Tulisan ini merupakan Khutbah Imam/Panglima Tertinggi APNII Dalam Acara  Menyambut Tahun 1438 Hijriyah ( Semoga sampailah kiranya himbauan ini kepada seluruh kalangan Ummat Islam Bangsa Indonesia dan seluruh rakyat kaum muslimin, Insya Allah ) 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله الذى انعمنابنعمته الايمان والاسلام ـ اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسو له

اللهم صل وسلم على هذآلنبي  الكريم والرسول العظيم محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعه الى يوم الدين امبعد، قل الله تعالى ؛ وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ، وحدثنا عبدالله بن مسلمة حدثناعبدالعزيز عن ابيه عن سهل بن سعدقال مَاعَدُّوَا مِنْ مَبْعَثِ أَلنَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَلاَمِنْ وَفَاتِهِ مَاعَدُّوا إِلاَّمِنْ مَقْدَمِهِ الْمَدِيْنَةِ، فيا ايّهآلنّاس إِتَّقُواْ الله حق تقاته ولاتموتنّ الاّ وانتم مسلمون

 

Allahu Akbar …! Allahu Akbar …! Allahu Akbar …!

Alhamadulillah, hanya karena qadla dan qadar-nya Allah SWT, kita menyaksikan hadirnya tahun 1438 Hijriyah yang bertepatan dengan tanggal 2 Oktober 2016 Miladiyah. Karena itu wajib bagi kita untuk bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat ini, yaitu dengan meningkatkan kualitas iman dan kualitas Islam kita, sehingga kita sampai pada golongan muhsinin. Yaitu golongan manusia yang di dalam ibadahnya meyakini dan merasa terawasi oleh Allah SWT. Dengan kualitas itu, semoga kita sampai pada derajat taqwa yang sempurna, sehingga kita dapat masuk kedalam golongan yang dikriteriakan dalam nash; “inna akromakum ‘indallahi atqaakum _sesungguhnya yang paling mulia menurut Allah adalah yang bertaqwa”. Marilah kita bertaqwa kepada Allah SWT dengan taqwa yang sempurna, dan janganlah kita mati dalam keadaan kafir. Semoga kita termasuk orang yang menemui taqdir-Nya dalam keadaan khusnul khatimah dan di dalam sabilillah.

Allahu Akbar …! Allahu Akbar …! Allahu Akbar …!

Berkenaan dengan penetapan tarikh hijriyah, insya Allah Ummat Islam telah maklum dan mafhum. Sebagai penegasan, sebuah riwayat dalam Shakhih Bukhari menyatakan; “… Tidaklah mereka (para sahabat) menghitung penanggalan melainkan dari waktu kedatangan beliau (Muhammad Rasulullah SAW) di Madinah”. Selanjutnya, telah dikenal dalam sejarah, bahwa penetapan kalender hijriyah adalah dimulai pada masa khalifah Umar bin Khaththab. Dalam hal ini, perlu kita mengambil hikmah atas ijma’ para sahabat tersebut, terkait mengapa titik tolak kalender Islam di mulai sejak hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah.

Jika kita tela’ah dengan seksama, sungguh ijtihad para sahabat tersebut adalah benar dan luar biasa maknanya. Dimana hal tersebut merupakan penanda waktu dimulainya peradaban Islam dan sekaligus sebagai penanda waktu ditinggalkannya peradaban jahiliyah. Hal tersebut merupakan cermin keyakinan dari esensi syahadatain, yaitu menafikan yang bathil, yakni peradaban jahiliyah dan menetapkan yang hak, yakni peradaban Islam.

Inilah bagian dari totalitas Islam. Imam Asysyahid SM Kartosoewiryo dalam tulisannya yang termaktub dalam “Brosur Hijrah” telah menegaskan bahwa hijrah itu adalah meninggalkan system bathil dan menetapkan system alhaq dengan total, termasuk dalam hal ini adalah berkenaan dengan sistem waktu. Pentingnya sistem waktu di dalam Islam karena berkaitan dengan aqidah dan ibadahnya setiap mukmin.

