Keliru dalam menjalani sifat/jalan jihad, membuat diri salah bertindak, serampangan mengeluarkan pendapat, serta mudah ragu bila ada masukan baru dari luar. Yang mana kesemua dampak tadi jelas merugikan perjuangan secara keseluruhan.

Ummah yang telah terikat ‘Aqad’, terpadu janji bisa berguguran satu per satu, ‘dengan penuh rasa sesal’ meniggalkan arena perjuangan, sebab merasa apa yang selama ini di jalaninya menyimpang dari ‘aqidah Islam’. Bahkan tidak sedikit yang berbalik melempar sumpah serapah, kasak kusuk menyebar keraguan, agar orang lainpun ikut pula meninggalkan arena jihad seperti dirinya telah keluar11. Ini akibat secara ilmu tidak paham atau secara mental tidak siap atas apa yang diri mereka bergabung kepadanya!

Mereka yang samar memahami sifat atau jalan jihad, tidak sedih ataupun gelisah melepas tanggung jawab mempertahankan Daulah Islamiyyah berjuang, malah merasa bangga dan bersyukur bisa terlepas dari padanya, menikmati ketentraman turut membangun Darul Kuffar yang sementara ini sedang di atas angin.12

Sebagian dari mereka adapula yang bertahan menjadi pemberontaka, baik terhadap Darul Kuffar ‘yang ia benci tapi rindu’ maupun terhadap daulah islamiyyah yang ditinggalkannya. Atau bahkan ada yang langsung merealisasikan ‘taubatnya dengan membantu penuh kepentingan Darul Kuffar dalam menghancurkan Daulah Islamiyyah’, merasa ‘ibadah’ mengorbankan bekas bekas saudara senegaranya demi kejayaan Darul Kuffar. Naudzubillahi Min Dzalik.

Gejala ini perlu dikaji dengan hati dingin di bawah cahaya petunjuk, jika tidak kejadiannya akan terus berulang. Kasus kasus model begini, tidak akan selesai dengan vonis ‘Bughot‘, Mufarriq lil jama’ah’ , dan istilah serem lainnya yang justru membuat si pelaku semakin ‘lengket’ dengan Darul Kuffarnya.

Kasus ini mungkin pula terjadi akibat kurang sempurnanya pemahaman ketika awal memasuki Daulah Islamiyyah Berjuang. Barangkali ia hanya merasa memasuki sebuah jama’ah 13  saja, atau karena dulu dimotivasi oleh kebenciannya yang tumbuh lewat “doktrin doktrin pemberontakan” yang diberikan oleh pembinanya juga yang “Haus Pemberontakan” bukan “Rindu Ketho’atan”.14

Karenanya bila suatu sa’at terjadi gelombang keresahan di kalangan ummat, akibat “ilmu baru” dari luar, hendaknya para pembina menentramkan ummat lewat pendekatan edukatif (mendidik) yang mencerahkan wawasan. Insya Alloh kebenaran yang tengah kita jalani bisa dipertanggung jawabkan secara naqli maupun ‘aqli bagi siapa saja yang menghendaki jalan hidayah.

Biasanya penyakit ini timbul karena masukan dari luar, dari orang-orang yang memang anti Daulah Islamiyyah (ADI)15, atau terjebak propaganda musuh Islam yang berusaha merusak lewat pengacauan pola berfikir (Ghozwul Fikri).

Isu Isue yang menyudutkan tersebut (sebagiannya akan di bahas kemudian -pen), jika direnungkan dengan bening hati, sebetulnya tidak lebih dari sekedar upaya menghindar dari perasaan berdosa karena tidak ikut mempertahankan Daulah Islamiyyah Berjuang. Sebenarnya secara pribadi mereka pun sadar, bahwa tida ada yang pantas dibela dan dibangun oleh seorang muslim, selain Daulah Islamiyyah yang menjunjung tinggi Dienul Islam. Namun karena mental tidak siap akhirnya “mengobati hati” dengan meyakin yakinkan diri bahwa Daulah Islamiyyah itu salah, bobrok dan harus ditinggalkan.

