Pemburaman itu biasanya bekisar disekitar isue isue berikut :

  1. Mengapa perjuangan anda berorientasi pada kekuasaan, bukankah orang yang ikhlas itu tidak mengharapkan apa apa dengan ibadahnya itu di dunia. Bukankah kita ini sedang berbekal untuk akhirat, mengapa malah menyibukkan diri mengurus dunia ? Apalagi ingin menguasai pemerintahan, bukankah dalam hadist ada mengatakan, bahwa siapa yang ingin menjadi pemimpin tidak boleh diangkat ? Bagaimana mungkin kami mendukung orang yang berambisi memerintah seperti anda ? Terus terang sajalah, apa yang sebenarnya anda cari, Ridho Alloh atau kekuasaan ? Mau jadi apa, hamba sejati atau mau memperhamba manusia dengan tameng pemerintah Islam ? Mengapa jadi sibuk mau mengurus orang lain, diri sendiri saja belum tertara maksimal dalam tho’at !

  1. Rosul SAW diutus untuk memuliakan akhlaq manusia, bukan menghujat satu pemerintahan. Perjuangan Rosul SAW murni mengembangkan agama, bukan mendirikan negara. Sebab kalau benar tujuan Rosul SAW adalah untuk mengepalai suatu pemerintahan, tentu tawaran menjadi raja yang pernah ditawarkan orang-orang Quraisy, tidak akan ditolaknya. Penolakan beliau untuk menjadi raja, merupakan bukti kongkrit, tidak adanya ambisi dalam dakwah islam.
  1. Sekarang mengapa anda malah mengajak kami untuk mengguligkan satu pemerintahan yang syah ? Mengapa bukan mendakwahinya agar yang sudah memimpin ini menjadi baik, kita jadi curiga, barangkali karena anda ingin juga kebagian memimpin ? Mengapa mendirikan Negara, bukan serius mengembangkan agama di Negara yang menjamin kebebasan melaksanakan agama ? Mengapa tidak memanfaatkan kebebasan yang disediakan ? Kalau bukan karena ambisi memerintah, alasan apalagi yang membuat anda mau berpayah payah begini ?
  1. Keinginan memiliki Negara, jelas merupakan pelusi ambisi, sedang keinginan menjangkau urusan politik adalah I’tikad yang bid’ah. Islam itu agama bukan negara ! Politik dan Negara Bukanlah ide Islami, tapi fikiran Montesque dan pemikir Barat (Kafir) lainnya. Sebab bicara nergara pasti bicara ideoligi negara, padahal kalau islam dijadikan ideologi jelas salah besar ! Sebab islam bukan ideologi. Dari segi bahasa saja ideologi bermakna ilmu tentang ide ide manusia (Man Made), sedang islam adalah wahyu bukan ide. Harap diperhatikan bagi setiap mereka yang bersemangat memperjuangkan ideologi islam, jangankan hasilnya, mulai beranjak saja anda sudah salah !!
  1. Politik itu haram disentuh, sebab sejarah telah cukup menjadi bukti, persenyawaan Islam dengan Politik, hanya mengalirkan darah dan peperangan, hanya menimbulkan pemberontaka dan kemarahan, lupa dzikir lupa ibadah, membuat orang tidak mengindahkan lagi prinsip prinsip kasih sayang dan kesucian yang diajarkan Islam.
  1. Orang yang berlaga ‘Ngurusi’ Politik sampai hari ini terbukti tidak menghasilkan apa apa, paling paling cuma keluar masuk penjara, dijauhi orang dan membuat orang semakin takut pada islam. Citra Islam berubah menjadi serem dan kaku kalu sudah dipegang orang-orang yang berambisi politik. “Kalu benar juga menang tum….. masa kalah melulu, berarti tidak bener tuh ente punya gerakan….”.
  1. Yang hendak kita bina adalah manusia manusia, bukan mengurusi struktur yang tidak bernyawa, kalau orang orangnya sudah baik, kan otomatis negaranya pun akan jadi baik. Apa artinya sebuah negara baru, kalau orang-orangnya tetap berjiwa lama dan jahil terhadap Islam, hasilnya akan begitu begitu juga.
  1. Sekali kita berfikir Negara, maka jelas ada pembatas wilayah dan kekuasaan, bagaimana ini bisa sesuai dengan Islam, padahal Islam ini alamiyayah (mendunia), tidak terbatas geografis ataupun bangsa ? Mengapa harus membatasi Islam dalamsatu negra saja ? Yang pasti, Ide ide negara Islam hanya bersumber dari orang yang haus kekuasaan, walaupun terpaksa harus mengorbankan globalitas islam tadi !
  1. Kalau mau, jangan berfikir negara islam tapi fikirkanlah dunia islam, sebab islam itu mendunia, bukan melokalisir diri dari dalam satu negeri. Negara itu kecil, coba fikirkan yang besar, biar jadi ummah yang besar, biar fikiran juga luas seluas dunia, bukan terkurung di satu negeri !
  1. Kalau negara pasti isnya bangsa, dan ini ashobiyyah, musyrik, bukan lagi ummah Muhammad, Laisa minaa man da’aa ila ashobiyah ( bukan kelompok kami orang yang menyeru pada kebangsaan Al-Hadist) ngapain susah susah di kejar penguasa, kalau yang diperjuangkan cuma ashobiyyah yang membawa kemusyrikan…….
  1. Mengapa harus bergulat dengan kekuasaan, Nabi Musa juaga tidak menggulingkan kekuasaan Fir’aun, malah mendakwahi, lemah lembut lagi, coba lihat tuh Quran Surat 20 : 42-44. Makanya kalau menafsirkan Quran itu jangan sepotong sepotong ruginya dua kali, sudah sengsara di dunia (dipenjara berkali kali) eh menyimpang dari Quran lagi, gimana tuh berjuang kayak begitu ???
  1. Mengenal islam lewat ‘kelompok’ anda tidak membawa damai di hati, malah jadi gelisah penuh rasa takut…… Padahal kata Alloh kalau sudah mengikuti hidayahNya hati itu tidak takut dan gelisah lagi (Q.S. 2:38). jadi jelas ada yang salah dalam perjuangan tadi, kalau malah pembuat pengikutnya jadi ketakutan (tidak sejuk dan damai seperti yang dijanjikan Quran.)
  1. Manfaat apa yang bisa saya ambil dari jama’ah ini…. yang jelas cuma terancam dan penuh was was. So’al kemapanan Tarbiyyah, banyak yang lebih baik dari jama’ah anda, belum lagi soal management organisasi, apalagi kalau kita menghitung kekayaan organisasi dan dukungan ummah. Masuk jama’ah anda tak ubahnya dengan “ Menjerumuskan diri dalam kebinasaan “ ! Padahal itu dilarang Quran (Q.S. 2:195).
Advertisements