Allahu Akbar …! Allahu Akbar …! Allahu Akbar …!

Dalam konteks peradaban, Allah SWT telah bersumpah atas sebuah masa dalam nash-Nya, karena peradaban jahiliyah, sesungguhnya manusia tidak akan selamat dari ancaman peradaban jahiliyah tersebut, kecuali manusia itu beriman, beramal shaleh, dan senantiasa menyampaikan al-haq dan ash-shabar.

Allah SWT telah memastikan, bahwa manusia yang hidup di dalam peradaban jahiliyah pasti merugi. Kerugian tersebut, bersifat materil dan immaterial. Realitas kerugian yang bersifat materil, adalah berkenaan dengan apa-apa yang dinikmati oleh manusia, berupa materi untuk hidupnya tidak dapat digolongkan kepada materi yang thayyibah apalagi kedalam tingkatan halal. Sebagai contoh berkenaan dengan makanan dan minuman yang diproduksi dan diperdagangkan oleh kaum jahiliyah di masa kini, sekilas pandang nampak baik, sesungguhnya makanan dan minuman tersebut jauh dari kelayakan untuk dikonsumsi oleh manusia, terlebih dalam jangka panjang. Demikian pula dengan kehalalan materi yang dinikmati di masa peradaban jahiliyah adalah jauh dari criteria halal.

Realitas ketidak-halalan adalah nampak dari system keuangan dan system ekonomi yang diberlakukan didalam peradaban jahiliyah, semuanya bersifat ribawi. Oleh karena demikian, kerugian yang bersifat materi tersebut akan berkait dengan kerugian yang bersifat immaterial.

Kerugian yang bersifat immaterial yang diderita oleh manusia yang hidup di dalam peradaban jahiliyah adalah berkenaan dengan keyakinan bathil yang dipaksakan dengan cara halus oleh penguasa kebathilan. Realitasnya, dengan paksaan yang halus tersebut, masyarakat jahiliyah tanpa sadar meyakini dan mengikuti keyakinan yang bathil. Tidak sedikit dari kaum muslimin Indonesia, dengan sadar atau tanpa sadar telah memandang kebathilan sebagai kebenaran.

Bahkan diantara mereka ada yang mempertahankan dan menularkan kebathilan yang dianggap sebagai kebenaran tersebut kepada masyarakat lainnya. Singkatnya, manusia yang hidup dalam peradaban jahiliyah adalah pasti rugi di dunia dan di akhirat. Dengan demikian tidak ada jaminan selamat dari Allah SWT, bagi manusia yang hidup dalam peradaban jahiliyah, kecuali mereka yang memasuki kriteria yang dikecualikan Allah SWT.

Allahu Akbar …! Allahu Akbar …! Allahu Akbar …!

Mereka yang akan selamat dari ancaman peradaban jahiliyah adalah mereka yang meyakini dan mengejawantahkan arkanul iman wa arkanul islam dengan tegas dan pasti. Insya Allah ummat Islam cukup maklum dan mafhum berkenaan dengan hal itu. Sebagai penegasan, berkaitan dengan momentum penyambutan tahun 1438 Hijriyah, kita ingin menegaskan terkait keyakinan yaumul qiyamah dalam persepektif politik.

Mengambil hikmah dari terminology yaumul qiyamah dalam arkanul iman, sesungguhnya  yaumul qiyamah dalam perspektif politik adalah hari kebangkitan peradaban Islam dan hancurnya peradaban jahiliyah. Kebangkitan dan kehancuran suatu peradaban adalah kepastian yang harus diimani, sebagaimana bergulirnya kekuasaan, dari kekuasaan yang bathil kepada kekuasaan yang haq dan atau sebaliknya. Oleh karena demikian, dunia yang sekarang dalam genggaman kaum jahiliyah modern, harus diyakini oleh umat Islam dan kaum muslimin pada umumnya, bahwa peradaban jahiliyah tersebut pasti hancur dan peradaban Islam pasti bangkit.

Bangkitnya peradaban Islam, sebagaimana yang telah kita yakini, hal itu tidak lepas dari af’alullah. Akan tetapi sehubungan dengan hal itu, Ummat Islam dan kaum muslimin diberikan tanggung jawab oleh Allah SWT untuk berperan aktif dalam mengawal kebangkitan peradaban Islam tersebut, sebagaimana yang telah disinyalir dalam nash dan hadits.

Dengan demikian, kewajiban Allah dan kewajiban manusia bagi tegaknya peradaban Islam adalah bagaikan hubungan positif dan negative. Dan insya Allah, hak Allah SWT akan tertunaikan oleh adanya pelaksanaan kewajiban Ummat Islam dan kaum muslim dalam menyongsong kebangkitan peradaban Islam. Demikian pula, insya Allah hak ummat Islam akan terpenuhi baik ketika di dunia maupun diakhirat, sehubungan kewajiban Allah SWT yang pasti ditunaikan oleh-Nya. Nash-Nya menegaskan, Allah SWT tidak akan pernah menyia-nyiakan iman seseorang, karena itu marilah kita mengimaniyaumul qiyamah dalam arti meyakini dengan tegas dan pasti terkait kebangkitan peradaban Islam dan kehancuran peradaban jahiliyah.

Sebagai wujud keyakinan terhadap kebangkitan peradaban Islam, kita telah menetapkan titik tolakayyamillah sebagai momentum perubahan total bagi kehancuran peradaban jahiliyah di Indonesia khususnya dan peradaban jahiliyah di dunia pada umumnya.

Allahu Akbar …! Allahu Akbar …! Allahu Akbar …!

Berdasarkan perhitungan waktu dan realitas kondisi yang berkembang di Indonesia dan di dunia pada umumnya, kini telah tiba sa’atnya untuk melanjutkan revolusi Islam yang tertunda sebagai jalan bagi terwujudnya kebangkitan peradaban Islam. Penjelasan proklamasi Negara Islam Indonesia telah menegaskan, “Insya Allah perang suci atau revolusi Islam itu akan berjalan terus”, oleh karena itu telah jatuh kewajiban bagi Ummat Islam dan kaum muslimin untuk melanjutkannya di masa kini. Marilah kita songsong kemenangan yang telah dekat waktunya dengan amal shaleh yang bernilai tertinggi dalam beribadah kepada Allah SWT, yaitu jihad fisabilillah. Bagi musuh, revolusi Islam itu akan dinggap sebagai bencana, oleh karena itu mereka akan mengantisipasinya dengan berbagai cara. Oleh karena demikian, janganlah kita gentar dengan provokasi yang menyatakan bahwa mujahid itu penebar kebencian dan pencipta bencana.

Ketahuilah dan yakinilah bahwa nash menegaskan, “membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan menimpakan bencana kepada musuh, adalah ditulis bagi mereka sebagai suatu amal saleh, dan dinilai sebagai perbuatan yang baik”. Sikap dan perbuatan umat Islam seperti inilah yang akan menyelamatkan manusia dari ancaman peradaban jahiliyah, sebagaimana dinyatakan dalam suratul ‘ashr.

Oleh karena itu, kita serukan kepada umat Islam dan kaum muslimin Indonesia, bahwa hal tersebut merupakan seruan yang hak. Dan apabila mendapat tantangan dari musuh, kita telah diperintahkan untuk bersabar, karena itu jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong.

Allahu Akbar …! Allahu Akbar …! Allahu Akbar …!

