Ustadz Miftahul Fath berkata bahwa, silaturrahmi itu baru dikatakan bermanfaat (efektif) bila menghasilkan salah satu apalagi kalau keseluruhannya dari 4 hal berikut :

  1. Iman semakin meningkat.
  2. Wawasan ilmu semakin luas.
  3. Keikhlasan semakin tulus.
  4. Bertambah semangat kerja Fi sabilillah.

Sebab bila satupun dari hal di atas tidak ada, omong kosong namanya, sia sia ! Padahal mukmin yang berbahagia, adalah mereka yang paling jauh dari berbuat sia sia (Q.S. 23:3).

Berkenaan dengan maksud di atas maka penulis ingin mengajak sesama pejuang islam, untuk mengaso sejenak guna menajamkan hati dan fikir, melipat ganda potensi untuk kerja berikutnya. Mari kita renungkan kisah di bawah ini :

Andaikan saja anda bertemu seorang yang sedang bekerja terburu buru menebang sebatang pohon di hutan.

Anda bertanya                  :               “Apa yang sedang kamu kerjakan?”
Penebang pohon              :               “Tidak dapatkah anda melihat?”
Anda berseru                     :               “Kamu kelihatan letih! Berapa lama sudah kamu
mengerjakannya?”
Penebang pohon             :               “Lebih dari 5 jam, dan saya lelah! Ini benar benar kerja keras.
Anda bertanya                 :                
“Nah, kenapa kamu tidak beristirahat saja beberapa menit dan                                                                    mengasah geregaji itu ? Saya yakin kamu akan dapat bekerja
                                                                jauh lebih cepat.”
Penebang Pohon             :               “Saya tidak punya waktu untuk mengasah geregaji, saya terlalu
sibuk mengregaji !”
1

Bagaimana pendapat para ikhwan dengan jawaban penebang kayu tadi ? Dapatkah kita memaklumi ketidak sempatan dia mengawasi gregaji hanya karena alasan dia terlalu sibuk menggregaji…?? tentu saja tidak. Apa yang dilakukan penebang tadi, memang sebuah kerja keras, tetapi bukan sama sekali Kerja Cerdas. Aha ! Anda mulai menemukan perbedaan besar antara keduanya, Alhamdulillah………

Secara tidak sadar kita pun sering terjebak dalam aktivitas Kerja Keras seperti itu, terlalu sibuk memobilisasi jihad, hingga kecapaian di malam hari tanpa sempat tahajjud. Terlalu banyak aktivitas, hingga tidak kuat lagi shoum tathowwu. Terlalu banyak tempat yang diisi tausiyyah, hingga tidak sempat lagi menambah ilmu. Terlalu padat berceramah hingga tidak sempat lagi bertukar fikiran dengan sesama aparat guna memaksimalkan hasil kerja. Terlalu sibuk mendakwahi orang, hingga lupa mensu’akannya agar ia mendapat hidayah Alloh, seakan memberi petunjuk itu mutlak wewenang dan atas hasil upaya kita. Ya kita sudah letih bekerja keras, tapi bila itu bakan hasil dari kerja yang cerdas, seringkali malah lebih besar beban dari pada tiangnya…. runtuh…… Na’udzubillahi Min Dzalik.

Marilah kita duduk sejenak dan tajamkan gergaji ini, Bismillah…..

Kembali pada effektivitas yang memang harus menjadi pedoman hidup muslim tadi.Malah Nabi SAW ada bbersabda : Min husnil Islamil mar-i tarkuhu mala Ya’nihi [Termasuk baiknya nilai keislaman seseorang, bila ia mampu meningggalkan apa yang tidak berguna bagi dirinya – AL Hadists].

Bila ini dikaitkan dengan aktivitas para pejuang Daulah Islam dimanapun ia berada, disadari atau tidak, sering juga terjebak dalam perbuatan sia sia, ketika ia berinteraksi dengan saudaranya seagama namun bukan saudara senegara. Terutama ketika terlibat komunikasi tak terhindarkan2 dengan orang -orang pinggiran daulah3. Awalnya obrolan ringan, kemudian berkembang jadi diskusi panas, yang membuat sang mujahid lupa,tak sadar bahwa dia bicara dengan orang asing,yang tidak/ belum bisa diharap ikut memikirkan negara yang tengah dibelanya4.

