Inilah pernyataan pernyataan telak yang sering kita terhenyak, kemudian dijawab spontan penuh ledakan emosi. Hasilnya, bukan orang jadi mengerti, bahkan semakin terkesan bahwa kita begini begini ini memang bukan untuk mengabdi tapi sekedar karena tidak kebagian jatah kekuasaan17.

                      Bagi mujahid yang telah menyadari bahwa negara yang dibelanya bukan negara yang dimiliki si penanya nakal tadi, hendaknya mereka mengambil sikap :

Pertama, membayangkan dalam hati, kira kira kalau Negara Islam sudah berjaya orang ini akan protes dan bersikeras mau keluar dari wilayah negara Islam atau tidak ? Kalau jawabannya “Tidak !” Ah sudahlah, berarti orang ini memang calon warga negara Islam yang baik di masa depan, hari ini dia ngomong macem macem cuma karena berat untuk ikut saja, enggan menata dari awal, toh nanti kalau sudah ada, diapun akan menikmati juga. Sudahlah… biar dipaksa juga kalau memang bakatnya cuma jadi rakyat masa depan, agak sukar diajak sekarang. (Kita dengar saja bagaimana kilatnya bila Daulah Islamiyyah berjaya kelak).

Kedua, Diam membiarkan mereka terus bicara, sementara otak terus berfikir, kalau kata kata model begini di dengarnya oleh ummat biasa, bagaimana reaksinya, “Akankah mereka terpengaruh ?”, kalau “Iya” Bagaimana mengantisipasinya, secara shahih menurut dalil ? Sebab kalau kita marah guna membungkam pertanyaan yang mendidikan darah ini, mungkin di depan kita ia berhenti bicara, tapi secara diamdiam ia akan mempertanyakannya juga pada saudara yang lain18. Persoalan tidak bisa dituntaskan hanya dengan marah, karena itu biarkan saja ia terus bicara, hitung hitung nyari inspirasi untuk jadi bahan taushiyyah. Guna meneguhkan hati ummah sambil menguji diri sampai sejauh mana bisa mempertahankan argumentasi atas benarnya jalan yang dipilih (dengan izin Alloh jua adanya).

           Ketiga, Kalau memang yang bicara itu simpatisan Thoghut, ya biarkan saja jangan dijawab, dari pada jadi ketahuan, boleh jadi ini pancingan (Siapa tahu ?).

Keempat, Kalau Ikhwan sendiri yang nanya begini… Ooh berarti dia dapat informasi baru, harus hati hati menjawabnya. Cari jawaban yang tepat dan memuaskan, sebab ia bertanya begitu bukan berarti hendak pergi, tetapi sedang Mencari pegangan buat menentramkan hati yang goncang akibat pertanyaan pertanyaan yang sulit dijawabnya tadi19.

           Ingat, bahwa seseorang bisa goncang kalau apa yang telah lama diyakininya, bertabrakan dengan ide baru yang didengarnya. Dia akan mencari pegangan. Tugas kitalah untuk menentramkannya. Sebab tantangan buat para petugas penerangan !!

           Hari ini penulis lebih banyak diam, tidak menjawab seketika bila diberondong dengan pertanyaan pertanyaan seperti di atas21 baru kemudian mencari jawabnya di atas bashiroh (kejelasan dalil) dan menyampaikannya pada sipenanya bila sa’atnya telah tepat. Mengapa demikian ? Sebab yang bertanya itu ada 3 Macam :

  1. Sungguh sungguh ingin tahu dan mencari kebenaran, ini yang harus kita hadapi sepenuh energi dan bertanggung jawab.
  2. Ada yang sekedar iseng, kalaupun sudah tahu dan puas dengan jawabannya, ia ngeloyor pergi, tidak juga mau ikut kita.
  3. Ada yang mancing, untuk merogoh isi hati, kemudian dijebak demi keuntungan mereka. Kalau tidak hati hati, bisa “celaka” gara gara terpancing emosi, orang se Daulah bisa masuk kamp Tawanan.22

Hati-hati jangan salah membaca orang, lihat dulu siapa yang bertanya, kalau kelihatannya cuma iseng, yaa santai saja, selama tidak menimbulkan fitnah, dijawab secara salam saja (Q.S. 25:63). Bahkan seharusnya kita yang balik bertanya (Biar dia mikir, jangan malah kita yang terpancing harus berfikir keras hanya untuk sebuah pertanyaan iseng), mainkan dia dengan pertanyaan pertanyaan yang membuka wawasan.

______________________________________________________________
Catatan kaki :

17 Setelah difikir fikir kalau kita nagmbek, kita rugi sendiri, habis kadang yang nanya cuma iseng, cuma sekedar alasan menolak untuk bergabung, terus kita jawab serius (pake emosi lagi) ya….. jelas dia kesenengan, jadi bahan cerita sama temen temennya bahwa kita ini orangnya enggak bisaan, baru segitu saja sudah tidak bisa nahan diri, apalagi dalam perkara perkara besar ??? bukankah sebesar besar jihad itu menahan hawa nafsu, ngakunya mujahid tapi yang kelihatan bukan tekunnya, cuma pemarahan melulu, huu…. tak ada apa apanya !!! Begitu kira kira seloroh mereka.

18 Rugi ! Iya kalau yang ditanya cukup bekal, jika tidak bukan malah kelabakan ?

19 Usahakan jawaban itu membuat dia tentram dari kegelisahannya, dan menjadi daya tangkal atas serangan pemikiran lain yang mungkin dilontarkan pihak luar padanya di masa masa yang akan datang. Sebab jika sipenanya kita marahi atau di indoktrinasi dengan saklek mungkin ia diam (sebenarnya tidak puas dengan jawaban kita, hanya tidak berani bertanya lebih jauh karena melihat kitanya sudah naik darah) tapi kegelisahan dan keyakinan yang mulai goyah tetap tak terobatkan. Kemungkinan mencari ketentraman hati di lain tempat semakin terbuka lebar.

20 Ingat kasus Nabi Ibrohim dalam Quran, yang bertanya kepada Alloh bagaimana menghidupkan makhluk yang telah mati. Pertanyaan beliau bukan meragukan kemampuan Alloh, tapi sekedar menentramkan Qolbu saja, sekedar ingin memperoleh gambaran bagaimana sih yang sudah sirna bisa mengada kembali (Q.S. 2:260). begitu pula dengan pertanyaan saudara kita tadi, ia bukan ragu tapi penasaran bagaimana cara menjawab pertanyaan orang seperti yang ditemuinya itu.

21 Sebab kalau menjawab itu harus pakai mikir, lain dengan mereka yang bertanya. Hati-hati…. kalau yang bertanya dan yang menjawab sudah sama sama tidak berfikir, lebih baik anda menghindar dari “majlis gila” itu !

22 Padahal dalam lingkungan kita istilah “gugur satu tumbuh seribu|” belum bisa diterapkan, satu saja tertangkap, mencari pengganti yang setara betapa susahnya. Hindari kerugian karena keteledoran. Jangan menganiaya diri sendiri, janagn termasuk mereka yang lalai (walaa takuunanna minal Ghofiliin).

Advertisements