaifah : “Sesungguhnya orang ini suka menyampaikan banyak hal kepada penguasa”, maka Hudzaifah bekata dalam rangka membuat ia mendengar : “Tidak masuk surga Qatat”. Dan juga ini diriwayatkan oleh Bukhari : sedangkan Qatat adalah sebagaimana dalam Fathul Bari : Orang yang mencari dengar tanpa ia diketahui terus menyampaikan apa yang ia dengar itu. Ini dikatakan pada masa Khalifah Utsman radliyallahu ‘anhu, dan bila saja orang yang menyampaikan berita kaum muwahhidin kepada khalifah muslim untuk merusak diantara kaum muslimin adalah tidak masuk surga, maka bagaimana dengan orang yang memata-matai kaum muwahhidin untuk kepentingan kaum musyrikin untuk mengokohkan singgasana mereka dan melindungi undang-undang mereka yang  bathil ??. Tidak ragu lagi bahwa ini termasuk bentuk membantu kaum musyrikin dan bekerja sama dengan mereka terhadap kaum muwahhidin, sedangkan engkau mengetahui hukumnya. Dan dalam memperlakukan orang-orang macam dia itu didunia silahkan rujuk apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan yang lainnya dari Salamah Ibnul Akwa tentang mata-mata/intel/spionase (jasus) kaum musyrikin (Fathul Bari : 6/168)

 

   Apa yang diriwayatkan Ibnu Hibban, Abu Ya’la, Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Ash Shagir dan yang lainnya, juga Al Khatib Al Baghdadiy[8] sedangkan lafadh adalah riwayat beliau secara marfu’ :

“Akan ada diakhir jaman para penguasa yang dzalim, para menteri yang fasiq, dan para fuqaha yang dusta. Siapa yang mendapati mereka maka janganlah ia bekerja untuk mereka sebagai ‘Arif [9] penarik (zakat), penjaga (perbendaharaan), dan polisi”. Sedangkan dalam lafadh Ibnu Hibban, Abu Ya’ala dan Ath Thabrani: “Sungguh akan datang atas kalian para penguasa yang bodoh yang mendekatkan orang-orang jahat dan mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya[10] Siapa yang mendapatkan hal itu dari mereka, maka janganlah ia menjadi ‘arif, polisi, penarik zakat dan penjaga (perbendaharaan)”. (Dan ia adalah hadist shahih dengan jalan-jalannya.)

 

  Hadist Ath Thabrani dan yang lainnya dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam berkata :

“Akan ada pemimpin yang kalian ketahui dan kalian ingkari, siapa yang menentang mereka maka ia beruntung, siapa yang menjauhi mereka maka ia selamat, dan siapa yang bergaul campur dengan mereka maka ia binasa”

 

Hati-hatilah kamu jangan sampai tergolong orang-orang yang binasa…!

 

  Begitu juga apa yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Muslim dalam Shahih-nya dari Ummu Salamah :

“Sesungguhnya kelak akan memerintah kalian para pemimpin yang kalian kenali dan kalian ingkari, siapa yang mengingkari maka ia telah berlepas diri, dan siapa yang membenci mereka maka ia akan selamat, akan tetapi (yang binasa adalah) orang yang ridha dan mengikuti”

Maka janganlah sampai kamu tergolong orang-orang yang mengikuti…awas, janganlah seperti itu !

 

  Begitu juga apa yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Ath Thabrani dari ‘Abis Al Ghifari secara marfu’ :

“Bersegeralah untuk mati –dalam satu riwayat: “Bersegeralah melakukan amalan sebelum tiba enam hal : Kepemimpinan orang-orang bodoh, banyaknya polisi, penjualan hukum.….” Perhatikanlah bagaimana Nabi saw telah menganggap banyaknya polisi sebagai bagian dari fitnah (bencana) yang beliau khawatirkan atas umatnya. Dan didalam asal hadist ini sesungguhnya shahabat (yang meriwayatkan hadist ini) memandang bahwa fitnah ini telah terbukti pada zamannya, oleh karena itu mengangan-angankan untuk mati, maka bagaimana dengan zaman ini yang banyak keburukannya dan sedikit kebaikannya?, maka hati-hatilah kamu dari jalan-jalan dan berbagai trik musuh-musuh Allah.

 

   Begitu juga apa yang diriwayatkan Al Imam Ahmad, Al Hakim, dan Ath Thabrani dalam Al Ausath dan Al Kabir dari Abu Umamah, bahwa Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wassalam berkata : “Akan ada nanti diakhir zaman polisi-polisi yang berangkat pagi-pagi dalam murka Allah, dan kembali dalam kebencian Allah” dan Ath Thabrabi menambahkan : “Maka janganlah sekali-kali kamu menjadi bagian orang-orang yang dekat dengan mereka”.

Bahasan ini panjang pembicaraan didalamnya, akan tetapi dalam kadar ini terdapat kecukupan bagi orang-orang yang menginginkan hidayah.

Dan dari uraian yang lalu ini jelaslah dihadapanmu jawaban dari pertanyaan ketiga, karena ajaran kafir adalah satu, baik itu lokal maupun internasional, sedangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Persekongkolan Bajingan-Bajingan adalah lembaga kafir yang dikendalikan Yahudi yang tidak berdiri kecuali untuk melindungi kepentingan orang-orang kafir, baik itu Yahudi, Nashrani, maupun orang-orang mulhid. Bila saja kami tidak membolehkan bagi diri kami dan bagi ikhwan kami kaum muwahhidin untuk menjadi tentara dan anshar bagi satu negara dari Negara-negara kafir itu dan kami menganggap itu bagian dari kekafiran, maka bagaimana boleh mereka menjadi hal seperti itu untuk Negara-negara itu seluruhnya yang berserikat?. Yang dimana tentara-tentara itu membantu resolusi-resolusinya, politik-politiknya, dan putusan-putusannya yang muncul dari mahkamah kafir mereka, yaitu Mahkamah Internasional, sehingga mereka menjadi tentara yang setia terhadapnya dan ter-hadap undang-undang internasional yang kafir itu. Mereka berangkat untuk melindungi resolusi-resolusinya dan membela undang-undangnya dengan kekuatan senjata dan bisa jadi mereka terbunuh dijalannya. Kita memohon keselamatan dan ‘afiyah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Inilah yang sama sekali tidak bisa diterima oleh orang-orang yang memiliki sedikit akal saja, apalagi oleh orang yang telah mencium wangi tauhid.

Didalam Shahih Bukhari, Kitabul Fitan bab “Orang-orang yang benci memperbanyak jumlah orang-orang dalam fitnah dan kedzaliman” :

Dari Abul Aswad berkata : “Ditetapkan keharusan mengirim pasukan atas ahli Madinah, maka saya mendaftarkan diri didalamnya, kemudian saya menjumpai Ikrimah, lalu saya mengabarkan hal itu, maka dia sangat melarangnya, kemudian berkata, “Ibnu ‘Abbas mengabarkan kepada saya bahwa sejumlah dari kaum muslimin dahulu seraya memperbanyak jumlah kaum musyrikin melawan Rasulallah, kemudian datang panah yang ditembakkan mengenai kepada salah seorang dari mereka sehingga membunuhnya, maka Allah menurunkan firmanNya : “Sesungguhnya orang-orang yang di wafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri……” (An Nisa : 97)

            Perhatikanlah –semoga Allah merahmatimu- larangan mereka dari menjadi utusan dalam pasukan yang memperbanyak jumlah orang-orang yang zalim, maka bagaimana dengan orang yang menjadi utusan dalam pasukan yang memperbanyak jumlah orang-orang kafir, musyrikin dan murtaddin? Maka hati-hatilah kamu jangan sampai menelantarkan agamamu karena ia adalah hal termahal yang engkau miliki, sedang-kan selain itu adalah menuju kepada kehancuran.

Inilah yang bisa diutarakan dalam kesempatan yang singkat ini, saya memohon kepada Allah agar menjadikan saya dan saudara-saudara saya kaum muwahhidin bagian dari orang-orang yang mendengarkan ucapan lalu mengikuti yang paling baik diantaranya, agar Dia mengokohkan kami atas Al Haq Al Mubin, serta menjadikan kami bagian dari anshar dienNya dan orang-orang pilihanNya, serta mengakhiri kehidupan kami dengan kesyahidan di jalanNya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan

Dan Akhir seruan kami adalah segala puji milik Allah Rabbul ‘Alamin, dan shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada NabiNya Muhammad, keluarganya dan para shabatnya.

 

Pertengahan Bulan Safar 1414 H

Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy

Selesai diterjemahkan :

Siang, hari Kamis 15 Rabi’ul Awwal 1427 H

[1] Maksudnya Saudi dan sekitarnya karena Saudi adalah Negara kafir dan pemerintahnya adalah pemerintah kafir juga (lihat :  Kawasyif Al Jaliyyah Fi Kufri Daulah As Su’udiyyah). Bila hukum-hukum yang akan diutarakan adalah tentang pegawai pemerintah Saudi yang tidak frontal terang-terangan akan kekafirannya, maka apa gerangan dengan aparatur Negara Republik Indonesia ??? (Pent.)

[2] Diantara makna Dien adalah aturan/hukum/undang-undang sebagaimana firman Allah ta’ala :“Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja” (Yusuf : 76) Pent.

 

[3] Seperti yang ada pada Sumpah Pegawai Negeri Sipil RI, berdasarkan  Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 1975 pasal 6 yang berbunyi :

 “Demi Allah, Saya Bersumpah :

    Bahwa  saya  untuk  diangkat  menjadi  Pegawai  Negeri  Sipil  akan  setia  dan  taat  sepenuhnya  kepada Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah;

    Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang  dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;

   Bahwa saya akan senantiasa menjungjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan martabat Pegawai Negeri  serta  akan  senantiasa  mengutamakan   kepentingan   Negara   daripada   kepentingan  saya  sendiri, seseorang atau golongan;

        Bahwa  saya  akan  memegang  rahasia  sesuatu   menurut  sifatnya  atau  menurut  perintah  saya  haruus merahasiakan;

              Bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara.”(Pent.)

 

[4] Berjanji untuk melakukan kakafiran walaupun janji  yang dusta dan tidak ada niat dihati untuk merealisasikannya adalah kekafiran dan orangnya divonis kafir, seperti  PNS yang berjanji dengan janji tadi,  sedang ia tidak ada niat untuk patuh di dalam hatinya.(Pent

[5] Didalam ayat ini ada faidah lain yang besar, yaitu bahwa tawalliy kepada orang-orang kafir dan membantu mereka  terhadap kaum muwahhidin adalah kufur amaliy yang mengeluarkan dari millah (agama), meskipun pelakunya tidak meyakini atau tidak menghalalkannya didalam hatinya. Dan kami telah membantah mereka dan membongkar syubuhati mereka yang paling masyhur dalam risalah kami yang berjudul “Imta’un Nadlar Fi Kasyfi Syubhati Murji’atil ‘Ashri”, maka silahkan merujuk kesana

 

[6] Yang mana tentara, polisi, dan intelejen itu ibarat pasak/ paku yang mengokohkan bangunan (system dan kekuasaan) yang bila mereka tidak ada, maka bangunan kekuasaan thaghut itu tidak akan berdiri.(Pent)

[7] Ini kalau tidak ada kekafiran lain seperti sumpah dan yang lainnyya.(Pent)

[8] Tarikh Baghdad : 10/284, 12/63

[9]Arif adalah tokoh masyarakat dari setiap suku dan yang lainnya yang diangkat sebagai perantara antara penguasa dan masyarakat yang menyampaikan masalah-masalah yang dialami masyarakat kepada penguasa(Pent)

[10] Maksudnya mereka mengakhirkan shalat dan melaksanakannya diakhir waktu sebelum waktu habis (Pent)

Advertisements