Dirasa perlu untuk mengusulkan keseragaman bahasa menghadapinya, sebab setiap mujahid adalah duta daulah bila berhadapan dengan negara luar. Bagaimana anda bersikap, berkata dan bertindak, akan seperti itu pula mereka menilai daulah yang tengah anda perjuangkan! Satu dari sekian tugas mujahid adalah memelihara citra. Citra diri sebagai mujahid dan citra daulah islamiyah  yang di pertahankan! Jika sampai berlaku tak senonoh, yang dipertimbangkan bukan sekedar apa kata orang nanti, tapi terkait langsung dengan dosa dan tidak dosa, khianat atau setia5. Ingat…. diantara jenis penghianatan adalah menodai citra daulah!

Kesempatan ini sekaligus jadi ajakan kepada setiap mujahid dimanapun mereka berada untuk arif mengambil hikmah dari setiap kejadian, meski dari omongan yang paling menyakitkan sekalipun, berusahalah menemukan sisi kebenarannya. Untuk digunakan sebagai bahan perbaikan diri secara keseluruhan6.

Apa yang ditulis disini semata mata hasil perenungan pribadi, bukan sebagai standar jawaban atas nama  daulah islam berjuang. Sehingga bila saudara mendapati kelemahan di dalamnya. Maka Alloh dan rosulnya begitu pula kehormatan daulah islam berjuang tidaklah tercela karena kekeliruan saya dalam menjawabnya. Tugas para alim ulama7 lah untuk memperbaikinya. Demikian harap jelas8.

Saya sadari sepenuhnya, tulisan ini dibuat bukan karena diri sudah sempurna, ia hanya cerminan dari kelemahan saya yang sengaja diungkap dengan harapan dilemudian hari terwujud iklim perbaikan yang kondusif9. Hingga bisa mempercepat perbaikan diri saya sendiri.

Kepada para ikhwan pembaca, sudilah kiranya menyempatkan waktu sejenak, memohonkan ampunan pada Alloh untuk saya yang penuh dosa ini, mendo’akan agar terus dipandaikan dan dimudahkan melakukan bakti. Begitu pula untuk orang tua penulis yang telah bersabar membesarkan, hingga lewat asuhan beliau berdua10, akhirnya saya sempat silaturahmi dengan saudar saudara sekalian….

Di atas semua itu, bagi segenap jajaran ‘ Sesepuh mujahidin’ yang dengan penuh kesabaran telah mengahntar kita ke jalan jihad ini, semoga Alloh tetap memberkati umur umur mereka. Menurunkan janjiNya yang pernah tertuang lewat lisan Nabi SAW; “Bahwasanya Alloh malu” untuk menyiksa orang tua yang sampai beruban tetap (Memperjuangkan) Islam) (Al Hadist).

Terutama untuk para pemimpin Daulah Islamiyyah berjuang di bumi manapun mereka berjihad, semoga hidayah, Rahmat dan bantuan Alloh selalu tercurah kepada mereka, sebab hidayah berada di tangan pimpinan negara, membawa Barokah yang besar bagi seluruh rakyat berjuang. Insya Alloh, Amiin…..

Ya Alloh, limpahkanlah rahmat, hidayah, pertolongan dan perlindunganMu sepenuhnya kepada segenap jajaran Imaroh, yang mempertanggung jawababkan kami, dan rela menderita bagi berlanjutnya perjuangan ini, Amiin Ya Robbal ‘Alamiin……….

 

_________________________________________________________________
Catatan Kaki : 

1 Dikutip dari “7 kebiasaan manusia yang sangat efektif” Stephen R Covey, Bina Rupa Aksara 1994 hal 287. saya sangat menganjurkan ikhwan/akhwat membaca buku ini. Tentunya dengan tetapmengutamakan Quran dan Hadist Shahih sebagai batu uji bagi setiap pernyataan yang ada di dalamnya.