Dengan berbagai cara, pihak musuh melakukan antisipasi terhadap perjuangan Ummat Islam, dengan cara halus hingga cara kasar, bahkan termasuk di dalamnya, mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memalingkan konsentrasi Ummat Islam dalam melakukan wajib sucinya. Karena itu, sesuai dengan isyarat nash yang menegaskan, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Dengan fondasi ini, semoga ummat Islam mampu merealisasikannya dalam melawan pengalihan konsentrasi dari pihak musuh.  Realitas pengalihan konsentrasi umat Islam, baik dalam skala nasional maupun internasional telah cukup nyata. Termasuk dalam hal ini adalah berkenaan dengan pengalihan target revolusi Islam di Indonesia, mareka telah mengalihkan perhatian umat Islam dan kaum muslimin yang bersemangat untuk menegakkan Islam kepada target yang cukup sulit untuk digapai.

Mengambil hikmah dari perubahan kiblat shalat di masa nabi SAW. Kita menafsirkannya secara politik bahwa hal tersebut merupakan peralihan konsentrasi perjuangan dari target yang jauh kepada target yang lebih dekat, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, terlepas dari penilaian benar dan salah atas adanya medan jihad di luar Indonesia, kenyataannya pihak musuh telah diuntungkan, oleh karena sebagian umat Islam dan kaum muslimin Indonesia tertarik konsentrasinya untuk berjuang di luar Indonesia. Sehubungan dengan hal itu, bagi Umat Islam dan umumnya kaum muslimin Indonesia, kita nyatakan bahwa target perjuangan kita adalah pengancuran peradaban jahiliyah di Indonesia. Itulah target yang terdekat dan termudah untuk dijangkau.

Karena itu marilah kita berkonsentrasi untuk hal itu, dan tidak teralihkan pandangannya, walaupun target terjauh memerlukan umat Islam bangsa Indonesia. Insya Allah, Palestina akan terbantu, dan Baitul Maqdis akan kembali dalam kekuasaan Umat Islam, serta negara zionis Israel pasti binasa. Demikian halnya dengan wilayah-wilayah lain yang berada dalam genggaman kafirin wal musyrikin di Dunia.

Allahu Akbar …! Allahu Akbar …! Allahu Akbar …!

Dalam konteks pengejawantahan tsauratul Islam yang telah menjadi kebulatan tekad, marilah kita bersungguh-sungguh dalam proses i’daduts tsaurah yang telah ditentukan waktunya.  Koordinasi, konsolidasi, dan mobilisasi merupakan sesuatu yang pasti diperlukan dalam tsauratul Islam, sehingga tergalang sebuah kekuatan besar, yang dapat menghantam kekuatan yang anti revolusi Islam. Perang suci atau revolusi Islam itu bersifat amal jama’i, tidak mungkin dilakukan oleh seorang atau segelintir orang.

Karena itu, kita menyerukan kepada seluruh pemimpin jama’ah Darul Islam, yang didalam hatinya masih terpatri aqidah dan ideologi Islam bagi tegaknya Negara Kurnia Allah Negara Islam Indonesia untuk bersama-sama dalam hajat melanjutkan kembali tsauratul Islam. Demikian pula kepada seluruh kekuatan harakah Islam, yang di dalam darahnya mengalir semangat perjuangan demi tegaknya syari’at Islam di Indonesia, marilah kita berada dalam satu barisan untuk menghancurkan peradaban jahiliyah, bagi tegaknya peradaban Islam di Indonesia.

Tidak tertinggal dalam seruan ini, adalah kepada kaum muslimin  Indonesia dan atau rakyat Indonesia seluruhnya yang berharap adanya perubahan yang baik, selamat di dunia dan sejahtera di akhirat, ketahuilah sistem yang bathil hanyalah menimbulkan kerugian dan bencana. Sebuah spirit menegaskan, “tidak akan berubah nasib sebuah kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya”.

Allahu Akbar …! Allahu Akbar …! Allahu Akbar …!

Bismillahi tawakalna ‘alallah laa haula walaa quwwata illa billah.

Mardlatillah Madinah Indonesia , 01 Muharam 1438 H / 02 Oktober 2016 M

Komandemen Tertinggi APNII

Imam/Plm.T.APNII

ttd

(Muhammad Yusuf Thahiry)

Advertisements