Secara psikologis, salah satu cara untuk menhilangkan keresahan jiwa akibat tidak membantu sesuatu yang benar, adalah dengan cara “Menyalahkannya”.16

Bila Mujahid Daulah Islamiyyah berjumpa mereka, tidak perlu marah, sebab begitulah keadaan mental rakyat yang negaranya sedang berperang dengan Daulah Islamiyyah ! Sekalipun mereka muslim, tapi tentu kapasitas mental muslim dzimmi tidaklah sama dengan mereka yang masih berkobar api jihad di iwanya ! Ini perlu dimaklumi …….

Bagi orang seperti ini, walaupun dalil dalil yang kita sampaikan sejelas matahari di siang bolong, mereka tetap akan “menggelapkannya” dengan bebagai dalil yang dicomot secara serampangan.

Masalahnya memang bukan karena beda ‘aqidah, tetapi beda daulah. Karenanya wajar kalau praktek amal dan wawasan tidak sama, sebab kaki berpijak pada tempat yang berbeda.

Dalil dalil mereka lebih sering terungkap lewat pertanyaan, sebab ini merupakan cara efektif untuk menebar keragu raguan, menggoyang apa yang selama ini ditetapi. Mengelak dengan cara memberondongi pertanyaan, lebih mudah dari pada mengetengahkan hujjah. Bertanya itu tidak perlu memeras otak payah payah, berbeda dengan menjawabnya !

_________________________________________________________________

11 Lihat (Q.S. 9:44-47 dan Q.S. 9:42) yang karena sesak nafas menempuh beratnya perjalanan, ia pun futhur (mogok). Hanya sayangnya keberhentian dia, justru tidak membuat dirinya berhenti dari melemahkan semangat mereka yang masih aktif berjihad. Bukan sekedar itu, malah memunculkan isyu isyu yang menjepit para mujahid. Ini sering terjadi, dan kita cukup kerepotan dengan mundurnya orang yang sempat lalu tadi. Semoga Alloh pelihara langkah kita, sehingga hal yang sudah terjadi bisa di atasi, sedang dikemudian hari sedapat mungkin bisa dihindari, Amiiiin…..
12 Bahkan di antara mereka ada yang mengikuti jejak para pendahulunya, hingga berani berkata, bahwa Orang-orang Darul Kuffar lebih benar jalannya dari pada orang-orang mukmin yang menetapi Daulah Islamiyyah (Q.S. 4:51).
13 Jama’ah yang dimaksud di sini, adalah jama’ah yang seperti difahami kebanyakan orang, yakni satu kelompok yang di dalamnya ada kepemimpinan. Yang berangkat dari majlis ta’lim kemudian melebar pada pelaksanaan hasil ngaji sebatas yang mungkin dikembangkan di bawah sistem Darul Kuffar yang tengah berjalan. Bukan jama’ah dalam artian kekompakkan komando perjuangan Daulah Islamiyyah. Sebab jama’ah menurut kita adalah (Q.S.61:4), sedang menurut mereka adalah : Bersatu kita teguh, berserai kita runtuh. Sekedar untuk memelihara eksistensi ajarannya, bukan untuk memenangkan perang hingga tegak Hukum Islam ! Lebih jelas lihat pembahasan di point 4.13.2 buku ini.
14 Berangkat dari naluri pemberontakkan secara umum (hari ini) menjalar pada mujahid generasi kedua dan ketiga, ini tidak perlu disesali, toh lewat itu pula hidayah datang kepada kita. Namun bukan untuk dilestarikan, tetapi harus dibenahi di bawah sinaran ilmu.
15 Bolehlah kita sebut mereka sebagai muslim dzimi, agamanya islam tetapi lebih suka diayomi hukum Kuffar daripada dilindungi keadilan hukum islam lihat (Q.S. 4:60 dan 51).
16 Kasus kasus seperti ini seringkali dipaparkan Quran, di antaranya pada (Q.S.3:156, 8:49-51, 9:42, 9:81-83, 33:13-14). jadi kalau bertemu dengan orang seperti itu, jangan langsung terpancing emosi, ucapkan saja dalam hati Shodaqollohul ‘adzim, Maha Benar Alloh dan Maha Suci Dia yang telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang telah dilukiskan dalam kitabNya. Bila memungkinkan untuk didakwahi, anda dakwahi. Jika tidak do’akan saja semoga Alloh membuka hatinya, disamping tetap meneguhkan hati kita. Hati hati jangan sampai teracuni ocehan kaum Muawwiqin di antara mereka ! (Q.S. 33:18).
Advertisements