2 mungkin karena ikatan darah, tetangga, teman majlis ta’lim di sekitar tempat tinggal dsb. Ini terjadi terutama di dalam Daulah Islamiyyah Berjuang yang tersedesak sedemikian rupa hingga belum lagi memiliki teritorial yang secara nyata (Real) dikuasainga.
3 Mereka yang hari ini banyak bergaul dengan kita, sedikit atau banyak telah mengetahui fikiran kita, tetapi belum satu hati dan satu tanggung jawab. Orang seperti ini sering menyalurkan berita keluar kita (karena tidak merasa memiliki dan tidak mengetahui bahaya), sedang untuk masuk kedalam masih harus menjalani proses panjang. Di setiap Negara, daerah perbatasan memang selalu rawan.
4 Sang Mujahid kesal menghadapi saudara seagama yang lisannya menolak kehadiran Daulah Islamiyyah, mujahid tadi lupa bahwa yang dihadapi tersebut adalah rakyat yang negaranya memusuhi daulah Islamiyyah. Wajar saja sebenarnya kalau orang tersebut anti Daulah Islamiyyah.
5 Sedemikian pentingnya kita memelihara citra diri dan amal, para mujahid yang tengah bergriliya di Bumi Nusantara. Sampai menyisipkan dalam bai’ah negaranya : Tidak akan membuat noda atas Umat Islam Bangsa Indonesia !”
6 Bila nanti saya ungkapkan sisi sisi lemah yang biasa terjadi di antara kita, maka itu lebih banyak menyangkut kelemahan saya sendiri, sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyindir atau mengungkit ungkit masalah yang telah lewat. Atau kalaupun ada yang menyangkut kita, maka kita dalam arti kemerataannya.  Misalnya ketika saya menyoroti sisi lemah yang memang Sering di dapati di banyak daerah berjuang, sama sekali bukan ditujukan untuk ‘menggugat’  apa yang telah terjadi di tempat tertentu. Saya jelaskan demikian, dengan harapan tidak terjadi salah faham sesudahnya. Di sekeliling kita ada syetan, bahkan ia mengalir dalam tubuh setiap kita. Menurut Quran, si laknatulloh itu sering menyalib ukhuwah lewat keseleo lidah di antara kita (Q.S. 17:53). dan saya berlindung kepada Alloh dari kekeliruan mengungkapkan, yang bisa mengakibatkan salah terima dari tulisan ini.
7 Ulama yang dimaksud di sini bukanlah “Ulama yang anti Daulah Islamiyyah !”
8 Katakanlah : Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Robb kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat (Q.S. 34:50).
9 kondisi yang menghasilkan, menimbulkan, memberi dampak, dalam artian memungkinkan terwujudnya berbagai kebaikan. Sebab perkembangan pribadi terkait erat dengan lingkungan dimana dia tinggal. Itulah sebabnya orang yang telah membunuh 100 orang, ketika mau bertobat diperintahkan untuk memasuki lingkungan orang orang baik (hadist). Penulis berharap iklim perbaikan merata di antara kita. Hingga tiap orang terbantu karenanya.
10 Jasa orang tua membina/membesarkan kita, haram dilupakan oleh setiap mujahid. Al Quran sendiri membenarkan adanya proses tarbiyyah orang tua (kama Robbayanii Shogiiro, Q.S. 17:24). tugas kitalah untuk membawa mereka ke pangkuan Daulah Islamiyyah (Q.S.19:43) seperti Abu Bakar ra. Membawa orang tuanya ke hadapanRosululloh saw, agar ikut serta dalam perjuangan Islam ! (Masuk Islam Zaman itu berarti berjuang untuk Islam, bukan sekedar merubah status agama di KTP seperti kebanyakan orang hari ini !). sebab kita ingin dengan orang tua dan keluarga itu termasuk (Q.S. 13:22-24 dan Q.S. 52:21-28). Hari ini target pembinaan kita terkadang baru menyentuh personil mujahid saja, belum merata hingga ke istri anak dan orangtuanya. Sebuah tantangan sekaligus peluang baru bagi setiap petugas penerangan.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements